TRIBUNJAKARTA.COM, PENJARINGAN - Belatung yang merayap hingga ke area permukiman dan bau busuk menyengat setiap pagi menghantui warga Rumah Susun (Rusun) Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, akibat tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut selama hampir dua tahun.
Kondisi tersebut membuat warga resah karena khawatir tumpukan sampah menjadi sumber berbagai penyakit.
Seorang warga Rusun Waduk Pluit, Siti Mariam, mengatakan sampah yang berada di dalam Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sudah menumpuk selama bertahun-tahun karena jarang diangkut.
Menurut dia, petugas hanya mendorong tumpukan sampah ke bagian dalam TPS sehingga volumenya terus bertambah.
"Kalau yang di dalam itu sudah hampir tiga tahun. Nggak pernah diangkut, cuma didorong-dorong terus, jadi makin penuh," ujar Siti, Selasa (14/7/2026).
Ia mengungkapkan bau menyengat menjadi persoalan yang paling dirasakan warga, terutama pada pagi hari.
Saat hujan turun, belatung dari tumpukan sampah bahkan menyebar hingga ke blok hunian.
"Baunya nggak ketulungan. Kalau hujan, belatung sampai ke Blok B. Itu menyebabkan penyakit," katanya.
Siti mengaku sudah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada petugas Suku Dinas Lingkungan Hidup. Namun hingga kini penanganan dinilai masih lambat.
"Katanya nggak ada jadwal, belum ada mobil. Saya sering lapor, tapi lambat penanganannya," ucap dia.
Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) IV, Bahrudin, membenarkan bahwa tumpukan sampah di TPS Rusun Waduk Pluit sudah berlangsung hampir dua tahun.
Ia menjelaskan, petugas kebersihan UPRS hanya bertugas mengangkut sampah dari saluran pembuangan menuju TPS.
Selanjutnya, pengangkutan ke tempat pembuangan akhir menjadi kewenangan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Satpel Lingkungan Hidup Kecamatan Penjaringan. Informasinya armada truk berkurang atau terbatas, kemudian kuota pembuangan di Bantar Gebang juga dibatasi," kata Bahrudin.
Menurutnya, pengangkutan terakhir dilakukan pada 3 Juli 2026.
Namun, sampah yang diangkut hanya berada di bagian luar TPS, sedangkan tumpukan lama di bagian dalam masih belum tersentuh.
Akibatnya, bau busuk masih dirasakan warga, terutama penghuni Blok A dan Blok 5 yang lokasinya paling dekat dengan TPS.
Bahrudin berharap pengangkutan sampah dapat dilakukan secara rutin sedikitnya tiga kali dalam sepekan serta adanya penambahan armada truk agar persoalan tersebut tidak terus berulang.
"Kalau dua minggu saja tidak diangkut, sampah pasti menumpuk lagi. Dampaknya bukan hanya lingkungan, tetapi juga kesehatan warga," ujarnya.
Setelah keluhan warga ramai dibicarakan dan viral di media sosial, petugas akhirnya mengerahkan truk dan alat berat untuk mulai mengangkut tumpukan sampah di TPS Rusun Waduk Pluit.