Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin
TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tasikmalaya mengungkap sosok A tersangka peledakan di Komplek Dadaha pernah terjerat kasus hukum pada tahun 2020.
Bahkan pascapeledakan pihak Kesbangpol tetap melakukan pengawasan dan pembinaan secara intensif terhadap mantan narapidana terorisme (eks napiter) di wilayahnya.
Langkah ini diambil guna mengantisipasi pergerakan mencurigakan pascainsiden ledakan yang terjadi di Komplek Olahraga Dadaha Kota Tasikmalaya pada Sabtu (11/7/2026) malam.
"Betul tersangka ini orang Tasik dan sepengetahuan kami yang bersangkutan eks napiter dan sudah berproses seperti biasa, ada pembinaan hingga sudah membaur," ucap Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Tasikmalaya Ade Hendar ditemui TribunPriangan.com, saat mendampingi Wali Kota meninjau TKP ledakan, Selasa (14/7/2026).
Ade mengaku, status tersangka pun pernah terjerat kasus hukum yang sama tapi sudah selesai dan kembali ke NKRI.
Baca juga: Viman Alfarizi Tinjau Lokasi Ledakan di Kompleks Dadaha Tasikmalaya
"A ini tersangkut kasus tahun 2020, yang jelas dia eks napiter," kata Ade.
Namun, Ade tidak bisa merinci jumlah eks napiter yang ada di Kota Tasikmalaya dan harus dicek dulu data pastinya.
"Untuk urusan data itu harus buka lagi, khawatir salah, yang jelas tersangka ini eks napiter, urusan angka harus benar dan tidak boleh nebak-nebak," ucapnya.
Adapun sampai saat ini Kesbangpol terus melakukan pembinaan. Karena proses ini melibatkan lintas sektoral.
"Sudut pandang Kesbangpol pola pembinaan tidak hanya di kita saja, instansi lain ada, kita lebih ke salah satunya dengan deradikalisasi. Lalu, saya tahu A ini komunikasinya seperti biasa, buktinya berdagang dan membaur seperti yang lain," tuturnya.
Ditanyai soal aksi spontan yang dilakukan tersangka, ia menyebut sebuah aksi yang seharusnya tidak dilakukan secara luar biasa.
"Kalau kami melihat sebagai persaingan dagang saja, dan kita tidak melihat ruang-ruang itu. Lalu, tidak monitor soal adanya ejekan hingga berujung tindakan, hanya spontanitasnya ini lain gitu," jelas Ade.
Sedangkan untuk pembinaan terhadap eks napiter tetap dilakukan yakni dengan upaya deradikalisasi khususnya di Kota Tasikmalaya.
"Tetap dilakukan upaya tersebut bagi saudara kita eks napiter maupun yang masih berada kita upayakan preventif secara terus menerus dan semuanya orang Tasikmalaya," ungkapnya.(*)