2 Pekan Diterjang Gelombang Tinggi, Warga Pesisir Balikpapan Trauma, Ini Penjelasan BMKG
Amelia Mutia Rachmah July 14, 2026 10:09 PM

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Fenomena gelombang tinggi yang menerjang pesisir Balikpapan dalam beberapa waktu terakhir dipastikan bukan terjadi tanpa sebab.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi angin monsun Australia yang menguat serta keberadaan Siklon Tropis Buffy.

Kombinasi kedua fenomena atmosfer itu meningkatkan kecepatan angin di atas permukaan laut sehingga memicu terbentuknya gelombang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal di perairan Kalimantan Timur.

Meski sempat mencapai ketinggian 1,25 hingga 2 meter, BMKG memperkirakan kondisi perairan akan berangsur normal dalam dua hingga tiga hari ke depan seiring melemahnya Siklon Tropis Buffy yang bergerak menuju daratan Tiongkok.

GELOMBANG BESAR - BMKG Balikpapan. Selain mengakibatkan satu orang meninggal dunia, gelombang besar juga merusak sejumlah bangunan di kawasan Pantai Klandasan. 
GELOMBANG BESAR - BMKG Balikpapan. Selain mengakibatkan satu orang meninggal dunia, gelombang besar juga merusak sejumlah bangunan di kawasan Pantai Klandasan.  (TRIBUNKALTIM.CO/Zainul)

Namun, lembaga tersebut tetap meminta nelayan maupun masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Balikpapan dan Penajam Paser Utara untuk tidak lengah serta terus mengikuti informasi cuaca terbaru sebelum beraktivitas di laut.

Baca juga: SMKN 4 Balikpapan Terima 432 Siswa Baru, Jurusan Perhotelan dan Kuliner Jadi Favorit

Imbauan itu disampaikan setelah dua kejadian gelombang tinggi dalam kurun dua pekan terakhir menyebabkan satu orang meninggal dunia serta merusak sejumlah bangunan di kawasan Pantai Klandasan.

BMKG Jelaskan Penyebab Ombak Membesar

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, mengatakan angin monsun Australia yang bertiup dari arah tenggara menuju barat laut menjadi faktor utama meningkatnya tinggi gelombang.

Fenomena tersebut diperkuat oleh keberadaan Siklon Tropis Buffy yang berkembang di sekitar Laut Filipina bagian timur laut.

"Percepatan angin akibat siklon tersebut membuat gesekan antara angin dan permukaan laut menjadi lebih intens, sehingga memicu gelombang tinggi di sejumlah wilayah, termasuk Balikpapan dan Penajam Paser Utara," ujar Huda kepada Tribunkaltim.co, Selasa (14/7/2026).

Ia menjelaskan, tinggi gelombang saat kejadian berada pada kisaran 1,25 hingga 2 meter. Kondisi itu jauh di atas karakteristik normal perairan Kalimantan Timur yang umumnya memiliki tinggi gelombang kurang dari 1,25 meter.

Baca juga: Ombak Besar Hancurkan Rumah di Klandasan, BMKG Ungkap Penyebab Gelombang Tinggi di Balikpapan

Secara geografis, perairan Kalimantan Timur tergolong relatif dangkal dan terlindungi gugusan Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara sehingga kejadian gelombang tinggi seperti ini tidak sering terjadi.

Risiko Meningkat bagi Nelayan dan Aktivitas Pesisir

BMKG menilai kondisi tersebut meningkatkan risiko terhadap nelayan tradisional yang menggunakan perahu berukuran kecil, pelaku wisata bahari, hingga masyarakat yang beraktivitas di sepanjang pesisir.

Meski tren gelombang diperkirakan menurun, BMKG mengingatkan aktivitas di laut lepas tetap berbahaya apabila kecepatan angin masih melebihi 30 kilometer per jam.

"Diperkirakan tinggi gelombang dalam dua hingga tiga hari ke depan akan terus menurun hingga di bawah 1,25 meter. Namun kami tetap mengimbau masyarakat pesisir dan nelayan untuk waspada. Jika kecepatan angin masih di atas 30 kilometer per jam, aktivitas di laut lepas tetap berisiko tinggi," jelas Huda.

Warga Pesisir Masih Dihantui Rasa Takut

Penjelasan BMKG tersebut muncul setelah warga pesisir Balikpapan masih merasakan trauma akibat dua kejadian gelombang tinggi yang terjadi dalam dua pekan terakhir.

Baca juga: Merantau ke Balikpapan demi Istri, Leo Berburu Kerja di Job Market Fair 2026

Samsul Bahri (48), warga pesisir Klandasan, mengaku baru pertama kali menyaksikan ombak menghantam pantai dengan kekuatan sebesar itu.

"Biasanya ombak di sini tidak terlalu besar. Kemarin gelombangnya sampai menghantam bibir pantai dengan keras sampai ada rumah warga yang roboh di sana. Kami jadi takut kalau cuaca berubah, apalagi rumah kami dekat pantai," ujarnya kepada Tribunkaltim.co.

Hal serupa dirasakan Nurhayati (52). Sejak kejadian tersebut, ia memilih membatasi aktivitas keluarganya di sekitar pantai, terutama ketika angin mulai bertiup kencang.

"Kalau angin mulai kencang sekarang kami langsung mengingat kejadian kemarin. Anak-anak juga kami larang bermain terlalu dekat pantai karena khawatir gelombang datang tiba-tiba," katanya.

BMKG kembali mengingatkan masyarakat agar selalu memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini sebelum melaut maupun beraktivitas di kawasan pantai guna mengurangi risiko akibat cuaca ekstrem. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.