BANGKAPOS.COM - Pendakwah kondang Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah kembali menjadi pusat perhatian publik.
Figur ulama yang dahulu sempat viral akibat kontroversi ucapan kurang pantas kepada pedagang es teh ini kini terseret dalam pusaran kasus hukum.
Namanya secara mengejutkan disebut menerima aliran uang sebesar Rp100 juta dalam sidang dugaan korupsi proyek pembangunan jalur ganda kereta api Solo-Semarang Segmen 1 (JGSS) dengan terdakwa Bupati Pati nonaktif Sudewo.
Nama Gus Miftah muncul ketika Jaksa Penuntut Umum (JPU) memeriksa mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek JGSS, Dheki Martin, sebagai saksi di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (13/7/2026).
Saat mengonfirmasi identitas penerima dana tersebut, jaksa bahkan mengaitkan sosok Gus Miftah dengan peristiwa yang pernah ramai diperbincangkan masyarakat.
"Gus Miftah itu yang kemarin ramai gara-gara penjual es?," tanya jaksa kepada Dheki.
"Iya," jawab Dheki.
Jaksa kemudian kembali memperjelas sosok yang dimaksud.
"Dia juga dapat duit itu 100 juta rupiah. Supaya orang tahu, supaya orang di Pati juga tahu," imbuh jaksa.
"Gus Miftah yang rambutnya gondrong dapat duit dari bapak (Dheki) dari duit proyek supaya orang tahu," imbuhnya.
Jaksa juga menggali keterangan Dheki terkait kedatangan seorang pria bernama Nur Hidayat ke kantornya ketika proyek JGSS masih berlangsung.
Menurut Dheki, Nur Hidayat datang untuk memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan keinginannya agar dapat ikut terlibat dalam proyek pembangunan jalur ganda kereta api tersebut.
"Yang saya tahu, pertama kali tamu yang datang ke kantor adalah Pak Nur Hidayat. Beliau menyatakan ingin turut serta dalam pembangunan proyek JGSS 1," jelas Dheki.
Ia menyampaikan, dirinya tidak dapat mengakomodasi keinginan Nur Hidayat karena proyek tersebut telah memiliki pemenang tender resmi.
Setelah itu, Nur Hidayat diarahkan untuk berkomunikasi langsung dengan pihak kontraktor pelaksana, Feri Septa alias Gareng.
Nur Hidayat kemudian menyampaikan bahwa dirinya bekerja di bawah arahan Sudewo.
"Waktu itu sempat mengatakan, saya kerja dengan Pak Sudewo sekarang," imbuh Dheki.
Proyek Jalur Ganda Solo-Semarang Segmen 6 (JGSS 6) yang menyeret nama Sudewo memiliki nilai kontrak sekitar Rp 143 miliar hingga Rp 144 miliar.
Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum KPK di Pengadilan Tipikor Semarang, Sudewo diduga menerima fee haram sebesar 0,5 persen dari nilai proyek atau sekitar Rp 721,5 juta.
Selain perkara dugaan korupsi proyek jalur ganda kereta api pada Kementerian Perhubungan, Sudewo juga didakwa melakukan tindak pidana pemerasan dan suap terkait jual beli jabatan perangkat desa di lingkungan Kabupaten Pati.
Gus Miftah diketahui belum berkomentar soal namanya yang disebut dalam sidang kasus Sudewo tersebut.
Jauh sebelum namanya disebut dalam persidangan tersebut, Gus Miftah lebih dulu menjadi sorotan publik akibat potongan video ceramahnya yang viral pada November 2024.
Inilah momen ketika publik mengingat kembali rekam jejaknya yang sempat dinilai menghina penjual es teh.
Dalam video itu, ia melontarkan ucapan kepada seorang pedagang es teh bernama Sunhaji yang tengah menjajakan dagangannya saat acara pengajian.
Ucapan tersebut menuai kritik luas karena dianggap merendahkan pedagang.
Video itu pun menyebar di berbagai platform media sosial dan memicu kecaman dari warganet.
Menyusul polemik yang berkembang, Gus Miftah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Ia mengakui ucapannya merupakan sebuah candaan yang dinilai berlebihan dan menyatakan akan meminta maaf langsung kepada Sunhaji.
"Maka untuk itu, atas candaan kepada yang bersangkutan, saya akan meminta maaf secara langsung. Mudah-mudahan dibukakan pintu maaf untuk saya," ujar Gus Miftah.
Ia juga meminta maaf kepada masyarakat yang merasa terganggu atas kegaduhan tersebut serta mengaku akan menjadikan peristiwa itu sebagai bahan introspeksi agar lebih berhati-hati saat berbicara di depan publik.
Kontroversi tersebut berujung pada keputusan Gus Miftah mundur dari jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan pada 6 Desember 2024.
Dalam konferensi pers di Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, Yogyakarta, Gus Miftah menegaskan pengunduran dirinya bukan karena tekanan dari pihak mana pun.
"Saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tugas saya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan," ujarnya.
Ia mengatakan keputusan tersebut diambil sebagai bentuk rasa hormat, cinta, dan tanggung jawab kepada Presiden Prabowo Subianto serta masyarakat Indonesia.
Kini, nama Gus Miftah kembali menjadi perhatian setelah disebut dalam persidangan dugaan korupsi proyek jalur ganda kereta api.
Adapun penyebutan namanya dalam sidang merupakan bagian dari proses pembuktian yang sedang berlangsung di pengadilan, sementara perkara tersebut masih terus bergulir.
Terleas dari itu, mari simak lagi sosok Gus Miftah lebih jauh.
Gus Miftah sebenarnya adalah orang Lampung.
Pemilik nama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman ini lahir di Lampung pada 5 Agustus 1981.
Umur Gus Miftah saat ini adalah 43 tahun.
Gus Miftah merupakan seorang mubalig dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta.
Ia merupakan keturunan ke-9 dari Kyai Ageng Hasan Besari, yaitu seorang pendiri Pesantren Tegalsari di Ponorogo.
Terkait pendidikan, Gus Miftah adalah lulusan Pondok Pesantren Bustanul Ulum Jayasakti, Lampung Tengah.
Lulus dari ponpes tersebut, ia melanjutkan pendidikan di UIN Sunan Kalijaga dengan mengambil Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah pada tahun 1999.
Gus Miftah diketahui menikah pada 2004 silam, dirinya resmi mempersunting perempuan bernama Ning Astuti.
Dari pernikahan tersebut, Gus Miftah dan Ning Astuti dikaruniai dua orang buah hati bernama Atqiya Maulana Habiburrohman dan Mufti Nabil Ulayya Mecca.
Gus Miftah mulai berdakwah sejak tahun 2000-an saat beliau masih berusia 21 tahun.
Perjalanan dakwahnya dimulai ketika beliau sering salat di musala sekitar daerah Sarkem, yang merupakan area lokalisasi di Yogyakarta.
Karena memiliki niatan berdakwah, Gus Miftah lantas mulai rutin menggelar kajian agama di area tersebut.
Meski awalnya banyak tantangan, namun lambat laun sejumlah pekerja dunia malam tersebut menerima kehadirannya.
Saat perjalanan dakwahnya, ia kerap mendapati keluh kesah para pekerja dunia malam yang kesulitan mendapat akses kajian agama.
Gus Miftah lantas melanjutkan perjalanan dakwahnya ke kelab malam dan juga salon plus-plus.
Sejak lima tahun terakhir, langkahnya pun didukung oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya asal Pekalongan.
Nama Gus Miftah mulai diperbincangkan publik ketika video dirinya saat memberikan pengajian di salah satu kelab malam di Bali, viral di media sosial.
Pada 2011, Gus Miftah kemudian mendirikan ponpes Ora Aji.
Jika pada umumnya banyak nama pondok pesantren yang menggunakan bahasa Arab, berbeda dengan pondok pesantren milik Gus Miftah.
Ia memilih menggunakan bahasa Jawa yakni Ora Aji yang memiliki makna mendalam, yakni tidak berarti.
Tujuan Gus Miftah menyematkan nama tersebut lantaran memiliki filosofi, yakni tak ada seorang pun yang berarti di mata Allah selain ketakwaan.
Di ponpesnya tersebut, Gus Miftah menampung para santri yang sebagian di antaranya adalah anak-anak jalanan, punk, dan mantan preman.
Pada 2019, nama Gus Miftah semakin dikenal publik usai dirinya ramai diperbincangkan saat mendampingi artis kenamaan, Deddy Corbuzier mengucap dua kalimat syahadat. (Tribun Jakarta/ Tribun Cirebon/kompas.com/ Bangkapos.com)