Tinjau Pembibitan di Bener Meriah, Mentan Pastikan Keberlanjutan 17 Juta Batang Kopi Gayo untuk Aceh
Mawaddatul Husna July 15, 2026 02:54 AM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Bustami | Bener Meriah

TribunGayo,com. REDELONG - Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman meninjau kebun perbenihan kopi di Kampung Rimba Raya KM 60, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, Selasa (14/7/2026).

Pantauan wartawan TribunGayo,com di lokasi, kedatangan Mentan turut didampingi Wakil Gubernur Aceh, masing-masing Bupati dari Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues beserta sejumlah rombongan.

Kedatangan Mentan bertujuan untuk memastikan keberlanjutan program pengembangan Kopi Gayo melalui penyaluran bantuan 17 juta batang bibit kopi unggul yang mencakup lahan seluas 17.300 hektare di seluruh wilayah Aceh.

Langkah taktis ini diambil guna memastikan kualitas bibit kopi sebagai pondasi utama untuk mendongkrak produktivitas lahan.

Kemudian meningkatkan kesejahteraan pekebun, sekaligus memperkuat posisi tawar Kopi Gayo di pasar internasional.

Sementara dalam peninjauannya, Mentan Amran mengekspresikan kepuasannya terhadap kualitas tata kelola pembibitan di Bener Meriah yang dinilai memenuhi standar tinggi.

Ia menegaskan, Kementan siap memperluas alokasi bantuan serupa pada tahun anggaran 2027, dengan syarat para petani merawat bibit yang telah diberikan dengan optimal.

"Pembibitan disini sangat bagus. Saya senang, tolong betul-betul dikawal. Kami sangat puas.

Insya Allah tahun depan (2027) akan kita tingkatkan lagi alokasinya, yang penting tanaman ini dirawat dengan baik oleh petani," ujar Amran.

Kementerian Pertanian Telah Salurkan Bantuan Pengembangan Komoditas Kopi

Disisi lain, Mentan Amran juga memberikan apresiasi tinggi kepada jajaran Dinas Pertanian daerah dan para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang terus mendampingi petani mulai dari proses pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan secara berkelanjutan.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan telah menyalurkan bantuan pengembangan komoditas kopi di bumi Aceh dengan cakupan wilayah mencapai 17.300 hektare yang memuat total 17 juta batang bibit.

Program strategis ini diproyeksikan mampu menyuntik pertumbuhan pendapatan para pekebun lokal hingga menyentuh angka Rp 4 triliun.

Namun, Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berhenti di sini.

Kementan berkomitmen untuk kembali memperluas dan meningkatkan alokasi program bantuan ini pada tahun anggaran 2027 mendatang, dengan satu syarat utama.

​"Insya allah tahun depan kita tingkatkan lagi. Yang penting tanaman ini dirawat dengan baik oleh seluruh petani penerima, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan," tegasnya.

Ia juga meminta pemerintah daerah dan para penyuluh untuk terus mengawal pemeliharaan tanaman secara konsisten.

Kopi Gayo Miliki Keunggulan Komparatif

Mentan mengatakan komoditas Kopi Gayo dinilai memiliki keunggulan komparatif yang kuat.

Hal ini karena Kopi Gayo tidak hanya unggul dari segi cita rasa, melainkan juga telah mendapatkan rekognisi luas di tingkat global.

Dalam kesempatan tersebut, Mentan Amran membagikan memori personalnya saat melakukan lawatan diplomatik ke kawasan Amerika Latin beberapa waktu lalu.

"Kopi ini sudah mendunia. Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan ke Meksiko dan Argentina, saya bertemu Presiden Amerika Serikat ke-42 Bill Clinton.

Yang dibahas justru Kopi Gayo. Saya terharu karena itu menunjukkan Kopi Gayo benar-benar sudah dikenal dunia," cerita Amran.

​Berangkat dari potensi besar tersebut, Amran memasang target tinggi untuk nilai ekspor kopi Indonesia.

Saat ini, nilai ekspor kopi nasional tahun 2025 telah mencapai Rp 40 triliun.

​"Bagaimana Kopi Gayo menggetarkan dunia. Bila perlu seluruh dunia mencicipi Kopi Gayo.

Ke depan harus kita dorong nilai ekspor kita menjadi Rp 100 triliun, bahkan kalau bisa Rp 200 triliun.

Potensinya sangat besar dan itu pasti bisa," serunya optimis.

Sementara terkait keluhan harga di tingkat petani, Mentan Amran justru membeberkan fakta menggembirakan.

Harga Kopi Gayo Merangkak Naik

Saat ini, harga kopi Gayo di lapangan mengalami lonjakan signifikan, merangkak naik ke level Rp 110.000 per kilogram dari posisi sebelumnya yang berada di kisaran Rp 50.000 per kilogram.

Kenaikan ini dinilai sebagai momentum emas untuk mengubah struktur kesejahteraan petani daerah.

​Guna mengamankan momentum pertumbuhan ini, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah merancang arsitektur penguatan sistem ekspor nasional.

Kebijakan ini diarahkan agar Indonesia tidak lagi sekadar berperan sebagai pemasok bahan baku mentah, melainkan bertransformasi menjadi penentu harga (price setter) komoditas perkebunan di pasar dunia.

​"Kita ingin Indonesia sebagai produsen memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Nilai tambah komoditas harus kembali kepada petani dan negara," jelas Amran.

​Menutup rangkaian kunjungan kerjanya di Serambi Mekah, Mentan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi membangun sektor perkebunan Aceh.

"Masyarakatnya pekerja keras, pemerintah daerah juga sangat mendukung. Ayo kita bangun Aceh dan sejahterakan petani lewat Kopi Gayo," demikian pungkasnya. (*)

Baca juga: BMKG: Bener Meriah Diprediksi Cerah Berawan Seharian Selasa 14 Juli 2026

Baca juga: Jembatan Wih Kanis di Bener Meriah Rampung, Peresmian Direncanakan Rabu Lusa

Baca juga: Harga Emas di Bener Meriah Stagnan, Warga Ramai Menjual untuk Kebutuhan Sekolah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.