Inggris diyakini memiliki kualitas yang cukup untuk menyingkirkan Argentina dalam laga semifinal Piala Dunia yang sarat gengsi, namun hal itu hanya bisa terjadi jika mereka mampu menetralkan ancaman dari Lionel Messi. Mantan bek Manchester United dan Arsenal, Mikael Silvestre, memperingatkan tim asuhan Thomas Tuchel bahwa bintang Inter Miami itu justru paling berbahaya ketika tampak tidak banyak bergerak, memantau permainan sambil mencari momen untuk menentukan kemenangan.
Rencana Silvestre untuk menghentikan sang GOAT
Saat The Three Lions bersiap menghadapi duel besar di Atlanta, sebagian besar pembahasan taktik berfokus pada bagaimana menghadapi Messi yang kini berusia 39 tahun namun tetap mematikan.
Silvestre, yang pernah berhadapan dengan legenda Argentina itu di ajang Liga Champions, menilai bahwa komunikasi di lini pertahanan akan menjadi faktor utama keberhasilan. Ia memperingatkan bahwa Inggris tidak boleh lengah, bahkan ketika Messi terlihat tidak terlibat dalam permainan.
“Inggris bisa menang jika mereka mampu mengendalikan permainan dan mengendalikan Messi. Itulah potongan utama dalam teka-teki. Saya tidak bermaksud menempel ketat padanya, tapi para pemain harus selalu waspada meski dia hanya berjalan, karena saat dia berjalan, dia sedang menyiapkan trik ajaibnya, menganalisis apa yang harus dia lakukan,” jelas Silvestre dalam podcast Could It Be Coming Home.
Ia menekankan bahwa lini belakang harus terus berkomunikasi dengan lini tengah untuk memantau pergerakan Messi di antara lini, menambahkan bahwa “ledakan kecepatannya dalam lima atau enam meter pertama” masih menjadi senjata mematikan.
Statistik berjalan yang melawan logika
Meskipun banyak yang menganggap kebiasaan Messi berjalan sebagai tanda penurunan fisik, data justru menunjukkan hal itu sebagai keputusan taktis yang matang. Statistik mencengangkan mengungkap bahwa Messi berjalan sepanjang 47% dari total jarak yang ia tempuh sepanjang turnamen ini.
Strategi penghematan energi tersebut memungkinkannya tetap segar untuk melakukan sprint cepat dan umpan kreatif yang membuatnya mampu bersaing dengan Kylian Mbappe dalam perebutan Sepatu Emas.
Silvestre mengenang pengalamannya sendiri saat mencoba menjaga pemain mungil penuh bakat itu: “Saya pernah bermain melawan Messi. Dia bisa tiba-tiba menghilang dari pengawasan. Dia bergerak ke area tertentu dan Anda bisa saja melupakannya. Anda harus berbicara lebih sering dari biasanya. Ini sangat penting terutama untuk empat pemain belakang, mereka harus saling memberi tahu apakah dia berada di bahu kanan atau kiri. Komunikasi antara bek dan gelandang menjadi kunci.”
Skuad Argentina yang menua memberi harapan bagi Inggris
Meski Argentina datang sebagai juara bertahan dan dikenal sebagai tim spesialis turnamen, Silvestre menilai kekuatan mereka kini menurun dibandingkan skuad yang menjuarai Piala Dunia di Qatar. Ia menyoroti bahwa kebergantungan Lionel Scaloni pada sebelas pemain inti yang sama bisa menimbulkan kelelahan, terutama setelah beberapa laga sistem gugur yang harus diselesaikan hingga perpanjangan waktu.
“Argentina memang mirip seperti empat tahun lalu, tapi tidak sepenuhnya sama karena mereka adalah tim yang menua,” ujar Silvestre. “Tahun ini, Inggris seharusnya bisa mengalahkan mereka. Ini bukan tim yang sama seperti empat tahun lalu. Secara fisik, mereka sudah memainkan banyak laga hingga babak tambahan waktu, dan pada titik tertentu mereka pasti akan kelelahan karena rotasi pemain yang minim. Selalu sebelas pemain yang sama yang menjadi starter, jadi ini tugas yang lebih mudah dibandingkan empat tahun lalu.”
Faktor keberuntungan bagi Albiceleste
Sementara Silvestre fokus pada aspek fisik dan taktik, Inggris juga harus memperhitungkan faktor historis yang terkait dengan wasit pertandingan. FIFA telah menunjuk wasit asal Amerika Serikat, Ismail Elfath, untuk memimpin laga semifinal ini — keputusan yang memicu perhatian karena Messi memiliki rekor kemenangan sempurna dalam pertandingan yang dipimpin oleh wasit MLS tersebut. Elfath juga menjadi ofisial keempat dalam final Piala Dunia 2022, yang semakin mengaitkannya dengan kesuksesan Argentina belakangan ini.
Kendati demikian, Silvestre tetap optimistis Inggris bisa melangkah ke final impian melawan Prancis, negaranya sendiri. Ia menegaskan bahwa Argentina “tahu kapan harus mempercepat permainan dan kapan memperlambat tempo,” namun menilai skuad Inggris saat ini memiliki kemampuan untuk mematahkan dominasi Amerika Selatan atas trofi tersebut. “Prancis lawan Inggris akan menjadi final yang menarik, karena semua orang sudah bosan menghadapi Argentina – Inggris harus mengalahkan mereka terlebih dahulu!”