TRIBUNNEWS.COM - Kasus peledakan bom rakitan di sekolah kembali terjadi.
Pada tahun 2025 lalu, seorang siswa berinisial F melakukan aksi peledakan di SMAN 72 Jakarta.
F meledakkan bom rakitan hingga membuatnya kritis dan sempat dirawat di rumah sakit.
Ternyata, F nekat melakukan aksi peledakan di dalam sekolah saat para siswa sedang bersekolah adalah karena merasa sakit hati sering dikucilkan di lingkungan pertemanan.
"Berdasarkan keterangan ABH motif yang disampaikan adalah rasa sakit hati terhadap lingkungan sekolah khususnya perlakuan dari sejumlah teman yang dinilai sering mengucilkan," kata Kabid Humas Polda Metro jaya, Kombes Pol Budi Hermanto.
F ternyata mendapatkan perundungan sejak duduk di bangku SMP dan ejekan-ejekan tersebut terus berlanjut hingga SMA.
Hal tersebut membuatnya terisolasi dan nekat melakukan aksi tersebut.
Setelah dipendam lama, perasaan sakit hati tersebut memuncak hingga pada saat salat Jumpat 7 November 2025, ia nekat melakukan peledakan.
Sebanyak 96 orang terdiri dari siswa, guru, dan warga sekitar mengalami luka-luka.
Tim Gegana Brimob dan Puslabfor Polri pun menemukan tujuh bom rakitan, empat di antaranya meledak dan tiga lainnya diamankan dalam kondisi aktif.
Baca juga: Cerita Teman Sekelas Siswa MAN 3 Padang yang Ledakkan Bom di Sekolah
Kasus serupa pun kembali terjadi, kali ini siswa berinisial R melakukan aksi peledakan di MAN 3 Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Selasa (14/7/2026).
Densus 88 Antiteror Polri pun turun langsung mendalami kasus ini.
Juri Bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana mengatakan, siswa berinisial R tersebut nekat melakukan peledakan karena terinspirasi dari aksi yang dilakukan di SMAN 72 Jakarta.
"Pelaku juga mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di SMA Negeri 72 Jakarta pada tahun 2025. Motif tersebut masih dalam proses pendalaman oleh tim penyelidik," kata Mayndra dalam keteranganya, Selasa (14/7/2026).
Dari pemeriksaan awal, sejumlah perangkat berhasil diamankan oleh pihak petugas keamanan lalu diserahkan ke polisi.
"Dari pemeriksaan awal, petugas mengamankan sejumlah barang, antara lain kotak hitam, tas hitam, telepon genggam, petasan, pisau, anak panah, kelereng, baut, dan beberapa barang lainnya," jelasnya.
Bom rakitan tersebut dirakit sendiri oleh R.
Ia juga menuturkan, bahan-bahan peledak didapatkan secara online tanpa sepengetahuan orang tuanya.
"Pelaku juga mengaku telah bergabung dalam sejumlah grup daring yang membahas pembuatan bahan peledak. Seluruh pengakuan tersebut masih dalam proses verifikasi dan pendalaman lebih lanjut oleh aparat penegak hukum," kata Mayndra.
R nekat melakukan aksinya tersebut ternyata juga karena ia merupakan korban perundungan.
Bahkan, teman satu kelasnya, BAL (17) menceritakan, R menjadi korban bullying di sekolah dan di lingkungan rumahnya.
Baca juga: Soal Ledakan di MAN 3 Padang, Targetkan Teman Sekelas hingga Pelaku Diduga Korban Bullying
"Dia memang pendiam karena sering di-bully. Di rumahnya pun dia sering kena bully," kata BAL, dikutip dari Kompas.com.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan bahwa perundungan yang dibiarkan bisa memicu trauma yang mendalam bahkan bisa menjadi penyebab tindakan destruktif yang membahayakan nyawa banyak orang.
Tak hanya pihak sekolah saja, keluarga, masyarakat, penegak hukum, serta pemerintah juga harus turun tangan untuk menghapuskan tindakan bullying bagi anak.
Kini, R tak hanya menjalani proses hukum, namun juga pendampingan psikologis.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto/Reynas Abdila/Abdi Ryanda Shakti)(Kompas.com, Rahmat Panji)