BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Pada awal tahun ajaran 2026/2027 ini, minimnya jumlah murid baru juga dirasakan oleh SDN Tunggul Irang Ulu, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.
Sekolah yang memiliki gedung dua lantai dan tenaga pendidik lengkap itu, sementara ini hanya memperoleh lima peserta didik baru melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) daring. Jumlah tersebut menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 10 siswa baru.
Kepala SDN Tunggul Irang Ulu, Heriadi, berharap masih ada tambahan pendaftar karena Dinas Pendidikan dan sekolah bersepakat pemperpanjang waktu penerimaan siswa.
Karena itu di SDN Tunggul Irang Ulu masih membuka kesempatan hingga 31 Agustus sebelum proses sinkronisasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Menurut Heriadi, minimnya jumlah siswa baru diduga dipengaruhi penerapan sistem pendaftaran online yang mengacu pada domisili. Akibatnya, calon siswa yang berada di luar wilayah yang ditentukan tidak dapat memilih sekolah tersebut saat proses pendaftaran.
Selain itu, persaingan dengan madrasah di sekitar lingkungan sekolah juga menjadi faktor lain. Tidak sedikit orangtua memilih menyekolahkan anaknya di madrasah karena kakak mereka lebih dulu bersekolah di sana. “Kalau kami lihat, anak usia SD di sekitar sini sebenarnya cukup banyak. Tetapi karena ada madrasah yang lokasinya dekat, banyak orangtua memilih melanjutkan anaknya ke sana,” kata Heriadi, Selasa (14/7).
Baca juga: Isi Keresahan Warga Saat Kebakaran Lahan di Gunungraja Tanahlaut Kalsel, Makin Meluas
Padahal, katanya, fasilitas sekolah dinilai memadai. SDN Tunggul Irang Ulu memiliki gedung permanen dua lantai yang mampu menampung hingga sekitar 200 siswa.
Seluruh guru kelas juga tersedia sehingga proses pembelajaran tidak terkendala kekurangan tenaga pendidik. Saat ini jumlah peserta didik dari kelas I hingga kelas VI hanya mencapai 42 orang. “Kami tidak memungut biaya apa pun. Bahkan seragam juga kami berikan gratis. Yang penting anak-anak mau bersekolah di sini,” cerita Kepsek Heriadi.
Serupa juga terjadi di SDN SN Kelayan Barat 2 Banjarmasin. Meski kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sudah dimulai sejak Senin (13/7), sekolah masih membuka penerimaan peserta didik baru secara offline untuk mengisi kuota.
Pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027, sekolah ini membuka kuota untuk dua rombongan belajar (rombel) dengan kuota masing-masing 28 murid. Namun, hingga saat ini jumlah pendaftar baru hanya mencapai 39 siswa.
Dari total dua rombel, satu kelas sudah terisi penuh sementara satu lainnya belum maksimal.
“Bisa dibilang satu kelas penuh satu lainnya belum,” kata Kepala SDN SN Kelayan Barat 2 Banjarmasin, Lisna Qadarsih.
Lisna menjelaskan, penurunan jumlah pendaftar dipengaruhi keberadaan sekolah lain yang berdekatan serta perubahan demografi. Banyak pasangan muda memilih tinggal di kawasan perkomplekan, sehingga jumlah anak usia sekolah di sekitar Kelayan Barat semakin berkurang.
“Mudah-mudahan sambil berjalan ini bertambah, kami buka jalur offline tak ada batas waktu yang penting sampe kuota penuh,” ujar Lisna Qadarsih.
Di sekolah tersebut kemarin juga dilakukan MPLS dengan Guru Pendampingan Khusus (GPK) bagi siswa inklusi (Anak Berkebutuhan Khusus). Sebanyak 39 siswa baru, termasuk 20 anak berkebutuhan khusus (ABK), mengikuti kegiatan yang dijadwalkan hingga Jumat (18/7) mendatang.
Sebanyak 10 GPK turut hadir mengenakan seragam hitam putih, mendampingi siswa inklusi di tengah aktivitas MPLS. Kehadiran mereka menjadi jembatan adaptasi agar anak merasa aman, tenang, dan mampu membaur dengan lingkungan barunya.
Tugas GPK sendiri antara lain menyederhanakan instruksi panitia, memodifikasi aktivitas yang berpotensi memicu masalah sensorik, serta membantu mengelola emosi anak ketika cemas atau tantrum di keramaian. (banjarmasinpost.co.id/saiful rahman/nurholis huda)