Kisah Sopir Sayur Berastagi Kehabisan Solar di Medan Usai Antre 6 Jam, "Lelah kalau Begini Terus"
Sinta Darmastri July 15, 2026 08:03 AM

 

TRIBUNSTYLE.COM - Bayangkan harus memulai hari sejak pukul 4 subuh, bukan untuk langsung memacu kendaraan mencari nafkah, melainkan untuk berdiri membeku dalam antrean tanpa kepastian di SPBU. Realitas pahit inilah yang kini menyelimuti Kota Medan dan sekitarnya.

Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kian hari kian mencekik mobilitas warga Sumatera Utara. Antrean kendaraan tampak mengular panjang, memicu kemacetan, hingga melumpuhkan aktivitas ekonomi warga di sekitar SPBU. Ironisnya, perjuangan panjang mengantre berjam-jam tak jarang berakhir dengan kekecewaan mendalam, pasokan solar habis tepat beberapa meter sebelum giliran mengisi tiba.

Kisah Perjuangan Aga Menjemput Kepastian

Di antara ribuan pengemudi yang terjebak dalam pusaran krisis ini, ada Aga. Ia adalah denyut nadi logistik pangan yang setiap harinya mengantar sayur-mayur segar dari dataran tinggi Berastagi menuju pasar-pasar tradisional di Kota Medan.

Pagi itu, tugas Aga mengantar bahan pangan telah usai. Mobil bak terbukanya pun sudah kosong. Namun, roda kendaraannya tidak bisa berputar kembali ke Berastagi karena tangki bahan bakarnya menipis. Kondisi ini memaksanya menyerah pada antrean panjang di SPBU Jalan Aksara, Kecamatan Medan Perjuangan.

"Saya menunggu sudah dari tadi pagi sebelum terang. Jam 4.00 WIB lah," ungkap Aga lesu.

Sambil menatap deretan kendaraan di depannya, Aga menghitung waktu. Ternyata sudah enam jam ia terjebak di area SPBU tersebut. Ada rasa cemas yang terus menghantui dadanya, khawatir jika solar subsidi tiba-tiba habis sebelum gilirannya tiba.

"Kami dari Berastagi, enggak bisa naik karena enggak cukup lagi minyak. Ya, terpaksa antre di sini lah. Semoga lah gak begini terus. Lelah juga kalau makan waktu 6 jam menunggu untuk isi BBM saja," harapnya cemas.

Baca juga: Biang Kerok Antrean Panjang SPBU Sumut Terungkap, Bobby Turunkan TNI-Polri demi Distribusi BBM

Pertamina Minta Maaf dan Janji Percepat Distribusi

Merespons situasi lapangan yang kian darurat, pihak Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut akhirnya angkat bicara. Mereka menyadari betul beban berat yang harus dipikul masyarakat akibat hambatan distribusi ini.

Fahrougi Andriani Sumampouw, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut, menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada seluruh masyarakat Sumatera Utara yang terdampak langsung oleh situasi ini.

"Kami menyadari bahwa masyarakat harus meluangkan waktu lebih lama untuk mendapatkan BBM, termasuk juga para pengemudi angkutan umum, pelaku usaha, pekerja, dan masyarakat yang membutuhkan BBM untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Atas kondisi tersebut, kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Sumatera Utara yang terdampak," ujar Fahrougi, Selasa (14/7/2026).

Fahrougi menjelaskan bahwa kelangkaan dipicu oleh lonjakan konsumsi yang cukup signifikan pasca-masa libur sekolah. Akibatnya, Pertamina perlu melakukan penyesuaian kapasitas angkutan serta frekuensi perjalanan (ritase) mobil tangki agar pasokan di SPBU kembali normal. Pihaknya juga menegaskan bahwa ketersediaan BBM di Fuel Terminal Medan Group sebenarnya berada dalam kondisi yang sangat aman dan terjaga.

(TribunStyle.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.