TRIBUNNEWS.COM - Timnas Prancis gagal ke final Piala Dunia 2026 setelah takluk 0-2 dari Spanyol pada laga semifinal yang berlangsung di Dallas Stadium, Texas, Amerika Serikat, Rabu (15/7/2026) dini hari WIB.
Dua gol kemenangan Spanyol dicetak Mikel Oyarzabal melalui titik penalti pada menit ke-22 dan Pedro Porro pada menit ke-58.
Sementara itu, lini depan Prancis gagal mencetak satu gol pun, termasuk sang kapten Kylian Mbappe.
Kekalahan tersebut sekaligus mengakhiri upaya Prancis untuk mencapai final Piala Dunia ketiga secara beruntun.
Padahal sebelum menghadapi Spanyol, Prancis dikenal sebagai tim dengan produktivitas gol tertinggi di Piala Dunia 2026.
Kehadiran Mbappe yang ditopang Michael Olise, Bradley Barcola, hingga Desire Doue membuat Les Bleus menjadi salah satu tim paling berbahaya di Piala Dunia 2026.
Baca juga: Jalan Identik Spanyol saat Juara 2010 dan di Piala Dunia 2026, La Roja Tinggal Selangkah Lagi
Penilaian tersebut sebelumnya pernah disampaikan football enthusiast, Gigih, dalam podcast Super Taktik bertajuk "Prediksi Grup G-L Piala Dunia 2026, Grupnya Para Calon Juara" di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
"Mbappe di Piala Dunia sekarang menjadi target man yang akan dibantu oleh Dembele," ujar Gigih.
Namun, performa lini serang Prancis tidak terlihat pada laga semifinal melawan Spanyol.
Mbappe gagal mencetak gol sekaligus menutup Piala Dunia 2026 dengan koleksi delapan gol.
Baca juga: FIFA Langgar Tradisi Demi Tonton Justin Bieber dan Shakira Bernyanyi di Final Piala Dunia 2026
Usai pertandingan, Kylian Mbappe menyoroti pendekatan taktik yang diterapkan pelatih Prancis, Didier Deschamps, saat menghadapi Spanyol.
Menurut Mbappe, strategi yang digunakan membuat Prancis kalah jumlah di lini tengah sehingga Rodri dan Fabian Ruiz leluasa mengendalikan jalannya pertandingan.
"Kami bermain tiga lawan dua di lini tengah dan melawan Spanyol, itu sulit," kata Mbappe setelah pertandingan, dikutip dari ESPN.
"Fabian [Ruiz] dan Rodri punya banyak waktu untuk bermain. Ada kurangnya komunikasi dalam melakukan pressing. Saya pikir seharusnya kami melakukan pressing man-to-man dan memaksa mereka untuk berlari bersama kami."
Mbappe menambahkan bahwa skema permainan yang dirancang tim pelatih tidak mampu dijalankan dengan baik di lapangan.
Ia menilai Prancis gagal mengeksekusi rencana permainan sehingga Spanyol bisa mendominasi penguasaan bola dan tempo pertandingan.
"Kami tidak memainkan permainan yang kami inginkan, baik secara teknis maupun taktis."
"Ketika Anda tidak melakukan apa yang harus Anda lakukan di semifinal Piala Dunia, Anda tidak akan menang. Spanyol menghormati rencana permainan mereka dan apa yang biasanya dilakukan tim tersebut. Mereka suka mengontrol bola dan tempo permainan. Rencana kami adalah menekan mereka di lini depan sehingga mereka tidak dapat membangun ritme permainan mereka."
"Karena mereka lebih baik dari kita dalam mengendalikan permainan. Kita tidak berhasil melakukannya. Kita terlalu ceroboh secara teknis. Kita tidak bisa memberi mereka ancaman padahal kita bisa," tambah Mbappe.
Selain menyoroti aspek taktik, penyerang Real Madrid tersebut juga mengakui bahwa para pemain Prancis melakukan banyak kesalahan teknis, terutama setelah berhasil merebut penguasaan bola.
"Bahkan ketika kami berhasil merebut bola, sentuhan pertama kami tidak cukup baik. Itu menyebabkan kekalahan. Ini kekecewaan yang besar. Tetapi jika kita objektif, kita tidak mengerahkan semua kemampuan untuk lolos ke final," ujar Mbappe.
Menjelang akhir pertandingan, frustrasi Mbappe terlihat ketika bertabrakan dengan kiper Spanyol, Unai Simon, yang membuatnya menerima kartu kuning pada menit ke-86.
Sebagai kapten tim, Mbappe mengaku siap memikul tanggung jawab atas kegagalan Prancis melaju ke final.
"Sebagai kapten, saya harus memikul semua tanggung jawab dan saya tidak punya masalah dengan itu."
"Kami ingin lolos ke final. Tapi kami tidak berhasil," pungkas Mbappe.
(Tribunnews.com/Isnaini)