Cara Tobat Nasuha Menurut Buya Yahya, Cukup Menyesal, Tinggalkan Dosa dan Jangan Lakukan Ini, Fatal!
Nurul Hayati July 15, 2026 12:23 PM

SERAMBINEWS.COM - Pendakwah Buya Yahya memberikan penjelasan mengenai makna tobat nasuha saat menjawab pertanyaan seorang jemaah yang mengaku tengah menghadapi berbagai persoalan hidup, mulai dari ekonomi, karier hingga kesehatan.

Jemaah tersebut mengaku khawatir berbagai cobaan yang dialaminya merupakan akibat dari dosa-dosa yang pernah dilakukan.

Ia pun meminta penjelasan mengenai tahapan bertobat dengan benar, termasuk terkait dosa kepada orang tua.

Menanggapi hal itu, Buya Yahya menegaskan bahwa seseorang tidak boleh mengaitkan sakit dengan banyaknya dosa.

"Seorang yang melakukan dosa tidak harus sakit. Jadi jangan sampai kita merasa berdosa di saat sakit saja," ujar Buya Yahya dikutip dari YouTube Al Bahjah, Rabu (15/7/2026).

Ia kemudian mencontohkan Fir'aun yang sepanjang hidupnya tidak dikenal sebagai sosok yang sering mengalami sakit, padahal memiliki dosa yang sangat besar.

Baca juga: Tak Bisa Bertemu Orang yang Pernah Disakiti? Ini Cara Tobat Menurut Buya Yahya

"Firaun selama hidupnya enggak sakit dia. Jadi kalau orang akan tobat kalau sudah sakit ini berbahaya juga. Di saat tidak sakit dipikir dia enggak punya dosa," katanya.

Meski demikian, Buya Yahya menjelaskan bahwa bagi seorang mukmin, sakit yang diberikan Allah dapat menjadi penghapus dosa dan mengangkat derajat apabila dihadapi dengan sabar.

Menurutnya, langkah pertama menuju tobat nasuha adalah menyadari terlebih dahulu kesalahan dan dosa yang telah diperbuat.

"Menyesali dosa-dosa kita itu dulu. Baru setelah menyesal itulah sah tobat," jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa salah satu keadaan paling berbahaya adalah ketika seseorang berbuat dosa tetapi tidak merasa bersalah.

Karena itu, setiap muslim dianjurkan untuk melakukan introspeksi terhadap amal perbuatannya, mulai dari apa yang dilihat mata, apa yang diucapkan lisan hingga perilaku sehari-hari.

Baca juga: Hukum Muslim Meneliti Babi untuk Riset Kedokteran, Buya Yahya: Boleh, Asalkan untuk Tujuan Ini

Buya Yahya juga menekankan bahwa penyesalan yang tulus justru terjadi ketika seseorang sedang sendirian, bukan di hadapan banyak orang.

"Kalau pengin tahu tobat nasuha itu adalah bersih di saat tidak dipandang orang. Apakah kita tobat benar-benar?" ujarnya.

Menurutnya, seseorang bisa saja menangis di depan orang lain, tetapi hanya Allah yang mengetahui apakah tangisan tersebut lahir dari penyesalan yang tulus atau sekadar ingin dipuji.

Ia kemudian menjelaskan bahwa apabila dosa hanya berkaitan dengan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT, maka proses tobat cukup dilakukan dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah.

Caranya adalah menyesali perbuatan tersebut, berhenti melakukannya, bertekad tidak mengulanginya lagi, lalu memohon ampun kepada Allah dengan penuh keikhlasan.

"Ambil waktu yang khusus menghadap kepada Allah, sesali dosa-dosa itu, berjanji tidak mengulangi, tinggalkan dosa itu, dengan tetesan air mata selesai. Allah Maha Pengampun," katanya.

Baca juga: Apakah Mengatakan "Kayaknya Dia Pencurinya" Termasuk Suuzan? Ini Penjelasan Buya Yahya

Namun, apabila dosa tersebut juga berkaitan dengan hak orang lain, Buya Yahya menyebut dalam kondisi tertentu seseorang dapat meminta bimbingan kepada guru atau ustaz yang amanah agar mendapatkan solusi sesuai syariat.

Ia mengingatkan agar tidak sembarangan menceritakan aib dan dosa kepada banyak orang, terlebih hanya untuk dijadikan konsumsi publik atau konten media sosial.

Menurutnya, kebiasaan membongkar masa lalu yang penuh dosa justru tidak mencerminkan semangat menutup aib yang diajarkan dalam Islam.

"Jangan cerita ke setiap orang. Kalau memang ingin dibimbing, datang kepada orang yang tepat. Selain itu, cukup mengadu kepada Allah," pungkasnya.

(Serambinews.com/Firdha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.