Gapura Pancawaluya Jadi Andalan Jabar Bangun Karakter Siswa Baru pada Momentum MPLS Tahun 2026
Muhamad Syarif Abdussalam July 15, 2026 01:48 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Memasuki pekan pertama tahun ajaran 2026, lulusan SMP mulai menjalani kegiatan belajar di jenjang SMA dan SMK. Di Jawa Barat, para siswa baru tersebut telah tersebar di berbagai sekolah, baik negeri maupun swasta.

Sebagai bagian dari awal proses pembelajaran, para siswa mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang digelar di masing-masing satuan pendidikan.

Pelaksanaan MPLS tahun ini turut mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hal itu terlihat dari kehadiran sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) yang mengikuti rangkaian kegiatan di sejumlah sekolah.

Salah satunya berlangsung di SMAN 1 Maung, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu. Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Jawa Barat, Dr. Heri Antasari, M.Dev.Plg., hadir untuk menyampaikan sambutan tertulis Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Dalam sambutan tersebut, Gubernur menegaskan bahwa MPLS tidak hanya menjadi agenda pembuka bagi siswa yang memasuki sekolah baru.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan tahapan awal bagi peserta didik dalam menjalani proses pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan pembinaan karakter.

Menurut Gubernur, MPLS menjadi momentum penting untuk menanamkan nilai disiplin dan tanggung jawab kepada para siswa. Di lingkungan sekolah di Jawa Barat, implementasi pendidikan karakter tersebut diwujudkan melalui program pendidikan Gapura Pancawaluya.

Program Gapura Pancawaluya saat ini menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Melalui program tersebut, Gubernur menyebut para siswa diharapkan mampu memiliki karakter unggul secara utuh dan menyeluruh.

Pada kesempatan terpisah, Heri Antasari juga memberikan arahan kepada para siswa. Ia menjelaskan bahwa pelajar SMA termasuk dalam kategori pemuda yang merupakan bagian dari Generasi Z atau Gen Z dan kini menghadapi berbagai tantangan perkembangan zaman.

"Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Gen Z berasal dari pesatnya perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Kehadiran berbagai platform tersebut membuat arus informasi dapat diterima kapan saja dan berasal dari berbagai sumber," tuturnya, Rabu (15/7/2026).

Ia menilai kondisi tersebut membentuk karakter Gen Z yang berbeda karena memiliki akses informasi yang jauh lebih luas.

Di satu sisi, hal itu membuat banyak anggota Gen Z menjadi lebih kritis dalam merespons informasi, membangun tacit knowledge yang semakin beragam, namun di sisi lain mereka juga dihadapkan pada banyak informasi global yang kurang baik sehingga perlu disaring dan diseimbangkan.

Heri mengatakan, derasnya arus informasi juga memunculkan dampak negatif karena Gen Z lebih mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang diterima tanpa melalui proses penyaringan.

Apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, menurutnya, akan terbentuk karakter yang rentan dari sisi pembangunan karakter generasi muda.

Karena itu, diperlukan konsep pendidikan karakter yang mampu mengantisipasi dampak negatif tersebut melalui implementasi pendidikan Gapura Pancawaluya di lingkungan sekolah.

"Pendidikan Gapura Pancawaluya mengusung semangat kearifan lokal Jawa Barat, yaitu cageur bageur bener pinter singer," tutup Heri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.