Laporan wartawan TribunJatim.com, Sinca Arie Pangistu
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, BONDOWOSO - Kembali beroperasinya MBG ternyata memiliki sejumlah dampak terhadap perekonomian di masyarakat.
Harga komoditas buah dan sayur di Kabupaten Bondowoso dilaporkan mulai kembali merangkak naik, setelah sebelumnya sempat terjun bebas.
Diduga kuat, kenaikan harga ini dipicu oleh kembali beroperasinya program Makan Bergizi Gratis (MBG) usai masa libur sekolah.
Hariyanto, petani sekaligus pemasok (supplier) semangka dan melon bermerek 'Rian Semangka Balap' asal Desa Grujugan Lor, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Kabupaten Bondowoso, mengungkapkan bahwa harga semangka di tingkat pedagang sempat anjlok hingga Rp4.000 per kilogram selama program MBG libur.
Untuk menyiasati kerugian akibat sepinya pembeli kemarin. Para pedagang terpaksa menjual semangka berukuran besar secara eceran per biji dengan harga Rp10.000 hingga Rp20.000.
"Karena kemarin tidak laku, daripada busuk, lebih baik dijual selakunya," ungkap Rian saat dikonfirmasi pada Rabu (15/7/2026).
Baca juga: Sosok dan Profile Yuharni, Ibu yang Namakan Bayinya MBG Subianto, Kerja di SPPG
Namun, sejak Minggu (12/7/2026) saat program MBG kembali aktif, harga semangka langsung melonjak menjadi Rp9.000 per kilogram.
Rian sendiri rutin memasok semangka ke sejumlah dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di wilayah Bondowoso dan Jember.
Untuk memenuhi permintaan tersebut, ia menyerap hasil panen dari mitra petani di kawasan Tapal Kuda.
"Semuanya saya beli langsung dari mitra petani," ujarnya.
Kenaikan harga serupa juga melanda komoditas sayur-mayur. Berdasarkan informasi sesama rekan pemasok, harga kacang panjang yang sebelumnya merosot di angka Rp1.500 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp5.000 per kilogram.
Begitu pula dengan sawi hidroponik yang melejit menjadi Rp40.000 per kilogram dari harga sebelumnya yang hanya Rp15.000 per kilogram.
Bu Sus, pemilik warung di Pemkab Bondowoso, mengakui harga sayur mayur juga naik. Seperti wortel sekarang naik jadi Rp14.000 per kg, gubis Rp10.000 per kilogram biasanya Rp8.000.
"Biasanya 3 bungkus jagung Rp10 ribu, kini per bungkus Rp4.000," jelasnya.
Dampak kenaikan harga yang paling signifikan juga dirasakan pada komoditas daging ayam potong.
Lilis, seorang pedagang daging ayam di Desa Sumbersalam mengatakan, harga daging ayam saat ini menyentuh Rp31.000 per kilogram. Padahal saat musim liburan sekolah lalu, harganya bertahan di angka Rp24.000 per kilogram.
Lilis tidak menampik bahwa lonjakan ini terjadi karena dapur MBG mulai memborong pasokan kembali. Tingginya permintaan pasar otomatis mendongkrak harga ayam hidup di tingkat peternak.
"Biasanya ayam hidup di kandang harganya Rp19.000, sekarang malah naik jadi Rp21.000 sampai Rp22.000 per kilogram," keluhnya.
Sementara itu, hasil monitoring perkembangan harga sembilan bahan pokok oleh Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso menunjukkan adanya dinamika harga pada sejumlah komoditas di empat pasar pantauan, yaitu Pasar Induk Bondowoso, Pasar Maesan, Pasar Wonosari, dan Pasar Prajekan.
Analis Perdagangan Ahli Muda Diskoperindag Bondowoso, Nining Ujiyanti, membenarkan bahwa aktifnya kembali Program MBG menjadi salah satu faktor utama terkereknya harga sejumlah komoditas pangan.
"Salah satu faktornya itu, Pak. Untuk komoditas ayam dan telur memang naik dikarenakan pemberian MBG sudah mulai aktif lagi di sekolah-sekolah," jelas Nining.
Berdasarkan data pemantauan periode 9 Juli hingga 13 Juli 2026, daging ayam potong mengalami tren kenaikan serentak di seluruh pasar pantauan.
Kenaikan tertinggi tercatat di Pasar Wonosari, yakni sebesar Rp5.000/kg (dari Rp26.000 menjadi Rp31.000/kg atau naik 19,2 persen).
Di Pasar Maesan, harga naik Rp3.000/kg (dari Rp28.000 menjadi Rp31.000/kg atau sebesar 10,7 persen). Sementara di Pasar Induk Bondowoso, harga naik Rp2.000/kg (dari Rp28.000 menjadi Rp30.000/kg atau meningkat 7,1 persen).
Sektor hortikultura juga bergejolak. Cabai merah besar di Pasar Induk Bondowoso naik Rp2.000/kg menjadi Rp30.000/kg (naik 7,1 persen). Komoditas kubis pun merangkak naik di dua pasar, yakni di Pasar Induk Bondowoso sebesar Rp1.000/kg menjadi Rp8.000/kg (naik 14,3 persen), dan di Pasar Prajekan naik Rp1.000/kg menjadi Rp7.000/kg (meningkat 16,7 persen).
Berbanding terbalik, harga bawang merah justru menunjukkan tren penurunan di seluruh pasar pantauan. Penurunan paling tajam terjadi di Pasar Prajekan sebesar Rp8.000/kg, dari Rp38.000 menjadi Rp30.000/kg (turun 21,1 persen).
Di Pasar Wonosari, harga bawang merah turun Rp3.000/kg menjadi Rp35.000/kg. Sedangkan di Pasar Maesan dan Pasar Induk Bondowoso, harga masing-masing turun Rp2.000/kg menjadi Rp38.000/kg.
"Penurunan harga juga tercatat pada komoditas bawang putih di Pasar Prajekan yang turun Rp4.000/kg, dari Rp35.000 menjadi Rp31.000/kg atau berkurang 11,4 persen," tambahnya.
Terakhir, komoditas cabai rawit merah ikut turun di seluruh pasar pantauan. Di Pasar Prajekan harga merosot Rp4.000/kg menjadi Rp36.000/kg. Di Pasar Wonosari turun Rp2.000/kg menjadi Rp36.000/kg.
Sementara di Pasar Maesan dan Pasar Induk Bondowoso, harga kompak turun Rp2.000/kg menjadi Rp38.000/kg.
Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com