Contoh Asesmen Diagnostik Awal Kelas 1-6 SD Kurikulum Merdeka, Peta Kognitif dan Non Kognitif Siswa
Siti Umnah July 15, 2026 11:27 AM

SRIPOKU.COM - Memasuki gerbang Tahun Ajaran Baru 2026/2027, peran guru Sekolah Dasar (SD) dari kelas 1 sampai kelas 6 dituntut untuk bergerak cepat dalam mengenali karakteristik peserta didik.

Dalam ekosistem Kurikulum Merdeka, proses ini diwadahi lewat Asesmen Diagnostik Awal.

Asesmen diagnostik terbagi menjadi dua pilar utama: Asesmen Non-Kognitif (untuk memetakan kesejahteraan psikologis, gaya belajar, dan kondisi keluarga) serta Asesmen Kognitif (untuk mengukur capaian akademis dasar).

Baca juga: 8 Contoh Soal Asesmen Diagnostik Awal Jenjang SD Tahun Ajaran 2026/2027 Literasi dan Numerasi

Hasil dari kedua asesmen ini akan menjadi fondasi utama guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas.

Agar mempermudah Bapak dan Ibu Guru memasukkan draf ke panel CMS sekolah atau rapor digital tanpa kendala kode eror, berikut adalah draf contoh instrumen lengkap Asesmen Diagnostik Awal Kelas 1-6 SD (Kognitif & Non-Kognitif) format teks biasa:

PART 1: Asesmen Non-Kognitif (Semua Kelas 1-6 SD)

Tujuan: Mengenali gaya belajar siswa (Visual/Auditori/Kinestetik) serta kesiapan emosional anak.

Petunjuk untuk Guru:

  • Untuk kelas 1-3 SD, instrumen ini bisa dibacakan oleh guru secara lisan lalu siswa menunjuk emotikon gambar (Senang, Sedih, Bingung) atau menjawab langsung.
  • Untuk kelas 4-6 SD, instrumen ini bisa disalin ke lembar kertas atau Google Form untuk diisi mandiri oleh siswa.

A. Pertanyaan Psikologis & Kesiapan Emosi

  1. Bagaimana perasaanmu secara umum saat melangkah masuk ke gerbang sekolah di hari pertama kemarin?
  2. Apakah ada hal khusus di rumah yang membuatmu merasa cemas atau tidak konsentrasi saat harus belajar di kelas?
  3. Siapa anggota keluarga di rumah yang paling sering menemani dan membantumu saat mengerjakan tugas sekolah?

B. Pertanyaan Pemetaan Gaya Belajar (Ceklist Pilihan)

  1. Saat mempelajari materi pelajaran yang baru, kamu lebih mudah paham dengan cara apa?

A. Melihat gambar pajangan, grafik, atau video animasi (Visual).

B. Mendengarkan penjelasan guru bercerita atau mendengarkan lagu (Auditori).

C. Langsung mempraktikkan benda konkret, bergerak, atau membuat prakarya (Kinestetik).

PART 2: Asesmen Kognitif Dasar (Disesuaikan Per Fase Kelas)

Tujuan: Mendeteksi prasyarat kompetensi numerasi dan literasi dasar.

A. Fase A (Contoh Kelas 1 dan 2 SD)

Fokus pada pengenalan huruf, kata sederhana, dan konsep hitung benda di bawah angka 20.

  1. (Literasi) Bacalah kata di bawah ini secara lantang:

B - O - L - A  dan  B - U - K - U

2. (Numerasi) Hitunglah jumlah jari tangan kiri dan tangan kananmu jika digabungkan menjadi satu. Berapakah jumlah totalnya?

Jawaban siswa: 10

B. Fase B (Contoh Kelas 3 dan 4 SD)

Fokus pada pemahaman kalimat cerita pendek, penjumlahan/pengurangan ratusan, dan perkalian dasar.

  1. (Literasi) Budi menyiram tanaman bunga mawar di halaman rumah setiap sore hari menggunakan gayung air.
    Kapan Budi menyiram tanaman bunga mawarnya?

Jawaban siswa: Setiap sore hari.

2. (Numerasi) Di sebuah toko kelontong terdapat 125 butir telur ayam. Sore harinya, telur tersebut laku terjual sebanyak 45 butir. Berapakah sisa telur di toko sekarang?

Jawaban siswa: 125 - 45 = 80 butir.

C. Fase C (Contoh Kelas 5 dan 6 SD)

Fokus pada penarikan kesimpulan teks, operasi pecahan dasar, dan logika analisis ruang.

  1. (Literasi) Penebangan pohon secara liar di area lereng gunung dapat memicu hilangnya daerah resapan air. Akibatnya, saat musim hujan tiba, volume air permukaan akan meluap dan memicu bencana banjir bandang bagi desa di bawahnya.
    Apa kesimpulan utama hubungan sebab-akibat dari teks di atas?

Jawaban siswa: Penebangan liar menyebabkan banjir karena hilangnya resapan air.

2. (Numerasi) Ibu memiliki sebuah semangka utuh. Semangka tersebut dipotong menjadi 8 bagian yang sama besar untuk dibagikan kepada anak-anaknya. Jika Tono mengambil 3 potong, berapa bagian pecahan semangka yang diambil oleh Tono?

Jawaban siswa: 3/8 bagian.

Langkah Tindak Lanjut Setelah Asesmen Selesai:

  • Buat Matriks Pemetaan: Gabungkan hasil skor akademis (kognitif) dengan preferensi gaya belajar siswa (non-kognitif) dalam satu tabel Excel sederhana.
  • Diferensiasi Proses: Siswa kelompok bawah (belum paham dasar) diberikan intervensi berupa pendampingan kelompok kecil di baris depan menggunakan benda konkret. Siswa kelompok mahir diberikan materi pengayaan mandiri agar tidak bosan di kelas.
  • Komunikasi Orang Tua: Gunakan data non-kognitif untuk membangun komunikasi dengan orang tua jika terdeteksi ada hambatan psikologis atau fasilitas belajar anak di rumah.

Dengan draf asesmen yang simpel dan terstruktur ini, Bapak dan Ibu Guru tidak perlu lagi bingung memulai pekan efektif pertama pembelajaran. Silakan salin materi ini untuk kebutuhan administrasi kelas Anda.***

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.