Kesaksian Rekan Sekelas Mengenai Sosok R Terduga Pelaku Ledakan MAN 3 Padang, Terkenal Pendiam
Khistian Tauqid July 15, 2026 12:27 PM

TRIBUNBATAM.id - Insiden ledakan yang diduga berasal dari bom rakitan mengguncang lingkungan MAN 3 Padang. 

Rahmat Arif, salah satu teman sekelas terduga pelaku berinisial R, memberikan gambaran mengenai kepribadian temannya tersebut. 

Di mata Rahmat, R merupakan remaja yang tidak banyak tingkah, cenderung menutup diri, dan kerap tertidur sewaktu jam pelajaran berlangsung. 

Informasi ini dibagikan Rahmat tak lama setelah aparat kepolisian mengamankan R beserta sejumlah barang bukti di area sekolah.

Berdasarkan penuturan Rahmat, ia sempat melihat R datang ke sekolah mengenakan pakaian bebas sambil membawa sebuah tas ransel yang ternyata berisi benda diduga bom rakitan.

"Dia membawa bom rakitan, jadi dia ledakan di dalam laci, terus masih banyak di dalam tasnya," kata Rahmat kepada TribunPadang.com, Selasa (14/7/2026).

Rahmat menambahkan bahwa R memang jarang bersosialisasi atau berkumpul bersama teman-teman sekelasnya yang lain. Karakteristiknya yang pasif dan penyendiri membuatnya terisolasi di lingkungan kelas.

"Dia pendiam, sering tidur, dan jarang berkumpul dengan teman-teman," ujarnya.

Mengenai isu adanya perundungan, Rahmat mengungkapkan bahwa R tipe orang yang sensitif dan mudah memasukkan ke dalam hati ucapan teman-teman yang menyindir kemampuannya.

"Teman-teman cuma menyindir, seperti tidak bisa gitu," tambahnya.

Baca juga: Dentuman Keras Bikin Siswa MAN 3 Padang Berhamburan, Kesaksian Siswa Ungkap Sosok Pria Bawa Ketapel

Tanggapan Pihak Sekolah

Manajemen MAN 3 Padang turut memberikan klarifikasi mengenai profil R pasca-insiden yang terjadi pada Selasa (14/7/2026). 

Pihak sekolah menegaskan bahwa selama menimba ilmu di sana, R dikenal sebagai siswa yang berkelakuan baik serta bersih dari catatan pelanggaran disiplin yang berat.

Kepala MAN 3 Padang, Marliza, menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda perilaku menyimpang dari R selama berada di sekolah.

"Kalau anak kita ini baik-baik saja. Dia cuma pendiam. Tidak ada keluhan-keluhan apa-apa di sekolah mengenai apa pun," kata Marliza kepada TribunPadang.com.

Walau R tercatat beberapa kali absen, Marliza menyebut hal tersebut masih dalam batas wajar dan bukan bentuk pelanggaran disiplin yang serius.

"Memang anaknya sering izin atau libur, tapi selain itu belajar seperti anak-anak yang lain," ujarnya.

Marliza juga menegaskan pihak sekolah menyerahkan sepenuhnya investigasi motif di balik aksi nekat ini kepada aparat penegak hukum.

"Kami juga belum mendalami. Untuk motif, nanti lebih jelasnya dari pihak yang menangani penyelidikan," katanya.

Senada dengan Kepala Sekolah, mantan wali kelas R sewaktu kelas XI, Nindya, mengingat R sebagai murid yang tidak banyak bicara namun tetap berinteraksi dengan sewajarnya kepada teman-teman.

"Teman sama temannya biasa saja. Nilainya juga tuntas. Kalau di kelas dia lebih banyak diam, tidak terlalu aktif bertanya atau berbicara," ujarnya.

Satu-satunya kendala yang sempat muncul hanyalah masalah absensi pada semester pertama. 

Setelah ditelusuri oleh pihak sekolah, R kerap absen karena kondisi kesehatannya drop akibat kebiasaan buruk di malam hari.

"Dulu semester satu memang sering tidak hadir. Setelah kami telusuri karena sering sakit mimisan akibat sering begadang main handphone sampai malam. Semester dua sudah aman, tidak ada lagi masalah nilai maupun absensi," katanya.

Nindya juga memastikan bahwa selama ini R tidak pernah mengadukan adanya masalah personal atau perselisihan dengan siswa lain.

Baca juga: Pelajar MAN 3 Padang Rakit Bom dari Tutorial YouTube dan Ledakkan Sekolah, Terungkap Alasan Pelaku

Sekolah Membantah Adanya Laporan Resmi Terkait Bullying

Merespons kabar yang beredar bahwa R nekat bertindak karena menjadi korban perundungan, Nindya menegaskan pihak sekolah sama sekali tidak pernah menerima aduan formal dari R maupun orang tuanya. 

Ia membenarkan R dan siswa lain berinisial M, yang disebut-sebut sebagai target, memang berada di kelas yang sama sejak kelas XI hingga XII, namun interaksi mereka terlihat normal.

"Kalau yang disebut jadi target itu memang satu kelas waktu kelas dua dan kelas tiga. Setahu kami mereka seperti bercanda-bercanda anak-anak saja," katanya.

Nindya menambahkan bahwa para guru selalu bersikap terbuka dan proaktif menanyakan kondisi psikologis para siswa di kelas.

"Setiap masuk kelas kami selalu tanya, aman di kelas? Kalau ada apa-apa cerita sama ibu, karena ibu ini orang tua kalian di sekolah. Tapi tidak pernah ada pengaduan, baik dari anak-anak maupun orang tua, soal perundungan," ujarnya.

Akibat ledakan bom rakitan yang terjadi pada jam istirahat tersebut, proses olah TKP langsung dilakukan oleh pihak berwajib. 

Demi menjaga keselamatan, seluruh siswa MAN 3 Padang dipulangkan lebih awal hari itu, sementara polisi terus mendalami motif utama pelaku.

Pemeriksaan Intensif di Polresta Padang dan Pengungkapan Motif oleh Polisi

Hingga Selasa sore, R yang berstatus siswa kelas XII masih menjalani pemeriksaan intensif di Polresta Padang atas dugaan perakitan bom jenis low explosive. 

Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Susmelawati Rosya, membenarkan bahwa seluruh material berbahaya telah disita dan area sekolah telah disterilkan oleh Tim Gegana Brimob.

"Saat ini anak tersebut diamankan di Polresta Padang. Tim Gegana Brimob juga sudah melakukan penyisiran di lingkungan sekolah untuk memastikan situasi aman," ujarnya, Selasa.

Berdasarkan pemantauan di lokasi Polresta Padang antara pukul 16.00 hingga 16.40 WIB, situasi tampak berjalan kondusif tanpa pengamanan ekstra.

Terlihat pula sebuah mobil dinas milik MAN 3 Padang mendatangi Mapolresta sekitar pukul 16.32 WIB.

Dari hasil interogasi awal, polisi mengungkap fakta mengejutkan bahwa tindakan nekat R dilatarbelakangi oleh tekanan mental akibat kerap dirundung oleh teman sekelasnya.

Polisi memastikan aksi ini murni urusan personal dan tidak terafiliasi dengan jaringan terorisme mana pun.

"Benar terjadi ledakan tersebut. Pelakunya seorang siswa kelas XII MAN. Ini dipicu oleh masalah psikologis yang mendalam karena sering menjadi korban perundungan atau bullying oleh teman-teman sekelasnya," kata Susmelawati kepada wartawan, Selasa (14/7/2026).

R diketahui mempelajari tutorial merakit bom berdaya ledak rendah tersebut secara otodidak lewat jaringan internet demi membalas dendam kepada para perundungnya.

"Anak ini merasa sering menjadi objek bullying. Jadi dia mengambil jalan pintas dengan merakit bom berskala kecil atau low explosive. Cara merakitnya dipelajari secara mandiri melalui internet," ujarnya.

Rencana R awalnya adalah memicu ledakan yang cukup kuat untuk merubuhkan tembok kelas demi mencelakai target-targetnya saat jam istirahat.

Namun, struktur bangunan sekolah yang kokoh membuat dampak kerusakan minimal.

"Bom itu diletakkan di bawah meja dengan harapan ledakan bisa meruntuhkan dinding kelas untuk mencelakai teman-teman yang sering membully dirinya. Namun bangunan sekolah cukup kuat sehingga ledakan tidak menimbulkan kerusakan yang mengakibatkan korban jiwa," jelasnya.

Beruntung, ruang kelas dalam keadaan kosong saat bom meletup sekitar pukul 10.15 WIB, sehingga tidak ada korban luka maupun korban jiwa.

"Tidak ada orang di dalam kelas saat ledakan terjadi. Yang terdengar hanya dentuman dan muncul kepulan asap dari dalam ruangan," katanya.

Pihak kepolisian yang dipimpin langsung oleh jajaran Polda Sumbar, Brimob, hingga Polsek segera mengamankan situasi setelah menerima laporan warga sekolah.

Karena kondisi psikologis R yang belum stabil, polisi masih berhati-hati dalam menggali detail tindakan perundungan yang diterimanya.

"Bentuk bullying-nya masih kami dalami karena anak ini belum bisa banyak kami mintai keterangan," katanya.

Sebagai langkah penanganan, Polda Sumbar berkomitmen memberikan pemulihan psikologis bagi R agar terhindar dari pemikiran radikal yang lebih berbahaya, sekaligus merencanakan program edukasi antiberundung ke sekolah-sekolah di wilayah Sumbar.

"Kami fokus melakukan rehabilitasi kepada anak ini. Ini bukan jaringan teror, tetapi anak yang diduga menjadi korban bullying. Kami ingin melakukan pemulihan agar dia tidak terpapar ke arah yang lebih jauh yang tidak kita inginkan," ujarnya.

"Nanti kami akan aktif melakukan edukasi ke sekolah-sekolah agar peristiwa seperti ini tidak terulang kembali," tutupnya.

(TribunBatam.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.