Mbah Paini Rela Jual Ayam Peliharaanya Agar Bisa Beli Air Bersih
Hari Susmayanti July 15, 2026 01:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Air merupakan kebutuhan pokok yang wajib ada bagi masyarakat.

Namun saat memasuki musim kemarau, sebagian masyarakat di Gunungkidul mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Salah satunya di Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Rongkop, Gunungkidul.

Wilayahnya yang berada di kawasan karst membuat padukuhan ini menjadi langganan kekeringan.

Warga pun bergantung pada dropping air bersih dari pemerintah untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Jika dropping dari pemerintah terlambat, warga pun terpaksa harus membeli secara mandiri.

Setiap tangki air bersih berkapasitas 5000 liter, warga harus membayar sebesar Rp 120 ribu.

Berat memang, tapi mau tidak mau warga harus merogoh kantong sendiri jika ingin mendapatkan air bersih.

Bahkan tak jarang warga terpaksa menjual hewan ternak atau barang berharganya agar bisa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

" Ya apa punyanya, ada ayam ya dijual, pokoknya apa saja yang memungkinkan," kata Paini (65), salah satu warga Padukuhan Kemesu seperti yang dikutip Tribun Jogja dari Kompas.com, Rabu (15/7/2026).

Paini mengaku, selama musim kemarau tahun ini, dirinya sudah membeli air bersih sebanyak 4 tangki.

Dia mengaku harus merelakan barang berharga atau tabungan yang dimiliki untuk bisa memenuhi kebutuhan air bersih ini.

Sebab, air merupakan kebutuhan pokok yang wajib ada untuk keperluan sehari-hari.

Paini menyebut, dropping air bersih ke bak penampungan air hujan (PAH) dari pemerintah cukup membantu masyarakat.

Warga paling tidak bisa sedikit berhemat dan tidak membeli air dari pihak swasta jika tampungan PAH disuplai air dari pemerintah.

"Cukup membantu ada bantuan air bersih," kata Paini.

Sementara itu warga lainnya, Wakino mengaku sudah membeli air bersih sebanyak dua kali.

"Saya sudah beli 2 kali, harganya Rp 120.000 per tangki. Sudah 3 bulan terakhir belinya. Untuk 5 orang keluarga saya," kata dia.

Untuk menghemat air, Wakino mengaku mengambil air dari PAH yang ada di wilayahnya.

Total ada 3 PAH yang rutin disuplai air bersih untuk pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Namun karena banyak warga yang mengalami kesulitan air bersih, stok yang ada di PAH mulai menipis.

"Airnya sudah mulai habis, ini kemarin air bantuan dari mana tidak tahu," kata salah seorang warga Kemesu, Wakino (70) ditemui di lokasi, Selasa (14/7/2026).

Baca juga: Pecatur Sleman Chavi Alisha Dipanggil Pelatnas PB Percasi, Wakili Indonesia di Kejuaraan Asia

Tak Ada Sumber Air

Sementara itu Dukuh Kemesu, Sugiyanta mengatakan, ada 68 KK tinggal di wilayahnya. 

Hampir semuanya tidak memiliki sumber air. Warga hanya memiliki PAH yang digunakan untuk menampung air saat musim penghujan.

Sementara bantuan saluran PDAM hanya ada di tiga titik. Itu pun hanya mengalir setiap Kamis.

"Airnya mengalir hanya waktu malam, hanya beberapa jam. Itu tidak cukup untuk dibagikan," kata dia.

Berada di kawasan Karst membuat Padukuhan Kemusu cukup sulit mendapatkan sumber air bersih.

Beberapa waktu lalu, di dekat Kemesu sudah pernah dibor, namun tidak menemukan sumber air.

Warga berharap kebutuhan air bersih bisa dicukupi pemerintah.

"Sekarang ini warga ya jual yang dimiliki untuk membeli air bersih. Punya gaplek ya dijual untuk membeli air. Mau bagaimana lagi, wong itu kebutuhan dasar," ucap dia.

Direktur utama PDAM Tirta Handayani, Sulistyo Aribowo mengatakan, pelayanan di Padukuhan Kemesu memang harus bergilir.

Sebab, aliran dari sumber Seropan bergilir dengan wilayah Kenteng dan Ngrombo di Ponjong.

 "Permasalahannya memang karena berada di ujung pelayanan pipa distribusi dan bergilir dengan wilayah Ponjong," kata Sulis.

 Pihaknya merencanakan memisahkan pelayanan dari Pucanganom langsung dari Seropan. "Harapannya gilirannya bisa lebih cepat," kata dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.