10 Daerah Terpanas Musim Kemarau di Indonesia Menurut Catatan BMKG, Ada Dekat Provinsi Gorontalo
Aldi Ponge July 15, 2026 01:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM - Berikut 10 daerah terpanas di Indonesia yang terjadi pada Selasa (14/07/2026).

Data ini berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Selasa siang hingga Rabu (15/07/2026) pagi tadi.

Suhu udara panas tertinggi terjadi di Palembang, posisi kedua terjadi di Kapuas Hulu dan posisi ketiga di provinsi dekat Gorontalo.

Saat ini memang musim kemarau melanda Indonesia termasuk Provinsi Gorontalo. Beberapa wilayah bahkan sudah mengalami kekeringan.  

Menurut BMKG, daerah yang dilaporkan mengalami atau berisiko tinggi mengalami kekeringan antara lain:

Sebagian besar Pulau Jawa, terutama wilayah selatan dan timur, dengan curah hujan yang terus menurun.

Jawa Barat, terutama beberapa wilayah di Bekasi, yang menurut BMKG telah mengalami hari tanpa hujan (HTH) kategori sangat panjang (31–60 hari).

Bali dan Nusa Tenggara (NTB dan NTT), yang memasuki musim kemarau dan berpotensi mengalami kekurangan air bersih.

Sebagian wilayah Kalimantan selatan dan Sulawesi selatan, yang juga mengalami penurunan curah hujan seiring meluasnya musim kemarau.

Suasana panas terik musim kemarau mulai melanda Kota Gorontalo, dddddddddd
KEMARAU - Suasana panas terik musim kemarau mulai melanda Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo pada Rabu (15/07/2026). Foto suasana di Jalan BJ Habibie, Kota Gorontalo.

Daerah Terpanas di Indonesia

BMKG menyebut Kota Palembang, Sumatera Selatan, menjadi wilayah dengan suhu maksimum harian tertinggi di Indonesia berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Dalam pengamatan periode 14 Juli 2026 pukul 07.00 WIB hingga 15 Juli 2026 pukul 07.00 WIB, suhu udara di Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang tercatat mencapai 38,2 derajat Celsius.

Catatan tersebut menempatkan Palembang di posisi teratas dalam daftar suhu maksimum harian nasional yang dirilis BMKG pada Rabu (15/7/2026) pukul 09.49 WIB.

Suhu tersebut terpaut cukup jauh dibandingkan daerah lain yang masuk dalam daftar 10 wilayah terpanas di Indonesia.

Di posisi kedua terdapat Stasiun Meteorologi Pangsuma di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, dengan suhu maksimum 36,4 derajat Celsius, disusul Stasiun Meteorologi Mutiara Sis-Al Jufri di Palu, Sulawesi Tengah, yang mencatat 35,9 derajat Celsius.

Kemudian Stasiun Meteorologi Beringin di Barito Utara, Kalimantan Tengah membukukan suhu maksimum 35,5 derajat Celsius, diikuti Stasiun Meteorologi Sultan Hasanuddin di Maros, Sulawesi Selatan, sebesar 35,4 derajat Celsius.

Sementara itu, Stasiun Meteorologi Kalimarau di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, mencatat suhu maksimum 35,3 derajat Celsius.

Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II di Tangerang Selatan, Banten, turut masuk dalam daftar wilayah dengan suhu tinggi, yakni 35,0 derajat Celsius.

Dominasi wilayah Kalimantan juga terlihat pada daftar suhu maksimum harian.

Stasiun Meteorologi Supadio di Pontianak mencatat suhu 34,9 derajat Celsius.

Sementara Stasiun Meteorologi Tebelian di Sintang dan Stasiun Meteorologi Nangapinoh di Kabupaten Melawi masing-masing mencatat suhu maksimum 34,8 derajat Celsius.

Data BMKG menunjukkan bahwa suhu udara panas masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Meski suhu maksimum tidak selalu menggambarkan suhu yang dirasakan masyarakat secara langsung, tingginya temperatur udara tetap berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga gangguan kesehatan apabila masyarakat beraktivitas terlalu lama di bawah paparan sinar matahari.

Masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan pada siang hingga sore hari, memperbanyak konsumsi air putih, mengenakan pakaian yang nyaman, serta menggunakan pelindung seperti topi atau payung saat harus beraktivitas di bawah terik matahari.

Berdasarkan data BMKG periode 14 Juli 2026 pukul 07.00 WIB hingga 15 Juli 2026 pukul 07.00 WIB, berikut daftar stasiun dengan suhu maksimum harian tertinggi di Indonesia beserta lokasi:

  1. Palembang, Sumatera Selatan (Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II): 38,2°C
  2. Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Stasiun Meteorologi Pangsuma): 36,4°C
  3. Palu, Sulawesi Tengah (Stasiun Meteorologi Mutiara Sis-Al Jufri): 35,9°C
  4. Barito Utara, Kalimantan Tengah (Stasiun Meteorologi Beringin): 35,5°C
  5. Maros, Sulawesi Selatan (Stasiun Meteorologi Sultan Hasanuddin): 35,4°C
  6. Berau, Kalimantan Timur (Stasiun Meteorologi Kalimarau): 35,3°C
  7. Tangerang Selatan, Banten (Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah II): 35,0°C
  8. Pontianak, Kalimantan Barat (Stasiun Meteorologi Supadio): 34,9°C
  9. Sintang, Kalimantan Barat (Stasiun Meteorologi Tebelian): 34,8°C
  10. Melawi, Kalimantan Barat (Stasiun Meteorologi Nangapinoh): 34,8°C

BMKG Prediksi Puncak Kemarau di Gorontalo Berlangsung Agustus hingga September 2026

Wilayah Provinsi Gorontalo kini telah memasuki musim kemarau mulai Juli 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim kemarau akan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.

Hal tersebut dijelaskan oleh Prakirawan Cuaca Stasiun Klimatologi BMKG Gorontalo, Delas Ka'u saat dihubungi TribunGorontalo.com, Selasa (14/7/2026).

Ia mengatakan, berkurangnya intensitas hujan di sebagian besar wilayah menjadi salah satu indikator bahwa musim kemarau mulai mendominasi Gorontalo.

Berdasarkan hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) Dasarian I Juli atau periode 1–10 Juli 2026, sebagian besar wilayah Gorontalo didominasi kategori HTH panjang, yakni berkisar 21 hingga 30 hari tanpa hujan.

"Kondisi ini menunjukkan frekuensi hujan terus menurun seiring berlangsungnya musim kemarau," ujar Delas kepada TribunGorontalo.com.

Menurutnya, musim kemarau tahun ini diperkuat oleh fenomena El Nino yang saat ini masih aktif.

Hal itu terlihat dari nilai Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) Nino 3.4 yang tercatat sebesar +1,88 pada skala dasarian dan +1,56 pada skala bulanan.

"Fenomena El Nino menyebabkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk Gorontalo, menjadi berkurang," kata Delas.

Akibatnya, curah hujan diperkirakan berada di bawah kondisi normal sehingga musim kemarau tahun ini berpotensi terasa lebih kering dibandingkan biasanya.

BMKG juga memprediksi fenomena El Nino masih akan bertahan hingga awal 2027. 

Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang dampak musim kemarau di berbagai wilayah, termasuk Provinsi Gorontalo.

Delas mengingatkan masyarakat agar mulai mengantisipasi berbagai dampak yang dapat muncul selama musim kemarau, seperti berkurangnya ketersediaan air bersih, kekeringan pada sektor pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ia mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijaksana serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membuka lahan dengan cara dibakar atau membuang puntung rokok sembarangan di area yang mudah terbakar.

Selain itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau melalui berbagai langkah mitigasi. 

Upaya tersebut dinilai penting untuk meminimalkan dampak kekeringan maupun potensi kebakaran hutan dan lahan yang diperkirakan meningkat pada Agustus hingga September 2026. (*/Tribunnews/Wawan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.