TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Wawasan baru mengenai pentingnya memahami perbedaan budaya dalam dunia pendidikan dirasakan para kepala sekolah dan guru SMP di Banyumas.
Mereka mengikuti Educational Talk Show bertajuk "Bridging the Gap: Cultivating Intercultural Leadership" yang digelar SMA Soteria Mahardika Purwokerto, Rabu (15/7/2026).
Salah satu peserta, Kepala SMP Negeri 1 Patikraja, Aris Budiasono, mengaku kegiatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai konsep sekolah intercultural yang berbeda dengan sekolah internasional.
Menurutnya, selama ini banyak orang masih menyamakan keduanya, padahal memiliki pendekatan yang berbeda.
"Kalau sekolah internasional itu lebih berkaitan dengan sesuatu yang modern.
Sedangkan sekolah intercultural seperti yang dikembangkan SMA Soteria Mahardika lebih mengedepankan keberagaman budaya," ujar Aris kepada TribunBanyumas.com.
Ia menilai materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang memiliki keberagaman suku, budaya, dan agama.
Menurut Aris, para peserta mendapatkan banyak contoh nyata mengenai perbedaan budaya antara Indonesia dan Amerika Serikat yang dapat menjadi bahan refleksi dalam proses pembelajaran di sekolah.
Baca juga: Petugas Sensus Ekonomi di Semarang Menyerah, Pendataan Baru Capai 38 Persen
"Sangat bermanfaat sekali, terutama untuk budaya kita.
Dijelaskan bagaimana perbedaan budaya antara Indonesia dengan Amerika.
Tentunya kita masih perlu banyak belajar terkait perbedaan budaya," katanya.
Salah satu contoh yang paling diingatnya adalah penjelasan dari Prof. Dr. James Cohen mengenai kebiasaan melakukan kontak mata saat berbicara.
Di Amerika Serikat, menatap mata lawan bicara dianggap sebagai bentuk rasa hormat dan kepercayaan diri.
Sebaliknya di Indonesia, khususnya ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, menatap mata secara langsung justru sering dianggap kurang sopan atau seperti menentang.
"Contohnya ketika berbicara.
Kalau di Amerika harus menatap mata lawan bicara.
Sementara di Indonesia, kalau berbicara dengan orang yang lebih dewasa justru sering dianggap melawan. Hal-hal seperti itu yang membuka wawasan kami," jelasnya.
Selain itu, ia juga menilai pendekatan pendidikan intercultural mengajarkan pentingnya menghargai keberagaman, termasuk dalam perbedaan agama maupun latar belakang budaya.
"Di sini semua difasilitasi, baik yang jumlahnya banyak maupun sedikit.
Itu menjadi pembelajaran yang sangat baik," tambahnya.
Workshop tersebut diikuti perwakilan dari sekitar 30 SMP di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga.
Dalam kegiatan itu, SMA Soteria Mahardika menghadirkan dua akademisi dari Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat, yakni Prof. Dr. James Cohen, pakar ESL/Bilingual Education, dan Prof. Dr. Teresa A. Wasonga, pakar Leadership, Educational Psychology and Foundations.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen dalam memperkuat ekosistem pendidikan berorientasi global sekaligus mendorong lahirnya kepemimpinan pendidikan yang adaptif terhadap keberagaman budaya.
Melalui workshop tersebut, para kepala sekolah dan guru memperoleh pemahaman mengenai pentingnya intercultural competence atau kompetensi lintas budaya dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, kolaboratif, dan relevan dengan tantangan pendidikan abad ke-21.
Sebagai sekolah intercultural pertama di Purwokerto, SMA Soteria Mahardika mengembangkan sistem pendidikan yang memadukan Kurikulum Merdeka, pendekatan Intercultural Education, serta penguatan Global Competencies.
Sekolah juga memiliki berbagai program unggulan seperti pembelajaran multibahasa, STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dengan perspektif lintas budaya, serta Pathways Program yang didukung Career Development Center membantu peserta didik merancang pendidikan lanjutan dan karier sesuai potensi serta perkembangan dunia.
Pengembangan sekolah tersebut didampingi konsultan pendidikan internasional Nusa Widyantara Indonesia bekerja sama dengan Northern Illinois University (NIU) sehingga penerapan pendidikan mengacu pada standar internasional tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal Indonesia.
Prof. Dr. James Cohen dan Prof. Dr. Teresa A. Wasonga menegaskan keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembelajaran di kelas, tetapi juga oleh sinergi antara keluarga dan sekolah.
"Keluarga menjadi fondasi utama pembentukan karakter, sedangkan sekolah memperkuat karakter tersebut melalui lingkungan belajar yang mendorong rasa ingin tahu, kepemimpinan, kolaborasi, dan penghargaan terhadap keberagaman," kata Prof. Dr. James Cohen dalam paparanya.
Kedua narasumber juga memperkenalkan konsep service culture dan deep culture dalam pendidikan intercultural.
Service culture berkaitan dengan aspek yang tampak di permukaan seperti keramahan, pelayanan, tata krama, dan interaksi sehari-hari.
Sementara deep culture mencakup nilai-nilai yang lebih mendasar, seperti cara berpikir, keyakinan, pola komunikasi, cara memandang keberagaman, hingga bagaimana seseorang memaknai proses belajar dan hubungan sosial.
Menurut mereka, pendidikan intercultural yang efektif harus mampu menjangkau kedua dimensi tersebut secara seimbang.
Selama workshop, peserta mengikuti sesi pemaparan materi, dialog pendidikan, diskusi, hingga berbagai aktivitas kolaboratif yang memperkenalkan konsep pendidikan lintas budaya.
Para guru diajak memahami bagaimana pendekatan tersebut dapat menjadi strategi pembelajaran untuk membangun karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan empati peserta didik.
Kepala SMA Soteria Mahardika mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sekolah membangun jejaring pendidikan yang lebih luas di Banyumas.
Kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi, dan mitra internasional diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi pendidikan yang berdampak terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di Indonesia.
Sejalan dengan filosofi tersebut, SMA Soteria Mahardika tidak hanya membangun service culture, tetapi juga memperkuat deep culture melalui desain kurikulum, interaksi di kelas, proyek kolaboratif, serta berbagai pengalaman belajar lintas budaya.
Dengan pendekatan tersebut, sekolah berharap peserta didik mampu memahami berbagai perspektif, berpikir kritis, menghargai keberagaman, sekaligus tumbuh menjadi pemimpin yang mampu berkontribusi di tingkat lokal maupun global. (jti)