TRIBUNNEWS.COM - Spanyol berada di garis terdepan untuk memenangkan gelar Piala Dunia 2026. Adanya kutukan di ajang ini membuat La Roja menjadi kandidat kuat untuk juara.
Spanyol sudah memastikan tiket final Piala Dunia 2026 berkat kemenangan 2-0 yang diraih atas Prancis di Dallas Stadium, Rabu (25/7/2026).
Kini, tim asuhan Luis De La Fuente tinggal menunggu pemenang duel antara Inggris vs Argentina untuk memastikan lawan di final.
Di balik keberhasilan tersebut, muncul fakta menarik yang membuat Spanyol semakin dijagokan mengangkat trofi.
Sejumlah "kutukan" atau tren sejarah Piala Dunia justru membayangi para pesaing mereka, sementara La Roja seolah berada di jalur yang paling ideal menuju gelar.
Football enthusiast asal Semarang, Gigih W, sebelumnya menilai Prancis memiliki lini depan yang sangat berbahaya dengan kombinasi Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise.
"Di Piala Dunia sekarang, Mbappe punya peran sebagai pemain nomor sembilan alias target man. Dibantu pemain sekelas Dembele dan Olise, Mbappe tetap akan menjadi tumpuan bagi Deschamps," ujar Gigih dalam Podcast Super Taktik Tribunnews.
Dengan 13 dari 16 gol Prancis dicetak melalui Mbappe (8) dan Dembele (5), tidak sedikit yang menyamakan lini depan Les Blues saat ini dengan era Brasil 2002.
Namun nyatanya, hasil laga di semifinal memastikan tersingkirnya Prancis. Solidnya pertahanan La Roja membuat lini depan Les Bleus kehilangan ketajaman.
Tersingkirnya Prancis ini sekaligus memperpanjang salah satu kutukan paling terkenal dalam sejarah Piala Dunia.
Setidaknya ada tiga kutukan yang mengiringi Piala Dunia sampai babak semifinal. Satu sudah dialami Prancis dan kini tersisa dua kutukan lagi, masing-masing membayangi Inggris dan Argentina yang akan berjuang merebut tiket final.
Baca juga: Spanyol Jadi Pawang Prancis, Deschamps Sulit Jinakkan Generasi Baru La Roja, 3 Semifinal 3 Kekalahan
Korban pertama dari rangkaian kutukan tersebut adalah Prancis.
Les Bleus datang ke Piala Dunia 2026 dengan Ousmane Dembele sebagai pemegang Ballon d'Or 2025.
Namun, harapan Prancis meraih gelar dunia kandas di semifinal setelah dikalahkan Spanyol.
Hasil tersebut membuat kutukan Ballon d'Or kembali berlanjut.
Sejak penghargaan Ballon d'Or mulai diberikan pada 1956, belum pernah ada negara yang memiliki pemegang Ballon d'Or aktif mampu menjadi juara Piala Dunia pada edisi yang sama.
Dembele pun menjadi nama terbaru yang gagal mematahkan rekor tersebut.
Argentina dan Inggris akan berhadapan di Atlanta Stadium pada Kamis (16/7/2026) pukul 02.00 WIB.
Apabila berhasil mengalahkan Inggris di semifinal, Argentina akan menghadapi tantangan sejarah lainnya di laga final.
La Albiceleste datang ke Piala Dunia 2026 sebagai tim peringkat satu dunia berdasarkan ranking resmi FIFA yang dirilis sebelum turnamen dimulai.
Namun, status tersebut justru bukan pertanda baik karena sejak ranking FIFA diperkenalkan pada 1992, belum pernah ada negara yang berstatus sebagai tim nomor satu dunia sebelum Piala Dunia tahun itu dimulai, berhasil keluar sebagai juara.
Kutukan itu dimulai pada edisi 1994 ketika Jerman gagal menjadi juara. Brasil kemudian mengalaminya pada 2006, 2010, dan 2022 saat menjadi nomor satu dunia.
Pada 2002, nomor satu FIFA adalah Prancis, tetapi yang juara justru Brasil. Sementara pada 2014 nomor satu FIFA adalah Spanyol, namun Jerman yang juara, adapun di 2018 Jerman nomor satu namun Prancis yang juara.
Argentina sendiri menjadi juara dunia 2022 saat datang sebagai peringkat kedua FIFA, bukan penghuni posisi teratas.
Meski kini dalam live ranking Spanyol sempat naik ke posisi pertama usai mengalahkan Prancis, yang menjadi acuan kutukan tersebut adalah ranking resmi FIFA sebelum turnamen dimulai.
Dalam daftar itu, Argentina tetap berstatus sebagai tim nomor satu dunia, diikuti Spanyol lalu Prancis dan Inggris, per 11 Juni lalu.
Baca juga: Ranking Resmi FIFA: Argentina Balik Top 1, Sejarah Tak Memihak Messi Cs untuk Juara Piala Dunia Lagi
Sementara itu, Inggris juga memiliki tantangan sejarah apabila mampu menyingkirkan Argentina.
Bukan soal kualitas pemain, melainkan sosok pelatih mereka, Thomas Tuchel.
Pelatih asal Jerman tersebut berpeluang menjadi pelatih asing pertama yang membawa negara lain menjuarai Piala Dunia.
Namun, sejarah menunjukkan hal itu belum pernah terjadi.
Sejak Piala Dunia pertama digelar pada 1930, seluruh juara dunia selalu ditangani pelatih yang berasal dari negara yang sama.
Sudah 23 edisi berlangsung tanpa ada satu pun pengecualian.
Beberapa pelatih asing memang pernah membawa tim hingga final.
George Raynor asal Inggris mengantar Swedia menjadi runner-up pada 1958 sebelum kalah dari Brasil.
Kemudian Ernst Happel asal Austria membawa Belanda ke final 1978, tetapi takluk dari Argentina.
Kini, Tuchel mencoba mematahkan rekor yang telah bertahan hampir satu abad.
Namun, sebelum memikirkan final, Inggris lebih dulu harus melewati hadangan sang juara bertahan, Argentina.
Baca juga: Jalan Identik Spanyol saat Juara 2010 dan di Piala Dunia 2026, La Roja Tinggal Selangkah Lagi
Berbeda dengan tiga pesaingnya, Spanyol justru tidak dibayangi kutukan serupa.
Sebaliknya, beberapa fakta sejarah malah mendukung perjalanan La Roja.
Mereka datang ke Piala Dunia sebagai juara Euro 2024, mengulang pola yang sama seperti saat menjadi juara dunia pada 2010 setelah sebelumnya menjuarai Euro 2008.
Di babak 16 besar, mereka juga kembali menyingkirkan Portugal dengan skor identik 1-0, persis seperti perjalanan menuju gelar pada Piala Dunia 2010.
Kini, tambahan fakta mengenai tiga kutukan yang menimpa para pesaing membuat posisi Spanyol semakin menarik untuk disorot.
Tentu saja, sejarah bukanlah jaminan hasil akhir di lapangan.
Namun jika pola-pola tersebut kembali berulang, maka Prancis sudah menjadi korban pertama, sementara Inggris atau Argentina berpotensi menjadi nama berikutnya yang gagal mematahkan kutukan.
Dan yang pasti, Spanyol tinggal selangkah lagi untuk kembali mengangkat trofi Piala Dunia setelah penantian selama 16 tahun.
(Tribunnews.com/Tio)