Langkah Strategis Sulut Pulihkan Sektor Peternakan: Datangkan Bibit Babi Unggul Asal Denmark
Rizali Posumah July 15, 2026 04:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sektor peternakan babi di Sulawesi Utara (Sulut) bersiap memasuki babak baru yang menjanjikan.

Langkah strategis diambil pemerintah daerah melalui kemitraan internasional guna memulihkan populasi babi yang sempat terpuruk akibat hantaman wabah African Swine Flu (ASF) beberapa tahun lalu.

Kabar baik ini disampaikan langsung oleh Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, di tengah berlangsungnya rapat paripurna DPRD Sulut terkait Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2025 pada Selasa, 14 Juli 2026.

Sebelum memberikan tanggapan resmi terhadap pemandangan Badan Anggaran (Banggar) DPRD, Gubernur yang akrab disapa YSK ini membagikan informasi penting mengenai investasi anyar di bidang peternakan.

Proyek besar ini merupakan hasil kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Denmark, yang secara teknis dijalankan oleh PT Sulawesi Optima Wirakarya (SOW), dengan Sulut sebagai salah satu daerah tujuan utamanya.

Begitu pentingnya agenda ini, Wakil Gubernur Sulut bahkan harus berbagi tugas untuk menghadiri agenda resminya di ibu kota.

"Hari ini Pak Wagub tidak turut serta karena mewakili ke peresmian impor babi calon indukan kerja sama Indonesia Denmark di Kementerian Pertanian," kata YSK.

Gubernur mengungkapkan bahwa sebanyak 546 ekor anakan babi calon indukan telah mendarat dengan selamat di Manado pada Selasa, 7 Juli 2026 lalu.

Kehadiran ratusan bibit unggul ini diharapkan menjadi angin segar bagi para peternak dan konsumen di Bumi Nyiur Melambai.

Hingga saat ini, kapasitas produksi budidaya babi lokal di Sulut baru mampu mencukupi sekitar separuh dari total kebutuhan pasar domestik.

Oleh karena itu, pasokan genetik baru ini dinilai menjadi kunci utama percepatan pemulihan populasi.

Gubernur YSK optimistis bahwa langkah impor ini tidak hanya akan memulihkan kuantitas, tetapi juga meningkatkan mutu peternakan secara jangka panjang.

"Ke depan, babi di Sulut lebih berkualitas karena genetiknya jelas. Apalagi daging babi ini kebutuhannya besar dan selalu andil pada inflasi," kata YSK.

Kenapa Harus Denmark?

Mungkin banyak pembaca yang bertanya-tanya, mengapa Indonesia dan PT SOW memilih jauh-jauh mendatangkan babi dari Denmark, bukan dari negara lain? Apakah populasi babi di Denmark memang sebanyak itu?

Denmark adalah salah satu dari sedikit negara di dunia di mana jumlah babi jauh melampaui jumlah penduduknya.

Sebagai gambaran, populasi manusia di Denmark berkisar di angka 5,9 juta jiwa, sementara populasi babinya bisa mencapai 11 hingga 12 juta ekor pada waktu-waktu tertentu.

Artinya, rasio babi dan manusia di sana hampir mencapai 2 banding 1.

Denmark bukan sekadar "banyak babi", melainkan rajanya industri babi global.

Melalui sistem DanBred (sistem pemuliaan babi Denmark), negara ini memproduksi bibit babi dengan kualitas genetik terbaik di dunia.

Babi asal Denmark dikenal memiliki pertumbuhan yang cepat, daya tahan tubuh yang kuat terhadap penyakit, serta efisiensi pakan yang sangat tinggi.

Pasca-wabah ASF yang sempat melumpuhkan peternakan Sulut pada 2023, memasukkan bibit dari negara dengan standar kebersihan dan keamanan hayati (biosecurity) super ketat seperti Denmark adalah pilihan paling aman untuk memastikan bibit yang masuk benar-benar sehat dan bebas penyakit.

Dengan mendatangkan "darah segar" genetik dari Denmark, Sulawesi Utara tidak hanya sedang menambah jumlah babi, tetapi juga sedang melakukan upgrade massal pada kualitas daging dan produktivitas peternakan lokal.

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

Anakan babi yang diimpor dari Denmark di instalasi karantina sebelum dibawa ke peternakan. Gubernur Sulut YSK mengungkapkan bahwa sebanyak 546 ekor anakan babi calon indukan telah mendarat dengan selamat di Manado pada Selasa, 7 Juli 2026 lalu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.