Merasakan Gong Fu Cha, Seni seni Seduh teh ala Tiongkok di Petak 6
Alfa Pratomo July 15, 2026 04:34 PM

Ada beragam cara menikmati secangkir teh. Salah satunya adalah Gong Fu Cha, sebuah seni menikmati teh ala Tiongkok.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari.Online.com - Sejarah Indonesia mencatat, kebiasaan minum teh di Indonesia mendapat banyak pengaruh dari Tiongkok. Ia adalahperpaduan menarik antara jalur perdagangan kuno, migrasi budaya, dan era kolonialisme.

Perjalanan budaya minum teh ini bertransformasi dari tradisi eksklusif kaum bangsawan hingga menjadi minuman merakyat di Indonesia.

Sekitar awal abad ke-7 (sebelum teh ditanam secara massal di Nusantara), kebiasaan minum teh sudah dibawah oleh para pedagang dan perantau Tiongkok ke Nusantara. Kebiasaan ini dibawa, tentu saja lewat jalur laut, dan diperkenalkan kepadamasyarakat pesisir hingga kalangan bangsawan istana.

Beberapa catatan menyebutkan bahwa teh sudah mulai dikenal di lingkungan istana pada masa Hindu-Buddha. Ia hadir sebagai sajian mewah untuk menghormati tamu-tamu istimewa dan diplomat asing.

Seiring meningkatnya gelombang imigrasi warga Tionghoa ke Nusantara (terutama ke daerah Batavia, Semarang, dan Lasem), tradisi minum teh ala Tiongkok semakin mewarnai kehidupan masyarakat Nusantara. Termasuktradisi Kung Fu Cha alias seni menyeduh teh ala Tiongkok.

Komunitas Tionghoa memperkenalkan teh sebagai minuman penghormatan untuk leluhur dan simbol kebersamaan keluarga. Kedai-kedai teh (teahouse) mulai bermunculan di permukiman Pecinan, yang lambat laun memengaruhi interaksi warga lokal dengan minuman herbal ini.

Meskipun kebiasaan minum teh dibawa oleh orang-orang Tionghoa, komersialisasi dan pembudidayaan tanaman teh justru digerakkan oleh orang-orang Kompeni VOC. Pada 1684, seorang botanis Jerman, Andreas Cleyer, yang bekerja untuk VOC, membawa bibit teh dari Cina (Camellia sinensis var. sinensis) ke Batavia.

Awalnya, tanaman ini hanya ditanam di pekarangan rumah sebagai tanaman hias karena VOC belum tahu cara mengolah daunnya menjadi minuman. Baru pada 1826, pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai serius menanam teh di Kebun Raya Bogor untuk keperluan observasi.

Transformasi teh dari minuman "elite" menjadi minuman "rakyat" terjadi saat diberlakukannya cultuurstelsel (sistem tanam paksa) oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada 1830. Belanda mendatangkan langsung ahli mengolah teh dari Cina untuk mengajari para petani lokal di Jawa bagaimana cara menanam, memetik, dan mengeringkan daun teh.

Kebun teh skala besar kemudian dibuka di daerah Jawa Barat (Priangan).

Karena para petani lokal berinteraksi langsung dengan tanaman teh setiap hari, mereka mulai memanfaatkan sisa-sisa daun teh yang tidak lolos sortir untuk diseduh sendiri di rumah. Dari sinilah kebiasaan minum teh meluas ke seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Ternyata kebiasaan minum teh dari Cina ini berkembang di Indonesia. Salah satunya, sebagaimana kita sebut di awal, seni minum teh ala Cina Gong Fu Cha.

Gong Fu Cha adalah seni atau metode tradisional menyeduh dan menikmati teh yang berasal dari Cina. Khususnya dari wilayah Fujian dan Guangdong.

Secara harfiah, Gong Fu Cha berarti "menyeduh teh dengan keterampilan atau keahlian". Metode ini bukan sekadar cara minum teh biasa, melainkan sebuah seni yang membutuhkan ketelitian tinggi untuk mengeluarkan cita rasa terbaik dari daun teh.

Keunikan Gong Fu Cha dibanding Seduh Biasa

Berbeda dengan cara menyeduh teh gaya Barat yang menggunakan teko besar dan daun teh yang direndam lama, Gong Fu Cha memiliki ciri khas tersendiri. Untuk merasakan seni seduh teh Gong Fu Cha, kami mencobanya langsung di kedai teh Piece of Peace di kawasan Petak 6 Glodok, Jakarta Barat.

Di kedai teh Piece of Peace, kami menikmati pengalaman menyeduh teh secara tradisional menggunakan set cangkir dan teko khusus--yang sering disebut sebagai gaiwan atau teko tanah liat. Menyeduhdengan metode Gong fu Cha harus menggunakan banyak daun teh tapi diseduh dengan sedikit air dalam sebuah wadah kecil.

Untuk setiap putara, daun teh itu hanya diseduh selama beberapa detik (biasanya 10 hingga 30 detik). Daun teh yang sama bisa diseduh berulang kali hingga 8–10 kali, bahkan lebih untuk teh jenis oolong atau pu-erh.

Setiap putaran seduhan akan menghasilkan gradasi rasa dan aroma yang berbeda dan terus berkembang.

Peralatan Khusus

Peralatan untuk minum teh gaya Gong Fu Cha menggunakan teko tanah liat kecil (seperti teko Yixing) atau mangkuk keramik bertutup bernama gaiwan dan dilengkapi dengan wadah pembagi (cha hai) agar kepekatan teh merata saat dituang ke cangkir-cangkir kecil.

Karena bahannya yang tidak menyerap aroma (netral), gaiwan sangat cocok digunakan untuk menilai kualitas asli dari berbagai jenis teh, terutama teh hijau, teh putih, dan oolong aromatik.

Wadah menyeduh bisa juga dari teko tanah liat Yixing yang merukan teko legendaris yang dibuat dari tanah liat berpori asal Kota Yixing. Pori-porinya yang unik dapat menyerap minyak teh dari waktu ke waktu, sehingga bisa "membumbui" teko dan membuat rasa teh (terutama oolong panggang atau pu-erh) menjadi lebih bulat, tebal, dan lembut.

Cha hai atau gong dao bei yang secara harafiah artinya "lautan teh" atau "cangkir keadilan". Cangkir ini berfungsi untuk menampung seluruh air teh yang disaring dari teko atau gaiwan sebelum dibagikan ke cangkir tamu.

Disebut "cangkir keadilan" karena alat ini memastikan semua tamu mendapatkan teh dengan kepekatan, suhu, dan rasa yang sama rata. Jika langsung dituang dari teko ke cangkir satu per satu, cangkir pertama akan terasa lebih hambar dibanding cangkir terakhir.

Ada juga peralatan yang namanya ping ming bei. Ini adalah cangkir kecil untuk menikmati teh.

Ukurannya sengaja dibuat sangat kecil (biasanya hanya 15–50 ml) agar teh bisa dinikmati dalam beberapa sesapan kecil selagi hangat. Sekaligus memaksa kita untuk meminumnya secara perlahan dan penuh apresiasi.

Seni minum teh Gong Fu Chq ini sangat mengedepankan ketenangan, kesabaran, serta apresiasi penuh terhadap aroma, warna, dan rasa dari setiap tetes teh yang disajikan. Tertarik?

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.