BANGKAPOS.COM-- Aksi seorang siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang yang diduga membawa dan meledakkan bom rakitan berdaya ledak rendah di lingkungan sekolah menggegerkan dunia pendidikan.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa (14/7/2026) itu diduga dipicu tekanan psikologis akibat perundungan yang dialami pelaku selama bertahun-tahun.
Pelaku berinisial R (17) diduga meledakkan satu bom rakitan di sekitar ruang kelas XII IPS 7 saat jam istirahat.
Ledakan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, namun memicu kepanikan siswa dan guru hingga kegiatan belajar mengajar dihentikan lebih awal demi alasan keamanan.
Hasil penyelidikan awal mengungkap, R diduga telah menjadi korban bullying sejak masih duduk di bangku sekolah dasar hingga kelas XII.
Polisi menduga tekanan yang berlangsung dalam waktu lama menjadi salah satu faktor yang mendorong aksi tersebut.
"Dari pemeriksaan awal, kami menemukan bahwa motif pelaku R adalah korban risak (bullying)," ujar Kombes Pol Yasin, dikutip dari keterangan kepolisian.
Penyidik mengungkapkan, R diduga mempelajari cara membuat bahan peledak secara mandiri melalui internet dan platform YouTube selama kurang lebih empat bulan terakhir.
Selama proses tersebut, ia disebut membeli bahan dan peralatan melalui toko daring sebelum merakit bom secara diam-diam di rumah tanpa diketahui keluarganya.
Selain itu, polisi juga menemukan informasi bahwa pelaku sempat bergabung dalam komunitas daring yang membahas bahan peledak sehingga pengetahuannya mengenai bom rakitan semakin berkembang.
Aparat masih mendalami aktivitas digital pelaku untuk memastikan apakah ada pihak lain yang ikut memengaruhi atau terlibat dalam perbuatannya.
Kapolresta Padang Kombes Pol Apri Wibowo mengatakan pelaku diduga membawa empat bom rakitan ke lingkungan sekolah.
"Sekitar pukul 10.15 WIB pelaku membawa empat bom rakitan. Satu bom sempat diledakkan menggunakan mancis di depan ruang kelas XII IPS 7, sedangkan tiga lainnya berhasil diamankan Tim Gegana Polda Sumatera Barat," ujarnya.
Meski daya ledaknya tergolong rendah dan tidak menimbulkan korban, beberapa fasilitas sekolah dilaporkan mengalami kerusakan akibat ledakan tersebut.
Usai ledakan terjadi, pelaku diduga meninggalkan lokasi dan mengganti pakaian dari seragam sekolah menjadi kaus putih serta celana biasa.
Ia juga mengenakan topi dan penutup wajah untuk menyamarkan identitas sebelum kembali memasuki lingkungan sekolah.
Menurut keterangan sejumlah saksi, R diduga berniat mencari seorang siswa yang disebut-sebut kerap melakukan perundungan terhadap dirinya.
Namun, karena gerak-geriknya mencurigakan, guru segera mengamankan pelaku.
Saat dilakukan pemeriksaan, petugas menemukan sejumlah barang yang dibawanya, di antaranya ketapel, kelereng, dan anak panah.
"Dia masuk lagi ke sekolah untuk mencari orang yang suka mem-bully-nya, tapi tidak ketemu," kata teman sekelas R, Baitikal Al Mukarromah.
Sementara itu, siswa lainnya, Deva, mengaku mengenal R sebagai pribadi yang pendiam dan jarang bergaul.
"Biasanya dia sendiri saja, pendiam, kurang bergaul. Saya pernah mengajaknya ngobrol di kantin," ujar Deva.
Ia juga mengaku pernah mendengar R beberapa kali mencari seorang siswa berinisial M yang diduga sering merundungnya.
"Dia memang pernah bilang sedang mencari si M," tuturnya.
Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Barat Kombes Pol Susmelawati mengatakan R kini menjalani pemeriksaan oleh penyidik Polda Sumbar bersama Densus 88 Antiteror dengan didampingi orang tua.
"Saat ini R didampingi oleh orang tuanya dan masih menjalani pemeriksaan oleh petugas Densus 88 serta Polda Sumbar," katanya.
Karena masih berusia 17 tahun dan berstatus pelajar, proses hukum terhadap R akan mengedepankan prinsip perlindungan anak.
Selain pemeriksaan hukum, pelaku juga akan mendapatkan pendampingan psikologis guna memulihkan kondisi mental dan emosinya.
"Karena R merupakan anak dan masih seorang siswa, kami terlebih dahulu mengutamakan rehabilitasi atau pemulihan kondisi psikologis dan emosinya. Anak ini juga merupakan korban," tegas Susmelawati.
Hingga kini, aparat kepolisian masih mendalami motif, asal-usul bahan peledak, aktivitas pelaku di dunia maya, serta kemungkinan adanya pihak lain yang berkaitan dengan kasus tersebut.
Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi selama proses penyelidikan masih berlangsung.
(TribunTrends/Grid.id/Bangkapos.com)