Karyawan PSEL Putri Cempo Solo Meninggal Setelah 11 Hari Dirawat Akibat Kecelakaan Kerja
Putradi Pamungkas July 15, 2026 06:17 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Karyawan PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Putri Cempo, Solo Jawa Tengah, Mohamad Aris, meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama 11 hari akibat kecelakaan kerja yang dialaminya. 

Korban mengembuskan napas terakhir pada Minggu (12/7/2026), setelah sempat menjalani serangkaian operasi akibat luka berat.

Kakak kembar korban, Muhammad Soehib, mengungkapkan adiknya mengalami kecelakaan kerja pada Kamis (2/7/2026).

Saat mendapat kabar, kondisi korban masih sadar meski mengalami cedera serius.

“Waktu dikabari pagi sekitar 8.30 katanya masuk IGD. Masih dilihat keadaan sadar yang dirasakan sakit. 15.30 operasi katanya udah fatal sarafnya lengan. Lengan patah. Saraf otot pembuluh dasar patah. Operasi 15.30 sampai 09.00 pagi,” tuturnya saat ditemui, Rabu (15/7/2026).

Kakak kembar almarhum Mohamad Ari, Muhammad Soehib ditemui Rabu (15/7/2026).
KARYAWAN MENINGGAL - Kakak kembar almarhum Mohamad Ari, Muhammad Soehib ditemui Rabu (15/7/2026). Mohamad Ari, karyawan PT. Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) PSEL Putri Cempo meninggal dunia Minggu (12/7/2026) lalu setelah dirawat 11 hari pasca-kecelakaan kerja.

Sempat Jalani Amputasi dan Kondisinya Membaik

Akibat luka yang diderita, tim medis akhirnya memutuskan mengamputasi tangan korban.

Setelah tindakan tersebut, kondisi Mohamad Aris sempat menunjukkan perkembangan positif dan kembali sadar.

“Kondisi operasi kedua operasi tangan dicoba nggak ada hasil sampai amputasi. Satu hari baru sadar,” jelasnya.

Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama. Korban kembali mengalami penurunan kondisi kesehatan hingga akhirnya meninggal dunia.

“Setelah itu hari Jumat kejang-kejang katanya dokter dari paru-parunya nggak ngembang. Pasang ventilator dari awal. Habis itu ya itu,” tuturnya.

Soehib mengaku tidak sempat bertemu dengan saudara kembarnya hingga korban mengembuskan napas terakhir.

“Saya malah nggak ketemu,” ungkapnya.

Baca juga: Insiden Maut di TPA Putri Cempo Solo, Teman Korban Teriak: Matikan Mesin!

Korban Baru Bekerja Beberapa Bulan

Soehib mengatakan adiknya baru bekerja di PT SCMPP sekitar Maret 2026.

Sebelum kecelakaan terjadi, Mohamad Aris bersama dirinya menjadi tulang punggung keluarga dan menghidupi sang ibu, Zubaidah.

“Sebelum kejadian orang pertama meninggal udah masuk itu,” jelas Soehib.

Kini, Soehib menjadi satu-satunya pencari nafkah bagi keluarganya.

Ia bekerja menjaga kios bunga di Pasar Gede Solo.

Beberapa waktu lalu, ia juga sempat mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak dapat bekerja selama beberapa bulan.

“Kemarin saya juga habis kecelakaan. Sakit 3-4 bulan nggak bisa kerja. Ikut orang jaga kios bunga di Pasar Gede. Support dari tetangga. Penyemangat ya dari tetangga. Saudara kan jauh-jauh,” tuturnya.

Baca juga: Karyawan yang Jatuh di Mesin Penggiling TPA Putri Cempo Solo Tinggalkan Adik yang Masih Bersekolah

Keluarga Tidak Menuntut Perusahaan

Meski kehilangan anggota keluarga, pihak keluarga memilih menerima kejadian tersebut sebagai takdir dan tidak mengajukan tuntutan kepada perusahaan.

Seluruh biaya pengobatan korban telah ditanggung oleh perusahaan, sementara santunan dan proses mediasi juga telah dilakukan.

“Namanya halangan nggak ada yang tahu. Biaya pengobatan ditanggung perusahaan semua. Santunan sudah. Mediasi juga sudah. Komisi 4 juga sudah. Lah gimana udah meninggal. Mau dikasih banyak ya nggak mungkin bisa hidup,” terangnya.

Meski demikian, Soehib berharap PT SCMPP dapat meningkatkan standar keselamatan kerja agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Soal keselamatan harus diperbaiki. Safety yang lebih penting,” jelasnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.