Gunung Fuji Jepang Terapkan Pengelolaan Ketat, Wisatawan Asing  Dominasi Lebih dari Separuh Pendaki
Eko Sutriyanto July 15, 2026 06:23 PM

 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Sejak ditetapkan sebagai Situs Warisan Budaya Dunia Unesco pada Juni 2013, Gunung Fuji menghadapi lonjakan jumlah wisatawan yang memunculkan berbagai persoalan, mulai dari kepadatan pendaki, sampah, toilet, polusi, hingga pelestarian nilai sejarah dan lingkungan.

"Pemerintah Prefektur Yamanashi kini menerapkan berbagai kebijakan pengelolaan yang lebih ketat agar kelestarian Gunung Fuji tetap terjaga sekaligus menjaga keselamatan para pendaki," ungkap   Gubernur Yamanashi prefektur,  Kotaro Nagasaki  kepada Tribunnews.com Rabu (15/7/2026).

Pada musim pendakian 2026, sekitar 52 persen pendaki Gunung Fuji berasal dari luar Jepang, sedangkan wisatawan domestik mencapai 48 persen.

Berdasarkan survei pada 2025, asal wisatawan asing didominasi oleh: Taiwan: 29 persen;  China: 19%;  Amerika Serikat: 10%;  Prancis: 3n Singapura, Malaysia, Jerman, Thailand, Kanada, Korea Selatan, dan Australia: masing-masing sekitar 1–2 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa Gunung Fuji semakin menjadi destinasi internasional yang menarik wisatawan dari berbagai negara.

Baca juga: Hari Terakhir Golden Week, WNI Rayakan Ulang Tahun Lebih Awal di Hamparan Salju Murodo Jepang

Warisan Dunia Membawa Tantangan Baru

Sejak memperoleh status Warisan Dunia UNESCO pada Juni 2013, jumlah pengunjung meningkat pesat.

Dampaknya tidak hanya berupa kepadatan di jalur pendakian dan pondok gunung (yamagoya), tetapi juga muncul berbagai persoalan seperti penumpukan sampah, keterbatasan toilet, pencemaran lingkungan, kerusakan kawasan bersejarah hingga ancaman terhadap kelestarian alam Gunung Fuji.

Karena itu, Pemerintah Prefektur Yamanashi menerapkan sistem pengelolaan yang memungkinkan jumlah pengunjung dikendalikan secara lebih efektif.

Tiket Masuk 4.000 Yen

Saat ini setiap pendaki diwajibkan membayar biaya masuk (toll pendakian) sebesar 4.000 yen per orang.

Dana tersebut digunakan untuk membiayai berbagai langkah keselamatan dan pelestarian lingkungan, termasuk pengelolaan jalur pendakian, petugas Fuji Ranger, pos pertolongan, serta pemeliharaan fasilitas di kawasan Gunung Fuji.

Langkah besar berikutnya adalah pembangunan Fuji Tram, sistem transportasi ramah lingkungan yang akan menghubungkan kawasan kaki Gunung Fuji hingga Stasiun Lima (5th Station).

Sebelum adanya Fuji Tram, sekitar 5,06 juta orang per tahun menuju Stasiun Lima menggunakan mobil pribadi maupun bus. Jumlah tersebut dinilai sulit dikendalikan karena kendaraan pribadi bebas memasuki kawasan.

Setelah Fuji Tram beroperasi, kendaraan pribadi akan dibatasi sehingga jumlah pengunjung diproyeksikan turun menjadi sekitar 2,3 juta orang per tahun.

Dengan sistem ini, Pemerintah Prefektur Yamanashi dapat mengontrol jumlah wisatawan secara lebih efektif.

Fuji Tram juga dirancang menggunakan hidrogen hijau (green hydrogen) yang diproduksi di Prefektur Yamanashi.

Dengan berkurangnya kendaraan pribadi yang memasuki kawasan Gunung Fuji, pemerintah memperkirakan akan terjadi penurunan polusi udara, berkurangnya beban lingkungan, pengurangan kemacetan, pengelolaan jumlah wisatawan yang lebih efektif, serta penurunan biaya infrastruktur karena sistem ini tidak memerlukan rel kereta maupun terowongan besar.

Melalui kombinasi pembatasan jumlah pendaki, tiket masuk, dan pembangunan Fuji Tram, Pemerintah Prefektur Yamanashi berharap kelestarian Gunung Fuji sebagai warisan dunia tetap terjaga, sekaligus menciptakan pengalaman pendakian yang lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Diskusi  beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.