Babak Baru Perang Iran Ratakan 'Vital' Amerika di Teluk, Yordania, Kuwait & Bahrain Kembali Digempur
Hadiyya QurrataAyyuun July 15, 2026 06:42 PM

Babak baru perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat kian membara setelah fasilitas vital Washington di Teluk dilaporkan hancur lebur.

Iran memperluas jangkauan tempurnya dengan kembali menggempur pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, hingga Bahrain.

Mengutip Tribunnews dan Tasnim pada (15/7), serangan Iran kali ini diluncurkan sejak Selasa (14/7/2026) malam hingga Rabu (15/7/2026) dini hari.

Rinciannya, sebagai kelanjutan dari operasi pembalasan lanjutan Angkatan Laut IRGC meluncurkan gelombang kelima Operasi Nasr 2.

Di mana, yang membombardir pusat komando dan kendali Armada Kelima AS di Bahrain.

Serangan tersebut menghancurkan pusat manajemen NSI, gudang peralatan militer, serta depot bahan bakar.

Tepat, sebagai balasan atas tindakan AS yang dinilai menutup jalur laut dan merampas minyak di Samudra Hindia.

IRGC juga memperingatkan bahwa jika ekspor minyak kawasan tidak bisa dinikmati bersama, mereka akan menutup jalur ekspor lain yang melayani kepentingan Amerika dan sekutunya.

Kemudian, dalam serangan balasan Operasi Nasr-2 gelombang keenam, IRGC meluncurkan rudal dan drone yang menghancurkan berbagai aset militer penting AS di Kuwait.

Seperti pusat komunikasi satelit, radar pertahanan udara, sistem Patriot, fasilitas logistik, serta peluncur rudal HIMARS.

Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan AS yang sebelumnya menargetkan fasilitas sipil di Iran selatan.

Termasuk gudang gandum di Hoveyzeh dan pabrik air minum di Dehloran.

Sembari menegaskan tidak memiliki permusuhan dengan Kuwait, IRGC merilis pernyataan.

Di mana, isinya yang mendesak warga setempat untuk mengusir pasukan AS serta membantu membersihkan wilayah mereka dari pangkalan militer Amerika.

Lalu, Angkatan Darat Iran meluncurkan gelombang serangan drone baru dalam Operasi Thunderbolt fase kedelapan.

Targetnya adalah hanggar militer serta jet tempur F/A-18 di Pangkalan Udara Al-Azraq AS, Yordania.

Serangan balasan kedua kalinya ke pangkalan tersebut dipicu oleh gempuran baru AS.

Sementara pihak Iran menegaskan tindakan militernya murni dilakukan demi mempertahankan integritas wilayahnya.

Di sisi lain, ketegangan kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengaktifkan kembali blokade angkatan laut di sekitar Selat Hormuz.

Untuk mendukung blokade tersebut, CENTCOM mengerahkan puluhan kapal perang serta ratusan pesawat militer.

Tujuannya, guna melancarkan gelombang serangan tujuh jam terhadap situs rudal, drone, dan pertahanan pantai Iran.

Operasi militer ini sengaja dilakukan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kapal dagang internasional.

Meskipun berisiko besar mengganggu distribusi energi dunia di jalur minyak strategis tersebut.

"Pesawat tempur AS, drone, dan kapal angkatan laut meluncurkan amunisi presisi terhadap situs rudal dan drone Iran, kemampuan angkatan laut, dan sistem pertahanan pantai selama gelombang serangan tujuh jam," demikian pernyataan CENTCOM, dikutip dari The Hill.

Semetara sekutunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan peringatan keras kepada Iran.

Terkhusus, untuk tidak melancarkan serangan baru di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Netanyahu menegaskan bahwa setiap upaya untuk menyerang negaranya akan dibalas dengan kekuatan militer yang jauh lebih dahsyat dibanding respons Israel sebelumnya.

Menurutnya, era ketika musuh dapat menyerang Israel tanpa konsekuensi berat telah berakhir.

"Zaman di mana seseorang dapat menyerang kita tanpa membayar harga yang mahal telah berakhir," tegas Netanyahu.

Serta menekankan bahwa pihak pemerintah kini telah menyiapkan berbagai skenario eskalasi.

Ultimatum ini juga ditujukan kepada seluruh jaringan kelompok sekutu Iran di kawasan.

Seperti Hizbullah di Lebanon, kelompok bersenjata di Irak dan Suriah, hingga Houthi di Yaman.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.