TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemerintah terus mendorong penguatan industri kedirgantaraan nasional melalui kolaborasi antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).
Baca juga: Karyawan BUMN PT Dirgantara Indonesia dan Indofarma Dikabarkan Belum Terima Gaji dan THR
Kerjasama tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam membangun ekosistem industri penerbangan nasional, mulai dari peningkatan kapasitas produksi pesawat hingga pengembangan layanan Maintenance, Repair and Overhaul (MRO).
Komitmen itu ditandai dengan penandatanganan Memorandum Saling Pengertian (MoU) antara PTDI dan BIJB yang disaksikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
AHY mengatakan prospek industri kedirgantaraan di kawasan Asia Pasifik masih sangat besar dan dapat menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing sektor penerbangan nasional.
"Proyeksi kebutuhan pasar regional aviation hingga tahun 2044 berdasarkan Airbus mencapai hampir US$138,7 miliar, dengan pertumbuhan lebih dari 5 persen per tahun," ujar AHY.
Selain nilai pasar yang terus meningkat, kawasan Asia Pasifik juga diperkirakan membutuhkan lebih dari 19.560 unit pesawat penumpang baru hingga 2044. Angka tersebut setara dengan sekitar 46 persen dari total permintaan pesawat komersial dunia, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu pasar paling menjanjikan bagi industri penerbangan global.
Di sektor perawatan pesawat, AHY menyebut peluang bisnis juga terus berkembang. Potensi pasar off-wing maintenance diperkirakan mencapai sekitar US$100 miliar, sementara kebutuhan tenaga kerja baru di sektor aviasi diproyeksikan mencapai sekitar 1,06 juta orang.
"Artinya, jika kita membidik pasar yang lebih luas, tentu dimulai dari kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. Setelah itu kita memiliki peluang memasuki pasar yang jauh lebih besar, termasuk untuk layanan MRO sepanjang siklus hidup pesawat," katanya.
AHY menilai Indonesia memiliki modal penting untuk memperkuat industri dirgantara melalui pengembangan pesawat N219 buatan PTDI.
Menurutnya, pesawat tersebut telah memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) lebih dari 46 persen, sehingga berpotensi menjadi tulang punggung pengembangan industri kedirgantaraan nasional sekaligus meningkatkan kemandirian teknologi.
"Kalau kita fokus pada sejumlah pesawat yang terus dikembangkan, terutama N219, ini benar-benar hasil pengembangan dan produksi dalam negeri dengan TKDN yang sudah lebih dari 46 persen. Ini merupakan capaian yang sangat baik," ujarnya.
Baca juga: AHY Nobar Piala Dunia Bareng Ojol, Tegaskan Komitmen Dukung Kesejahteraan Pengemudi
Selain mengembangkan produk dalam negeri, AHY juga menyoroti posisi PTDI yang semakin kuat dalam rantai pasok industri kedirgantaraan internasional.
Saat ini, PTDI tidak hanya menjalin kemitraan dengan produsen pesawat dunia seperti Boeing dan Airbus, tetapi juga menjadi bagian dari rantai pasok perusahaan global seperti Bell dan Honeywell Aerospace.
Menurut AHY, kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan tersebut menjadi modal penting bagi PTDI untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas transfer teknologi, serta memperkuat daya saing industri dirgantara Indonesia di pasar internasional.
Kerja sama antara PTDI dan BIJB diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem industri penerbangan yang terintegrasi, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi industri dirgantara global, tetapi juga mampu menjadi pemain utama dalam produksi pesawat, layanan perawatan (MRO), dan pengembangan teknologi kedirgantaraan di kawasan Asia Pasifik.