Penyemprotan Padi Pakai Drone di Trenggalek, Bayar Jasa Bisa Tunda Sampai Panen Tiba
Sudarma Adi July 16, 2026 01:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK – Modernisasi di sektor pertanian kini kian nyata dirasakan oleh para petani di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Masuknya teknologi pesawat nirawak atau drone untuk proses penyemprotan tanaman padi terbukti membuat operasional sawah menjadi jauh lebih murah, presisi, dan efisien dari segi waktu.

Pemandangan menarik ini terlihat di area persawahan Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, Trenggalek, pada Rabu (15/7/2026).

Senin, salah seorang petani setempat, kini tidak perlu lagi memikul tangki berat di bawah terik matahari untuk menyemprot herbisida atau pupuk.

Ia tampak santai di pematang sawah sembari menyiangi tanaman padi yang mulai berbulir, sementara sebuah drone besar yang dikendalikan oleh pilot profesional bermanuver di udara menyemprotkan cairan pelindung tanaman.

Baca juga: Pemkab Trenggalek Dorong Literasi Digital Desa Lewat Bimtek Foto dan Video Pendek

Hanya butuh waktu sekitar 4 hingga 6 menit saja bagi teknologi ini untuk menuntaskan penyemprotan satu petak lahan seluas 100 ru atau setara dengan 1.444 meter persegi.

"Kalau menggunakan drone ini kami sebagai petani tinggal melihat saja dari pinggir sawah. Jauh lebih mudah, kerjanya cepat, dan biayanya juga murah," ungkap Senin dengan semringah saat ditemui di lokasi, Rabu (15/7/2026).

Senin menceritakan, lahan persawahan yang ia garap kali ini merupakan lahan bengkok milik kepala desa setempat dengan total luasan mencapai sekitar 700 ru yang seluruhnya dijadwalkan mendapat giliran penyemprotan udara.

Dukungan Penuh Pemerintah Desa dan Swasta

Upaya digitalisasi pertanian di Desa Karanganom ini rupanya mendapat respons dan dukungan penuh dari jajaran pemerintah desa setempat.

Helper Pilot Drone Maxxi Tani Wilayah Trenggalek, Muhammad Fadlika, membeberkan bahwa agenda penyemprotan massal ini terlaksana berkat inisiatif dan pengajuan langsung dari Kepala Desa Karanganom, Muntingah.

"Kegiatan hari ini merupakan pengajuan langsung dari Bu Lurah (Muntingah). Beliau meminta bantuan kami untuk melakukan penyemprotan lahan bengkok desa menggunakan fasilitas drone," jelas Fadlika.

Pihaknya menargetkan lahan persawahan seluas 700 ru atau setara dengan 3 hingga 4 hektare tersebut bisa rampung disemprot secara merata hanya dalam kurun waktu satu hari. Durasi pengerjaan di lapangan sangat dipengaruhi oleh tata letak geografis antar-petak sawah yang terpisah.

Skema Bayar Mundur Setelah Panen Jadi Solusi

Hadirnya teknologi dari PT Maxxi Tani Teknologi ini dinilai sangat bersahabat bagi kantong petani karena mengusung skema kerja sama yang fleksibel.

Layanan paket yang ditawarkan sudah bersifat all-in, mencakup biaya operasional drone dan penyediaan obat-obatan pertanian murni non-subsidi.

Guna meringankan beban modal kerja petani di awal masa tanam, perusahaan menerapkan sistem pembayaran tunda atau bayar setelah panen.

"Sistem kami adalah kemitraan. Jasa operasional drone dan semua obat pertaniannya kami siapkan langsung. Petani bisa memilih sistem pembayaran di awal, atau bayar nanti saat masa panen tiba. Untuk tarif jasanya dipatok transparan senilai Rp100 ribu per ru," urai Fadlika.

Dengan metode ini, sebaran cairan nutrisi tanaman, fungisida (pencegah jamur), dan insektisida (anti-serangga) dapat tersebar secara merata dan presisi ke setiap helai daun padi.

Dalam satu siklus musim tanam, idealnya penyemprotan dinamis menggunakan drone ini dilakukan sebanyak dua hingga tiga kali guna menghasilkan kualitas bulir padi yang optimal saat panen tiba.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.