TRIBUN-MEDAN.com - Militer Amerika Serikat (AS) kembali meluncurkan operasi militer terhadap Iran pada Rabu (15/7/2026) pukul 06.00 waktu setempat.
Gelombang serangan udara besar-besaran ini sekaligus memberlakukan kembali blokade laut terhadap Iran.
Pihak otoritas Teheran melaporkan bahwa rangkaian pemboman tersebut telah menimbulkan kerugian signifikan bagi militer Iran.
Serangan rudal AS setidaknya menghantam barak Brigade Infanteri Mekanisasi ke-388 di Provinsi Sistan dan Baluchestan yang mengoperasikan tank serta kendaraan lapis baja.
Akibat serangan mendadak ini, sedikitnya tujuh tentara, termasuk wajib militer dan prajurit profesional, dinyatakan tewas di tempat.
Selain jatuhnya korban jiwa yang kini dilaporkan telah melampaui 30 orang dalam beberapa hari terakhir, dampak serangan udara AS juga memicu krisis kemanusiaan medis di Iran.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, mengonfirmasi bahwa lebih dari 260 orang mengalami luka-luka akibat gempuran yang terjadi dalam satu malam saja.
Angka korban luka ini tercatat sebagai salah satu yang terbesar dalam putaran pertempuran terbaru antara Washington dan Teheran.
Komando Pusat AS Central Command (Centcom) mengumumkan, operasi militer ini ditujukan langsung untuk melemahkan kekuatan militer Iran di jalur laut strategis.
"Serangan ini dirancang untuk lebih menurunkan kemampuan militer yang digunakan pasukan Iran untuk menyerang pelayaran komersial di Selat Hormuz," tulis Centcom dalam sebuah pernyataan di platform media sosial X.
Laporan lain dari pihak Iran menyebutkan, serangan terbaru AS menghantam kota pelabuhan Bushehr.
Kota tersebut menjadi lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil di negara tersebut, sebagaimana dilansir Al Arabiya.
Selain Bushehr, media pemerintah Iran juga melaporkan adanya ledakan di dekat kota pelabuhan Bandar Abbas, Pulau Qeshm, dan Bandar Imam Khomeini.
Pecahnya pertempuran ini terjadi hampir sebulan setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Islamabad yang awalnya ditujukan untuk mengakhiri perang Timur Tengah sejak Februari lalu.
Namun, situasi justru kembali memanas dengan serangan di berbagai kawasan, meskipun pembicaraan yang dimediasi oleh pihak ketiga secara formal belum berakhir.
Baca juga: Hinca Panjaitan Respon Dua Terdakwa Berstatus Anak Masih Ikut Tahapan Seleksi Akmil
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan, tindakan sepihak AS telah merusak upaya damai yang sempat terbangun.
Pemicu utama kembalinya permusuhan ini adalah perebutan kendali atas Selat Hormuz, jalur air yang sangat krusial bagi pasokan minyak dan gas global.
Serangan Iran terhadap tiga kapal cargo di Selat Hormuz menjadi titik balik yang memicu serangkai serangan AS yang menyasar sejumlah situs militer Iran.
Komandan Centcom Laksamana Brad Cooper menuduh Iran sengaja menyasar warga sipil melalui serangan terhadap tujuh kapal komersial dalam sepekan terakhir.
Serangan tersebut mengakibatkan hampir belasan awak kapal tewas, hilang, atau terluka.
"Pasukan AS meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi tidak beralasan yang terus membahayakan nyawa orang-orang yang tidak bersalah," kata Cooper.
Eskalasi ini berdampak luas ke negara tetangga. Kuwait melaporkan salah satu kapal angkatan lautnya dihantam rudal dan drone Iran hingga melukai empat awak kapal.
Sebuah kapal tanker Norwegia juga dilaporkan terkena ledakan dari perangkat tidak dikenal di lepas pantai Oman.
Insiden penembakan kapal cargo direspons AS lewat serangan yang menyasar situs militer Iran di kawasan pesisr.
Teheran kemudian membalas serangan itu dengan menembakkan rudal ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Bahrain mengklaim serang rudal dan drone dari Iran berhasil dicegat.
Militer Yordania juga mengonfirmasi telah menjatuhkan tiga rudal yang ditembakkan dari wilayah Iran.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur.
"Operasi pembalasan dari para pejuang akan terus berlanjut, dan Selat Hormuz akan tetap tertutup sampai AS menghentikan tindakan agresinya," tegas pihak IRGC.
Baca juga: Sidak SPBU di Sumut, Anggota DPR Ade Jona: 125 Sopir Truk Curang Bikin Distribusi BBM Terganggu
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump melayangkan ancaman keras.
Trump mengancam akan memperluas sasaran serangan ke fasilitas infrastruktur sipil jika Teheran menolak kembali ke meja perundingan.
"Minggu depan situasi akan menjadi sangat buruk bagi mereka," ancam Trump.
Ketika ditanya sampai kapan serangan AS akan berlangsung, Trump menjawab bahwa serangan itu "akan terus berlanjut sampai saya bilang cukup."
Pernyataan itu disampaikan di tengah operasi militer AS yang terus berlanjut terhadap Iran, sekaligus penerapan kembali blokade laut Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Trump menambahkan, perberlakuan kembali blokade laut terhadap Iran juga sudah dimulai sejak Selasa (14/7/2026).
Ini merupakan blokade kedua yang diterapkan Washington sepanjang tahun ini.
Blokade pertama diberlakukan pada April di tengah meningkatnya ketegangan dengan Teheran, dan dicabut pada Juni, sehari setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri konflik.
Sebelum memberlakukan kembali blokade tersebut, Presiden Trump sempat mengusulkan pengenaan biaya 20 persen bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz di bawah perlindungan militer AS.
Ia kemudian membatalkan gagasan itu setelah mendapat permintaan dari negara-negara sekutu di kawasan Teluk. (*/tribunmedan.com)