TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Salah satu kepala desa di Wonosobo mengikuti program Kepala Desa Masuk Kampus Angkatan I Tahun 2026 di Universitas Indonesia (UI), beberapa waktu lalu.
Apa hasilnya?
Keikutsertaan Kepala Desa Talunombo, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, Badarudin, dalam Program Kepala Desa Masuk Kampus Angkatan I Tahun 2026 di UI, 29 Juni-2 Juli silam, tak hanya membawanya pulang dengan tambahan ilmu.
Dari kegiatan tersebut, Desa Talunombo juga membuka peluang kerja sama dengan UI untuk mengembangkan program agroforestri berbasis konservasi dan ketahanan lingkungan.
Selama empat hari di lingkungan kampus UI, Depok, Badarudin bersama 433 kepala desa dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti pembelajaran mengenai tata kelola pemerintahan desa, pengambilan kebijakan berbasis data, pengembangan inovasi desa hingga strategi membangun kolaborasi lintas sektor.
Program tersebut digelar oleh Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa.
Menurut Badarudin, program tersebut bukan sekadar pelatihan, tetapi menjadi ruang belajar, berdiskusi, sekaligus membangun jejaring antara pemerintah desa, akademisi, dan kepala desa dari berbagai wilayah.
"Program ini memberikan tambahan wawasan tentang tata kelola pemerintahan desa yang baik,” kata Badarudin kepada Tribun Jateng, Rabu (15/7/2026).
“Kami belajar langsung dari akademisi, berbagi praktik baik dengan kepala desa lain yang telah berhasil membangun inovasi di desanya, sehingga banyak ilmu yang bisa kami bawa pulang," sambungnya.
Badarudin mengatakan, desa saat ini menjadi lokus utama pembangunan nasional karena hampir separuh penduduk Indonesia tinggal di wilayah perdesaan.
Kondisi tersebut membuat kepala desa dituntut tidak hanya mampu menjalankan administrasi pemerintahan, tetapi juga mampu membaca potensi wilayah, menyusun kebijakan berbasis data, serta membangun kemitraan dengan berbagai pihak.
"Ini menjadi sejarah baru ketika kampus berkolaborasi langsung dengan kepala desa dalam sebuah program yang terukur,” kata Badarudin.
“Kami tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga belajar dari pengalaman desa-desa maju dan desa mandiri di seluruh Indonesia," lanjutnya.
Dalam forum nasional tersebut, Badarudin juga memperkenalkan berbagai inovasi yang selama ini dikembangkan Desa Talunombo.
Dia menjelaskan, desa di kawasan perbukitan itu berupaya bangkit dari berbagai keterbatasan melalui pemanfaatan Dana Desa secara produktif.
Salah satunya diwujudkan melalui pembangunan jalan usaha tani dan jaringan irigasi untuk memperlancar aktivitas pertanian masyarakat.
Selain itu, Talunombo mengembangkan konsep agro-eduwisata yang menjadi kawasan pembelajaran sektor pertanian, peternakan, perikanan hingga ekonomi kreatif bagi pelajar maupun masyarakat umum.
Menurut Badarudin, konsep tersebut lahir dari kesadaran bahwa lahan pertanian semakin terbatas, sementara jumlah penduduk terus meningkat.
Oleh karena itu, desa perlu menyiapkan generasi muda yang memahami pentingnya ketahanan pangan sejak dini.
"Pertanian harus dikenalkan kembali kepada anak-anak. Ketahanan pangan menjadi isu yang sangat penting. Kalau tidak dipersiapkan sejak sekarang, ke depan kita akan menghadapi tantangan yang lebih besar," ungkapnya.
Tak hanya di sektor pertanian, Talunombo juga mengembangkan inovasi di bidang lingkungan dan energi terbarukan.
Badarudin mengatakan, desanya telah mengolah sampah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari bahan bakar alternatif, briket hingga pupuk organik.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan ekonomi sirkular sekaligus mengurangi beban lingkungan.
Selain itu, Talunombo juga memanfaatkan aliran sungai untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang digunakan sebagai sumber energi penerangan jalan dan sebagian kebutuhan listrik masyarakat.
"Inovasi lingkungan ini kami sampaikan karena isu keberlanjutan bukan hanya menjadi perhatian desa, tetapi juga menjadi perhatian dunia. Desa juga harus ikut berkontribusi menjaga lingkungan sekaligus membangun kemandirian energi," jelasnya.
Keikutsertaan dalam Program Kepala Desa Masuk Kampus juga membuka peluang kolaborasi antara Desa Talunombo dan LP3M UI.
Badarudin mengungkapkan, komunikasi awal telah dilakukan untuk mengembangkan program agroforestri di Desa Talunombo.
Program tersebut dirancang melalui penanaman berbagai tanaman obat, tanaman langka, serta vegetasi yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem dan menjadi habitat satwa liar.
Selain mendukung konservasi, agroforestri juga diharapkan mampu menjaga keberlanjutan sumber mata air yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.
"Kami berharap akademisi tidak hanya hadir memberikan materi, tetapi juga ikut mendampingi desa dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan melalui pendekatan ilmiah," katanya.
Badarudin optimistis. pengalaman mengikuti Program Kepala Desa Masuk Kampus akan memberikan dampak nyata bagi Talunombo.
Ilmu, jejaring, dan inspirasi yang diperoleh selama berada di Universitas Indonesia akan menjadi bekal menghadirkan program pembangunan yang semakin terarah, inovatif, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
"Harapan kami, melalui program ini Desa Talunombo semakin dikenal, memiliki jejaring yang lebih luas, dan mampu menghadirkan inovasi yang benar-benar berdampak bagi kesejahteraan masyarakat,” kata Badarudin.
“Ketika desa terus belajar dan berani berinovasi, desa akan menjadi kekuatan utama pembangunan Indonesia," imbuhnya. (Imah Masitoh)