Menuju Juara Sejati: Nietzsche Senyum pada Argentina, Bourdieu Tersenyum Baca Geng Makassar
AS Kambie July 16, 2026 07:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Argentina melangkah tenang menuju final. Di Sulawesi Selatan, para pendukung Albiceleste pun dapat duduk lebih lama di masjid menunggu terbitnya fajar.

Lionel Messi telah memastikan satu tempat di Final Piala Dunia 2026 bahkan sebelum iqamat Salat Subuh berkumandang di Sulawesi dan Kalimantan, Kamis, 17 Juli 2026.

Jalan Daeng Tata Raya dan Jalan Mallengkeri Raya di Kecamatan Tamalate, Makassar, masih lengang. Nyaris tak terdengar deru kendaraan. Sebagian warga baru saja mematikan televisi setelah Inggris tumbang 1-2.

Sementara itu, sekitar 16 ribu kilometer dari Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat, di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Sanrona Argentina, Alimuddin Buding, melompat-lompat kegirangan. Baginya, kemenangan itu bukan sekadar hasil pertandingan. Ia seperti menyaksikan ramalan yang kembali menemukan pembenarannya.

"Luar biasa. Argentina mampu keluar dari kesulitan demi kesulitan," ujar komentator TVRI, Rahmad Darmawan.

"Pergantian pemain yang ciamik mampu mengubah keadaan," timpal komentator lainnya.

Kalimat-kalimat itu sebenarnya bukan sekadar menjelaskan jalannya pertandingan. Di dalamnya tersimpan pengakuan bahwa sebuah tim besar tidak selalu menang karena menguasai bola, melainkan karena mampu bertahan ketika berada dalam tekanan, membaca momentum, dan mengubah nasib melalui keputusan-keputusan kecil yang tepat pada saat paling menentukan.

Baca juga: Geng Makassar Mencari Juara Piala Dunia 2026: Ketika Feeling Menantang Analisis

Baca juga: Sebelum Kick Off Semifinal Piala Dunia 2026: Feeling, Data, dan Opini Masih Berebut Kebenaran

Baca juga: Prancis vs Spanyol: Ketika La Roja Membungkam Feeling

Friedrich Nietzsche mungkin akan tersenyum melihat pertandingan Inggris vs Argentina. Laga kedua semifinal Piala Dunia 2026 membuktikan “wasiatnya”.

“Die Zucht des Leidens, des grossen Leidens.” Demikian wasiat yang ditulis awal dalam Bahasa Jerman itu. Artinya, setelah mengalami adaptasi, “Hanya penderitaan yang ditempa melalui disiplin yang mampu melahirkan manusia-manusia besar.”

Bagi telinga penutur Jerman, Leiden berarti penderitaan. Ironisnya, bagi bangsa Indonesia, Leiden juga mengingatkan pada Belanda, bangsa yang pernah menghadirkan begitu banyak penderitaan di Nusantara. Meski kini Leiden dikenal sebagai salah satu kota ilmu pengetahuan di Belanda.

Di sana berdiri Leiden University pada tahun 1575. Tempat banyak tokoh Indonesia pernah belajar atau meneliti. Tempat para orientalis yang mengkaji Nusantara dan beberapa intelektual Indonesia pada masa kolonial. Tempat banyak dosen Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Islam Negeri Alauddin (UINAM), dan perguruan tinggi lainnya.

Kehadiran Nietzsche ini terinspirasi dari tulisan Sang Penikmat Bola, Willy Kumurur, di Tribun Timur, edisi Jumat, 10 Juli 2026.Die Zucht des Leidens, des grossen Leidens

Mengutip Friedrich Nietzsche dalam Beyond Good and Evil, Willy Kumurur menulis, “Tanpa penderitaan, pencapaian besar, kekuatan batin, dan karya agung tidak akan pernah tercipta.”

Di bagian lain, Willy Kumurur menoreh, “Warga Argentina memiliki pepatah budaya yang terkenal, "si no se sufre, no es Argentina" (jika tak ada penderitaan, itu bukan Argentina), yang berarti bahwa kemenangan hanya divalidasi oleh kesulitan yang diatasi untuk mencapainya.”

Kadang penderitaan justru membongkar apa yang sebenarnya tersimpan dalam diri. Ujian terbesar sebuah habitus sapiens bukan saat mengangkat trofi. Ujian sebenarnya datang ketika tepuk tangan berhenti. Saat situasi beralih “from hero to zero”.

Orang Bugis di pedalaman, biasa menggambarkan situasi itu dengan ungkapan “Tabbale’ni nagaeh…” Artinya “Sang Naga sudah membalikkan badan/sudah balik arah). Ungkapan ini lazim terdengar dalam pertandingan domino. 

Ketika tiba-tiba satu tim ceki-palang, padahal sebelumnya lawannya yang menang beruntun dan ceki-palang, maka muncul ungkapan, “He… mappammulani tabbale’ nagaeh/sudah mulai berbalik arah Sang Naga..”

Orang Bugis yang menyebut ungkapan itu masih percaya bahwa keberuntungan kadang datang dari menghadap ke arah mana? Atau duduk menghadap ke mana?

Nah, habitus sesungguhnya teruji saat situasi mulai berbalik arah.

Argentina selalu keluar dari kesulitan. Merangsek dari penderitaan di menit-menit pertandingan. Selalu mampu “membalikkan naga” di masa akhir. Ketika kemenangan terasa sudah diraih tim sebelah, Argentina membalikkan arah kemenangan itu.

GENG MAKASSAR - Sketsa foto hasil olahan AI tentang disku anggota Grup WhatsApp Geng Makassar, 13 Juli 2026. Mereka ini sering diskusi tema apa saja di Group WhatsApp Geng Makassar, termasuk tentang Piala Dunia 2026.
GENG MAKASSAR - Sketsa foto hasil olahan AI tentang disku anggota Grup WhatsApp Geng Makassar, 13 Juli 2026. Mereka ini sering diskusi tema apa saja di Group WhatsApp Geng Makassar, termasuk tentang Piala Dunia 2026. (Tribun-timur.com/as kambie)

Geng Makassar Menjadi Saksi

Peluit belum berbunyi. Pertandingan bahkan baru akan dimulai. Namun pertandingan sesungguhnya lebih dulu berlangsung di grup WhatsApp Geng Makassar. Lebih 100 komentar menyambut dan mengiringi Inggris vs Argentina dalam WAG berisi 52 orang ini.

Diawali oleh Andi Suruji mengirim video nyanyian baru pendukung Inggris. "No Messi in New York."

Nyanyian itu bukan sekadar chant. Ia adalah perang psikologis. Pendukung Inggris ingin mengusir Messi dari final sebelum bola pertama ditendang.

“Keras permainan,” ujar Pahir Halim.

“Agak rotasa ki lapangan. Keras,” tulis Andi Suruji.

Rotasa adalah diksi dalam Bahasa Makassar untuk menggambarkan sesuatu yang ruwet. Mumet. Rumit.

"Atmosfir luar lapangan masuk ke dalam. Potensi kartu merah," tulis Husain Abdullah.

“Adami seng Mick Jagger,” kata Pahir Halim.

Arman Arfah tiba-tiba masuk lapangan, “Bagaimana firasat, Kak Pahir.”

Umpan Arman Arfah langsung disambar Pahir Halim,” Tak boleh memakai feeling, marah ketua.”

Saling umpan dan oper berlangsung ketat. Nyaris tak ada jeda.

“Sandiwara mi seng Messi,” ujar Subhan Mappaturung. 

“Inggris sudah harus bola-bola long,” kata Pahir Halim. “Seru,” balas Farid M Ibrahim.

“Inggris main selaiknya laki-laki, buranena buranea Pak FMI.” tulis Subhan Mappaturung.

Dia memakai diksi Bahasa Makassar “buranena buranea” yang berarti lelaki sejati di atas rata-rata kebanyakan pria. Bukan pria biasa.

“Inggris menang secara mental,” balas Farid M Ibrahim.

Lalu… “Golll”. Farid M Ibrahim pertama kali merayakan gol Inggris di Geng Makassar.

“Barusan tong cetak Gordon,” Husain Abdullah. Dialek Bugis-Makassarnya kental.

Grup Geng Makassar mendadak berubah menjadi ruang siaran langsung.

"Umpannya mantap,” ujar Farid M Ibrahim.

“Mantaf,” balas Pahir Halim.

Petta Prof Cak Bus Abustan membalas singkat, “Terukur.”

"Seru ini," tulis lagi Husain Abdullah.

“Mantaf tecklingnya,” balas Andi Suruji.

Beberapa menit kemudian, suasana kembali berubah.

“Ngeri,” ujar Pahir Halim.

Naga mulai berbalik.

“Terkurung, Inggris perlu solusi,” balas Husain Abdullah.

Petta Prof hanya tertawa, “ha..ha..” Mungkin dia mau meyakinkan bahwa Inggris sedang baik-baik saja.

“Ini Gordon mate-mate ula….” ujar Andi Suruji dalam diksi Bahasa Bugis untuk menunjukkan penampilan Gordon yang terlihat lemah tapi berbahaya.

“Inggris tak boleh bertahan,” ujar Pahir Halim sembari mengumpan ke Petta Prof.

“Masuk pemain bertahan. Bola dominan di sektor kiri Inggris. Untungnya Djed Spence kuat sebagai bek kiri,” ujar Husain Abdullah.

“Dumba-dumba Holigan,” Pahir Halim mengomentari video suporter yang dikirim Buyung Maksum.

“Bahaya kalau bertahan total,” tulis Husain Abdullah lagi. 

“Kipernya Inggris jago,” ujar Farid M Ibrahim berusaha menenangkan lapangan.

Tanpa sadar, anggota Geng Makassar sedang melakukan analisis taktik secara kolektif.

Tidak ada lisensi UEFA Pro. Tidak ada papan magnet. Tidak ada layar VAR.

Tetapi “kesebelasan Geng Makassar” mampu membaca perubahan formasi hanya dari pergerakan pemain.

Mereka mengetahui Djed Spence terus menjadi sasaran serangan Argentina.

Mereka menyadari Messi berkali-kali dibiarkan bebas di sisi kiri pertahanan Inggris.

Mereka bahkan menangkap keputusan Thomas Tuchel memasukkan pemain bertahan sebagai upaya mempertahankan keunggulan. Habitus bekerja.

Pengalaman menonton ribuan pertandingan selama puluhan tahun menjelma menjadi intuisi kolektif.

Geng Makassar vs Argentina tersaji secara alami.

Namun menariknya, percakapan itu kembali berubah ketika Argentina menyamakan kedudukan.

Analisis perlahan digantikan emosi.

“Jangkar pertahanan ditancapkan,” Petta Prof Cak Bus mulai memberi penilaian.

“Argentina selalu curi bola di menit-menit akhir. Memang bikin dumba-dumba. Penyerang semua dimasukkan Argentina. Inggris tambah bek,” Husain Abdullah memberi penilaian situasi terkini.

“Blokade.” singkat dan tajam tanggapan Petta Prof.

“Tuchel masukkan Grely di kiri memperkuat Spence yang terus dicecar pemain Argentina,” ujar Husain Abdullah.

Lalu… “Akhirnya… menit-menit akhir,” Husain Abdullah sudah memastikan apa yang terjadi.

Ulasan beralih pada penyebab.

“Messi selalu lepas di sektor kiri,” ujar Andi Suruji.

“Ancuuur,” teriak Pahir Halim.

“Susah Inggris menyerang karena masukkan banyak pemain karakter bertahan di menit akhir,” jelas Husain Abdullah.

“Bahaya mentong bola-bolanya Messi,” Subhan Mappaturung memberi penilaian ikhlas.

“Masih ada harapan sama Spanyol,” Husain Abdullah mulai memberi arah masa depan Geng Makassar di Piala Dunia 2026.

Kalimat-kalimat itu menunjukkan sesuatu yang sangat manusiawi. Ketika tim yang didukung menang, keputusan pelatih disebut strategi.

Ketika kebobolan, keputusan yang sama berubah menjadi kesalahan. Padahal keputusan itu identik. Yang berubah hanyalah hasilnya.

Giliran Pierre Bourdieu tersenyum membaca Geng Makassar. Arena sepakbola bukan hanya menghasilkan gol. Ia juga menghasilkan legitimasi.

Semua orang merasa menjadi pelatih. Semua orang merasa menjadi analis. Semua orang merasa paling benar.

Padahal mereka hanya sedang memperlihatkan modal simbolik yang mereka kumpulkan dari puluhan tahun menjadi penonton sepak bola.

Dan justru di situlah letak keindahan Geng Makassar. Tidak ada yang dibayar. Tidak ada kontrak televisi. Tidak ada honor sebagai komentator.

Tetapi sejak sebelum kick-off hingga peluit akhir berbunyi, mereka berhasil membangun sebuah "ruang publik" kecil. Ruang tempat pengetahuan, pengalaman, humor, firasat, dan keberpihakan saling bertabrakan. Lapangan Mercedes-Benz di Atlanta akhirnya mempunyai "stadion kedua" yang letaknya ribuan kilometer jauhnya: sebuah grup WhatsApp di Makassar.

Selama sembilan puluh menit, perhatian tertuju kepada pemain. Sesudah pertandingan, sorotan beralih kepada pelatih. Thomas Tuchel menjadi terdakwa.Padahal, beberapa menit sebelumnya para anggota grup masih menikmati gol Gordon, memuji umpannya, bahkan optimistis Inggris akan mengendalikan pertandingan. Lalu satu keputusan mengubah semuanya.

Inggris memilih bertahan. Argentina memilih menyerang. Di ruang WhatsApp Geng Makassar, keputusan itu langsung diadili. Husain Abdullah menyederhanakannya dengan analogi yang mudah dipahami. "Ibarat mobil sport dipakai off road."

Andi Suruji menimpali. "Mobil Mercy dibawa sopir pete-pete."

Dua kalimat sederhana itu sesungguhnya merupakan kritik taktik yang sangat dalam.

Mereka sedang mengatakan bahwa kualitas pemain Inggris tidak digunakan sesuai karakternya.

Bukan pemainnya yang buruk. Cara memakainya yang dianggap keliru.

Di sinilah pengalaman menonton sepakbola bertahun-tahun berubah menjadi modal pengetahuan. Tanpa papan taktik. Tanpa lisensi kepelatihan. Tanpa ruang analisis televisi.

Mereka mampu menghubungkan pergantian pemain, perubahan formasi, hingga hilangnya efektivitas Jude Bellingham.

Husain Abdullah bahkan mengingatkan bagaimana kerja sama Gordon dengan Grealish biasanya menopang permainan Bellingham dari sisi kiri. Artinya, percakapan tidak lagi berada pada level "Inggris kalah."

Diskusinya sudah masuk pada hubungan antarlini, keseimbangan sayap, dan struktur permainan.

Habitus sepakbola menghasilkan apa yang oleh Pierre Bourdieu disebut practical sense, pengetahuan yang lahir bukan dari ruang kuliah, melainkan dari pengalaman panjang hidup di dalam arena.

Namun bagian yang paling menarik justru muncul menjelang azan Subuh. Farid M. Ibrahim menulis satu kalimat yang berbeda nadanya. "Di sisi lain... barusannya Argentina menang tanpa kita merasa jengkel."

Kalimat itu sederhana. Tetapi mungkin itulah kalimat terpenting sepanjang percakapan. Seketika suasana grup berubah. Perdebatan berhenti.

Pengakuan itu penting. Dalam sosiologi Pierre Bourdieu, arena selalu dipenuhi pertarungan untuk memperoleh legitimasi. Tetapi ada saat ketika pertarungan berhenti karena seluruh pelaku arena mengakui kualitas lawannya.

Itulah yang terjadi di Geng Makassar. Argentina tidak hanya menang. Argentina memperoleh legitimasi.

Bahkan mereka yang sejak awal menjagokan Inggris akhirnya menerima kekalahan itu sebagai konsekuensi dari permainan yang memang lebih baik.

Di situlah juara sejati ditemukan. Bukan ketika trofi diangkat. Melainkan ketika lawan pun mengangguk dan berkata, "Harus diakui, Messi memang hebat."

Selama hampir dua jam, Geng Makassar berdebat tentang taktik, strategi, Messi, Tuchel, hingga Lamine Yamal. Lalu, ketika pertandingan selesai, percakapan berhenti di dua simbol yang sangat Indonesia: Subuh dan doa.

Aidir Amin Daud menulis, "Saya doakan Spanyol." Lalu Selle KS Dalle menjawab dengan gambar orang berdoa, "Aamiin ya Allah."

Dan penutupnya datang dari Andi Herry Iskandar, "Imam masjid pun telat nyalakan lampu..... he he mungkin nontonki juga."

Peluit akhir dibunyikan. Perdebatan pun selesai. Tidak ada lagi yang mempertahankan Inggris. Tidak ada lagi yang mempersoalkan Messi. Yang muncul justru doa.

Sepakbola akhirnya kembali ke tempat asal manusia: pengakuan bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada kemenangan dan kekalahan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.