Listrik Nasional Kuba Kolaps Lagi, 10 Juta Warga Terdampak untuk Ketiga Kali dalam 10 Hari
Garudea Prabawati July 16, 2026 08:34 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Kuba kembali dilanda pemadaman listrik nasional setelah jaringan listrik negara itu kolaps pada Selasa (15/7/2026).

Peristiwa ini menjadi pemadaman nasional ketiga dalam kurun kurang dari 10 hari dan membuat sekitar 10 juta penduduk kembali kehilangan aliran listrik.

Dikutip dari Al Jazeera, perusahaan listrik milik negara Unión Eléctrica (UNE) mengonfirmasi Sistem Elektro Nasional (SEN) berhenti beroperasi sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

Kementerian Energi dan Pertambangan Kuba juga mengumumkan terjadi "pemutusan total sistem kelistrikan" yang menyebabkan pasokan listrik terhenti di hampir seluruh wilayah negara tersebut.

Pembangkit Utama Mendadak Berhenti

Sementara itu, Anadolu Agency melaporkan gangguan bermula ketika Unit Felton 1, salah satu pembangkit listrik utama Kuba, berhenti beroperasi.

UNE menjelaskan penghentian operasi pembangkit tersebut memicu perubahan frekuensi listrik secara tiba-tiba hingga menyebabkan seluruh jaringan listrik nasional terputus.

Baca juga: Analis: Donald Trump Tak Akan Mampu Menumbangkan Kuba Seperti Venezuela

Pemerintah kini berupaya memulihkan pasokan listrik secara bertahap dengan membangun sistem mikro (microgrid) dan memprioritaskan pemulihan listrik untuk rumah sakit, layanan darurat, serta fasilitas vital sebelum jaringan nasional kembali diaktifkan sepenuhnya.

Krisis Energi Semakin Memburuk

Pemadaman terbaru memperlihatkan bahwa krisis energi Kuba tidak lagi bersifat sementara, tetapi telah berkembang menjadi persoalan struktural yang terus berulang.

Pemerintah Kuba menyebut blokade minyak yang diberlakukan Amerika Serikat sejak awal tahun memperparah kelangkaan bahan bakar dan mempercepat kerusakan sistem kelistrikan yang telah berusia puluhan tahun.

Kondisi tersebut semakin berat setelah pergantian pemerintahan di Venezuela, yang selama ini menjadi pemasok utama minyak bersubsidi bagi Kuba, sehingga pasokan energi terus menurun.

Di tengah tekanan dari Washington, Meksiko juga menghentikan pengiriman bahan bakar ke Kuba. Akibatnya, negara tersebut semakin bergantung pada impor energi yang terbatas.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), produksi minyak domestik Kuba hanya mampu memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan energi nasional, sedangkan sisanya masih harus dipenuhi melalui impor.

Kuba dan Amerika Serikat Saling Menyalahkan

Pemerintah Kuba menilai sanksi dan pembatasan pasokan energi dari Amerika Serikat menjadi penyebab utama krisis listrik yang terus berulang.

Sebaliknya, Washington menilai memburuknya sistem kelistrikan merupakan akibat salah urus pemerintah Kuba.

Baca juga: Trump Buka Peluang Intervensi Militer ke Kuba, Sebut Bisa Secepat Operasi Venezuela 

Dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan lalu, Duta Besar Amerika Serikat, Michael Waltz menyatakan pemerintah Kuba bertanggung jawab atas kondisi tersebut dan mendesak Havana melakukan perubahan kebijakan.

Warga Kian Resah

Pemadaman listrik yang terus berulang memicu meningkatnya keresahan masyarakat Kuba.

Sepekan sebelumnya, warga di Havana menggelar aksi protes dengan memukul panci dan wajan sebagai bentuk protes atas krisis listrik yang tak kunjung teratasi.

Dua pemadaman nasional sebelumnya bahkan membutuhkan waktu lebih dari 24 jam hingga pasokan listrik kembali pulih.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.