Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI) bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan berbagai aras gereja menggelar Seminar Nasional dan Deklarasi Kedaulatan Kesehatan Indonesia 2045 di GBI Bethel Summarecon The Journey, Kota Bandung, Jawa Barat.
DPP PIKI juga menyampaikan Buku Putih : Kedaulatan Kesehatan Indonesia 2045 yang disusun bersama berbagai institusi sebagai rekomendasi kebijakan bagi pemerintah dalam menjalankan sekaligus mengevaluasi program-program kesehatan nasional.
Wakil Menteri Kesehatan RI sekaligus Wakil Ketua Umum DPP PIKI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K), menegaskan bahwa kesehatan harus dipandang sebagai investasi strategis bagi masa depan bangsa.
“Kesehatan bukan lagi dipandang semata sebagai sektor pelayanan. Kesehatan merupakan investasi strategis bangsa. Investasi terhadap kualitas sumber daya manusia, produktivitas nasional, pertumbuhan ekonomi, dan masa depan Indonesia,” ujar dr Benjamin, Rabu (15/7/2026).
Menurut Benjamin, pemerintah saat ini terus menjalankan transformasi sistem kesehatan melalui enam pilar, mulai dari transformasi layanan primer, layanan rujukan, ketahanan kesehatan, pembiayaan, sumber daya manusia kesehatan, hingga teknologi kesehatan.
Seluruh transformasi tersebut diarahkan untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas dan merata.
Meski demikian, ia menekankan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam mewujudkan cita-cita tersebut.
Baca juga: Hashim Djojohadikusumo Pikat Pendanaan Hijau EUR 1,2 Miliar untuk Sektor Kelistrikan
“Kedaulatan kesehatan bukan hanya tugas Kementerian Kesehatan. Kedaulatan kesehatan adalah tanggung jawab seluruh bangsa. Ketika pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, organisasi profesi, dan masyarakat berjalan bersama, saat itulah Indonesia benar-benar sedang membangun fondasi Indonesia Emas 2045,” katanya.
Benjamin juga mengapresiasi langkah PIKI yang tidak hanya memberikan kritik, tetapi menawarkan solusi melalui penyusunan White Paper yang melibatkan berbagai institusi, kalangan akademisi, BPJS Kesehatan, Kementerian Kesehatan, hingga universitas.
Ia berharap seminar tersebut menghasilkan rekomendasi yang implementatif, melahirkan kemitraan baru, serta menjadi inspirasi gerakan bersama menuju Indonesia Sehat 2045.
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Dr. Akhmad Wiyagus menilai pembangunan kesehatan kini menjadi salah satu ukuran utama kekuatan sebuah negara di tengah persaingan global.
“Ketahanan sebuah bangsa tidak lagi semata-mata diukur dari kekayaan alam dan kekuatan militer, melainkan dari kualitas sumber daya manusianya. Untuk itu kesehatan yang inklusif menjadi kunci utama menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Akhmad.
Ia menegaskan bahwa kedaulatan kesehatan bukan sekadar wacana, melainkan amanat konstitusi yang menjamin hak setiap warga negara memperoleh pelayanan kesehatan serta kewajiban negara menyediakan fasilitas kesehatan yang layak.
Menurutnya, urusan kesehatan juga tidak dapat dipisahkan dari sektor lain seperti penyediaan air bersih, sanitasi, ketahanan pangan, pendidikan, perlindungan sosial, tata ruang, hingga lingkungan hidup.
Sebagai pembina pemerintah daerah, Kementerian Dalam Negeri akan terus memastikan agenda kesehatan menjadi prioritas dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah maupun penganggaran melalui RPJMD, RKPD, hingga APBD.
“Indonesia Emas 2045 membutuhkan bangsa yang sehat, tangguh, produktif, dan berdaya saing. Tidak ada pilihan lain selain bergotong royong. Seperti yang sering disampaikan Presiden, yang dibutuhkan bukan superman, tetapi super tim,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Dewan Kehormatan DPP PIKI Hashim Djojohadikusumo mengatakan transformasi bangsa yang tengah dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bertumpu pada pembangunan kualitas manusia.
Menurutnya, kesehatan, perumahan layak, lingkungan yang sehat, serta pendidikan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
“Transformasi bangsa terdiri dari beberapa unsur, yaitu kesehatan, perumahan, lingkungan, dan pendidikan. Semua itu bertujuan menciptakan manusia Indonesia yang unggul pada 2045,” ujar Hashim.
Hashim menyoroti masih tingginya persoalan gizi di Indonesia. Berdasarkan data yang ia sampaikan, sekitar 41 persen anak sekolah datang ke sekolah tanpa sarapan, sementara sekitar 21–22 persen balita masih mengalami stunting.
Ia menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu instrumen penting untuk memperbaiki kualitas gizi generasi muda.
“Kalau tidak kita perbaiki sekarang, kondisi ini akan memengaruhi perkembangan manusia Indonesia. Karena itu program MBG dijalankan untuk memperbaiki hal-hal yang selama ini masih kurang baik,” katanya.
Ketua Umum DPP PIKI yang juga Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, mengatakan sinergi antarsektor diperlukan agar berbagai program pemerintah, mulai dari Makan Bergizi Gratis hingga penyediaan rumah layak huni, dapat berjalan lebih baik dan transparan.
Ia juga menyinggung pentingnya pemanfaatan teknologi dan tata kelola pemerintahan yang transparan guna meningkatkan penerimaan negara sekaligus memperbaiki birokrasi.
“Harapannya program gizi yang lebih baik, pengelolaan MBG yang lebih baik, pengelolaan rumah layak yang lebih baik, dan pemerintahan yang semakin transparan dapat berjalan bersama melalui langkah-langkah strategis pemerintah,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengingatkan bahwa pembangunan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan penyediaan layanan medis, tetapi juga menyangkut pembentukan karakter manusia.
“Kedaulatan kesehatan tidak akan terwujud jika manusia tidak mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh. Orang yang sudah bertuhan pasti menjaga tubuhnya, pengucapannya, dan seluruh dirinya. Kesehatan masyarakat harus menjadi fondasi utama pembangunan daerah maupun nasional,” kata Dedi.
Ia juga menilai tantangan generasi menuju 2045 bukan lagi sekadar persoalan gizi, protein, tetapi juga perubahan pola hidup akibat ketergantungan terhadap gawai.
“Problem generasi 2045 bukan hanya masalah nutrisi, gizi, protein, atau tinggi badan. Rasa malas yang makin kuat menjadi ancaman. Asupan makanannya bagus, tetapi otaknya dikendalikan gadget. Anak-anak kekurangan gerak dan semakin jarang minum air putih, sementara lebih banyak mengonsumsi minuman berpemanis,” ujarnya.