Menakar Produktivitas Dua Gerbang Selatan Sumatera: Adu Daya Saing Palembang vs Bandar Lampung
Yandi Triansyah July 16, 2026 12:27 PM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Jika kita berbicara mengenai poros kemajuan di bagian selatan Pulau Sumatera, perhatian kita pasti tertuju pada dua nama besar yakni Palembang dan Bandar Lampung.

Sebagai dua kota metropolitan yang menjadi pintu gerbang utama pergerakan barang dan manusia dari Pulau Jawa, keduanya terus bersolek memodernisasi diri.

Namun, kota manakah yang benar-benar unggul jika diukur menggunakan instrumen ilmiah yang objektif?

Jawabannya tercermin dalam hasil Indeks Daya Saing Daerah (IDSD). Sebagai instrumen pengukuran resmi, IDSD berfungsi memotret tingkat produktivitas dan daya saing pada level provinsi hingga kabupaten/kota.

 Lebih dari sekadar angka, instrumen ini menjadi fondasi bagi pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan pembangunan berbasis bukti (evidence-based policy) sekaligus mengevaluasi sektor mana saja yang perlu digenjot demi memacu produktivitas wilayah.

Ketika rapor IDSD kedua kota ini dibuka dan diadu, sebuah peta persaingan yang sengit pun terlihat.

Palembang: Kokoh di Top 10 Luar Jawa

Kota Palembang membuktikan taringnya sebagai motor penggerak utama di Sumatera Selatan.

Bumi Sriwijaya ini sukses meraih peringkat teratas di wilayah Sumsel dengan mengantongi skor total IDSD sebesar 4,23. 

Catatan impresif ini tidak hanya membawa Palembang berjaya di tingkat regional, tetapi juga berhasil mengamankan posisi ke-8 dalam daftar 10 besar kota paling maju di seluruh luar Pulau Jawa.

Keunggulan Palembang ditopang oleh nilai sempurna pada beberapa aspek vital. Dari 12 pilar yang dinilai, Palembang menyabet skor mutlak 5,00 pada tiga pilar utama, yaitu:

Adopsi TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), Pasar Produk dan Ukuran Pasar

Selain itu, Palembang menunjukkan stabilitas yang kuat pada pilar Stabilitas Ekonomi Makro (4,32), Institusi (4,26), Kapabilitas Inovasi (4,25), serta Pasar Tenaga Kerja (4,14).

Kendati demikian, Kota Pempek masih memiliki pekerjaan rumah pada pilar Sistem Keuangan (3,40) dan Dinamika Bisnis (3,51) yang menjadi catatan skor terendahnya.

Bandar Lampung: Unggul di Sektor Keuangan dan Inovasi

Di sisi lain, Kota Bandar Lampung menempel ketat di belakang sebagai penantang tangguh dari Sang Bumi Ruwa Jurai. Ibu kota Provinsi Lampung ini mencatatkan nilai total IDSD yang cukup tinggi, yakni 4,14.

Meskipun secara akumulasi total berada sedikit di bawah Palembang, Bandar Lampung justru berhasil memukul balik di beberapa pilar strategis. Pada pilar Institusi, Bandar Lampung memimpin dengan skor 4,44 (berbanding Palembang 4,26).

Keunggulan mencolok lainnya terlihat pada pilar Sistem Keuangan di mana Bandar Lampung meraih skor 4,01, jauh melampaui Palembang yang hanya berada di angka 3,40.

Begitu pula pada aspek Kapabilitas Inovasi, Bandar Lampung unggul tipis dengan skor 4,43.

Sama seperti Palembang, Bandar Lampung juga berhasil mengamankan skor sempurna 5,00 pada pilar Adopsi TIK dan Pasar Produk.

Namun, langkah Bandar Lampung terganjal oleh rendahnya skor pada pilar Dinamika Bisnis yang hanya menyentuh 2,85 serta Infrastruktur di angka 3,34.

Kesimpulan 

Hasil adu data IDSD ini menegaskan bahwa predikat "maju" tidak lagi sekadar dilihat dari megahnya gedung atau ramainya jalanan, melainkan dari keseimbangan antar-sektor pembangunan.

Palembang unggul secara agregat berkat kuatnya pondasi ekonomi makro, skala pasar yang besar, serta kesiapan infrastruktur.

Namun, Palembang harus belajar dari Bandar Lampung dalam hal efisiensi institusi dan penguatan sistem keuangan daerah.

Sebaliknya, Bandar Lampung memiliki modal inovasi dan iklim keuangan yang sangat sehat, tetapi perlu mempercepat pembenahan infrastruktur fisik dan mempermudah dinamika bisnis agar produktivitas wilayahnya dapat melesat lebih tinggi guna mengejar ketertinggalan tipis dari tetangganya di utara.

     

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.