TRIBUNSUMSEL.COM -- Selama ini, ingatan masyarakat luas tentang kuliner Palembang hampir selalu tertuju pada pempek dan pindang.
Namun, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan ini sebenarnya menyimpan kekayaan gastronomi yang jauh lebih luas, variatif, dan unik.
Mulai dari inovasi makanan berkuah yang tidak biasa hingga eksistensi minuman tradisional bernama "bir" yang sama sekali tidak memabukkan.
Kekayaan tersembunyi ini diungkap akademisi sekaligus dosen STISIPOL Candradimuka, Dr. (c) Sumarni Bayu Anita, S.Sos., M.A., CPR.
Hadir sebagai narasumber dalam podcast Women's Corner di Gedung Graha Tribun yang beralamat di Jalan Letjen H. Alamsyah Ratu Perwiranegara No.120, Bukit Lama, Kec. Ilir Barat I, Kota Palembang, Sumatera Selatan, bersama host Ray Happyeni, ia membagikan hasil penelitian disertasinya mengenai komunikasi pariwisata kuliner.
Melalui riset berbasis data yang divalidasi lewat Focus Group Discussion (FGD) lintas sektor melibatkan Dinas Pariwisata, budayawan, hingga pemandu wisata tercatat ada 265 varian kuliner khas Palembang yang berhasil didokumentasikan.
Dalam dialog tersebut, Sumarni menjelaskan bahwa pengenalan ratusan kuliner ini tidak sekadar menjadi data di atas kertas, melainkan dipraktikkan langsung di lapangan.
Konsep ini diwujudkan melalui kerja sama dengan komunitas lokal seperti Palembang Good Guide (PGG) untuk mengemas paket perjalanan menyusuri jejak kuliner lokal bingen (kuno).
Sejauh ini, terdapat dua rute utama yang telah dikembangkan secara kreatif.
Rute pertama menyusuri sepanjang aliran Sungai Musi, di mana wisatawan diajak menaiki perahu ketek dan singgah di sentra pembuatan pempek Kampung Tujuh Ulu, melihat proses pengolahan ikan putak secara tradisional di dekat rumah rakit, hingga menikmati tradisi makan bersama secara adat (ngidang).
Sementara itu, rute kedua adalah wisata darat yang membedah potensi kuliner di kawasan Kuto.
Di rute inilah wisatawan akan diajak menemukan sisi lain dari inovasi rasa kuliner Palembang yang jarang diketahui oleh publik luas di luar wilayah tersebut, salah satunya adalah varian model kuah susu.
"Kalau yang di Kuto... itu benar-benar baru. Kita mencicipi model kuah susu," ungkap Sumarni, dalam Podcast Women's Corner yang tayang Rabu (15/7/2026) di Youtube Tribun Sumsel.
Saat host Ray Happyeni memastikan apakah menu unik tersebut benar-benar diperjualbelikan secara komersial, Sumarni mengiyakannya.
"Ada. Itu juga si Yogi itu yang salah satu pikiran juga orang anak Kuto tuh. Mengeksplorasi tempat-tempat yang viral tapi yang cuma diketahui oleh orang-orang sekitar." jawabnya.
Selain menikmati sensasi gurihnya model kuah susu, perjalanan menyusuri kawasan Kuto ini ditutup dengan mengunjungi kedai legendaris setempat untuk menikmati hidangan berat nan khas, seperti martabak kuah kari dan sajian nasi goreng merah yang ikonik.
Lebih lanjut, dokumentasi 265 varian kuliner ini merinci begitu banyak jenis kudapan berdasarkan bahan baku dan klasifikasinya.
Sumarni menyebutkan ada 34 varian khusus untuk kategori kue basah asin, yang meliputi martabak ubi, dadar jiwo, godo-godo, hingga aneka olahan beras ketan seperti ketan punar dan ketan serundeng.
"Yang pempek sendiri itu ada 24 jenis. Kalau yang kue basah manis itu ada paling banyak 78 jenis. Kalau kue kering nih sedikit nih cuman lima jenis. Yang uniknya kue kering kita itu semuanya terbuat dari tepung sagu. Kayak kue satu kacang hijau, kue satu sagu, kue satu asem, bangkit sagu sama rentak. Nah, itu kue kering khas Palembang tuh. Itu kalau ada yang lain nyebutin kayak nastar itu bukan dari Palembang. Kita harus bisa mengakui logowo itu memang bukan Palembang dan tidak masuk di sini," papar Sumarni
Untuk hidangan pencuci mulut (dessert) bercita rasa manis, Palembang mendominasi dengan 78 jenis kue basah manis, termasuk ragam kue bolu legendaris seperti bolu 8 jam, maksuba, lapis kojo, hingga bluder.
"Kalau bolu nih banyak nih. Ada bolu 8 jam, maksuba, lapis puan, bolu senting, lapis kojo. Oh ya, saya beberapa kali nulis di Instagram bahwasanya lapis legit itu dari Palembang gitu ya. Memang asalnya dari Palembang. Jadi masuk di sini ya itu masuk di kue lapis. Tapi sebutannya sekarang menjadi lapis legit. Lapis kojo, engka ketan, kue lapis abang putih, kue yang di tengah-tengahnya itu selai nanas." tambahnya.
Namun, dari ratusan daftar inventarisasi kuliner yang dipaparkan, keberadaan 'Bir Palembang' menjadi salah satu poin yang paling memicu rasa penasaran.
Mengingat mayoritas masyarakat kerap salah paham dengan minuman ini.
"Bir Palembang itu bukan Bir beneran yang ada alkoholnya, bukan yang memabukkan, kayak minuman jahe gitu ya. Jadi istilahnya aja Bir Palembang dan tidak memabukkan," jelas Sumarni mematahkan asumsi miring mengenai minuman tersebut.
Sumarni menambahkan bahwa masuknya nama Bir Palembang ke dalam daftar varian kuliner otentik ini telah melalui proses konfirmasi dan kurasi ketat bersama budayawan lokal setempat, salah satunya mendiang Yudi Sharofie.
Langkah dokumentasi berbasis riset ilmiah ini diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Palembang sebagai kota tujuan wisata gastronomi unggulan di Indonesia.
Tetapi juga mengedukasi masyarakat agar tetap konsisten menggunakan istilah lokal asli seperti es kacang abang dan pempek pisang sebagai bentuk kebanggaan dan pelestarian identitas budaya.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com