TRIBUNPRIANGAN.COM – Membangun kesejahteraan dari masjid diwujudkan melalui optimalisasi fungsi masjid sebagai pusat spiritual, sosial, dan ekonomi umat.
Hal ini dapat dicapai melalui pengelolaan dana zakat, infak, dan wakaf (ZISWAF) yang produktif, pembentukan Baitul Maal wa Tamwil (BMT), serta penyelenggaraan program pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Berbicara perihal Jumat esok hari, tepatnya di hari Jumat tanggal 17 Juli 2026, kita selaku laki-laki beragama muslim akan melaksanakan ibadah Salat Jumat.
Hari Jumat yang merupakan Sayyidul Ayyam atau Penghulunya Hari pun diyakini oleh kaum muslimin sebagai hari yang penuh keberkahan.
Khusus untuk khutbah pada Jumat esok hari, berikut merupakan naskah khutbah Jumat tanggal 17 Juli 2026 yang sudah TribunPriangan.com lansir dari berbagai sumber tentang "Membangun Kesejahteraan dari Masjid".
Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 17 Juli 2026: Dosa Ringan Tapi Menahan Langka Kaki ke Surga
Khutbah 1
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam, yang dengan rahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul di masjid yang mulia ini pada momentum shalat Jumat kali ini. Rahmat dan karunia ini harus kita syukuri karena bersyukur adalah perbuatan yang diutamakan dalam agama Islam. Bersyukur tidak hanya berhenti pada ucapan, tetapi juga terwujud dalam tindakan kita sehari-hari. Dengan bersyukur, kita akan melihat banyak nikmat yang mungkin sering terlupakan. Bahkan dalam tantangan dan cobaan, terdapat hikmah yang bisa kita ambil, dan itulah sebabnya kita harus selalu bersyukur.
Selanjutnya, mari kita tingkatkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW dengan memperbanyak shalawat dan salam kepadanya. Nabi adalah teladan terbaik bagi kita yang senantiasa memberikan tauladan dalam laku dan ajarannya. Mulianya nabi sampai disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi:
لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ يَا مُحَمّد لما خَلَقْتَ الأَفْلَاك
Artinya: “Jika bukan karena engkau wahai Muhammad, tidak akan aku ciptakan alam semesta ini”
Selanjutnya, khatib juga menyampaikan wasiat kepada seluruh jamaah wabil khusus kepada diri khatib pribadi untuk menguatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. Takwa yaitu:
امْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيْهِ سِرًّا وَعَلَانِيَّةً ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
Melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya baik dalam keadaan sepi maupun ramai, lahir dan juga batin. Dengan ketakwaan yang tertanam dalam diri kita, maka kehidupan akan senantiasa berada dalam jalan Allah swt.
Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 17 Juli 2026: Banyak Jalan Menuju Surga, Mengapa Harus Memilih Durhaka?
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 18:
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
Artinya: “Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Dari makna ini bisa kita artikan bahwa pada hakikatnya, meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki kita di masjid adalah wujud lahiriah yang paling nyata dari makna-makna kepatuhan. Terlebih Rasululullah bersabda:
وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا
Artinya: “Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri.” (HR Bukhari dan Muslim).
Sabda Rasulullah yang mengaitkan masjid dengan bumi ini menunjukkan bahwa masjid merupakan pusat berbagai aktivitas yang lebih luas dan bisa membawa kesejahteraan lahir dan batin sekaligus kesejahteraan dunia dan akhirat melalui ikhtiar-ikhtiar memakmurkannya. Bukan hanya kesejahteraan untuk jamaah dan masjid itu sendiri, namun lebih luas lagi yakni kesejahteraan masyarakat. Dengan makna luas ini, umat Islam harus terus menguatkan peran masjid dalam memberi kemaslahatan bagi masyarakat melalui peningkatan kesejahteraan dan terwujud peradaban mulia.
Sejarah juga sudah menunjukkan bahwa ketika Rasulullah berhijrah ke Madinah, hal pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid. Ini menunjukkan bahwa masjid memang merupakan pusat kehidupan dan peradaban yang dibangun oleh Islam.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 17 Juli 2026: Dosa Ringan Namun Menahan Langkah Kaki ke Surga
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memakmurkan masjid guna mensejerahterakan umat adalah dengan memperkuat beberapa sektor kehidupan seperti pendidikan, ekonomi, sosial, dan kesehatan. Pada sektor pendidikan, masjid bisa dimaksimalkan perannya untuk memperdalam ilmu dan nilai-nilai agama serta moral masyarakat yang akan membentuk karakter setiap individunya. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai kemasan program di antaranya mendirikan lembaga pendidikan, kegiatan-kegiatan pengajian yang terstruktur, dan aktivitas keilmuan lainnya.
Pada sektor ekonomi, masjid bisa dimaksimalkan fungsinya dengan berbagai program seperti mendirikan lembaga perekonomian yang mampu menjadi pusat pergerakan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan lingkungan. Ketakmiran masjid juga bisa menguatkan perekonomian dengan meningkatkan kemampuan serta keterampilan sumber daya jamaah melalui program pelatihan keterampilan dan wirausaha.
Penguatan kesejahteraan dari masjid juga bisa dilakukan dengan penguatan bidang sosial melalui maksimalisasi potensi filantropi. Misalnya, masjid dijadikan pusat penggalangan dana zakat, infak, sedekah, dan distribusi bantuan-bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan. Sementara penguatan kesehatan bisa ditempuh dengan mendirikan fasilitas kesehatan seperti klinik ataupun apotek yang bisa diakses oleh jamaah dan masyarakat setiap saat. Penyuluhan kesehatan dan berbagai program untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat bisa dikemas oleh para takmir sehingga masjid benar-benar mampu menjadi pusat kegiatan umat Islam yang memberi dampak luas pada masyarakat.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 17 Juli 2026: Banyak Jalan Menuju Surga Allah, Mengapa Harus Memilih Durhaka?
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Dengan memaksimalkan peran-peran ini, masjid dapat menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat kesejahteraan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Hal ini memerlukan kerjasama yang kuat antara pihak masjid, komunitas, dan lembaga pemerintah untuk menciptakan dampak positif yang berkelanjutan. Kekompakan dan manajemen yang yang profesional menjadi hal penting untuk diperhatikan dalam mengelola masjid dan program-program kemaslahatan di dalamnya.
Jika semua aktivitas kemaslahatan ini diniati dengan baik, maka semua akan dicatat sebagai bentuk ibadah yang akan mendapatkan ganjaran dari Allah swt. Kita perlu menyadari bahwa cakupan ibadah di dunia ini sangatlah luas. Berbagai amal atau aktivitas kita di dunia bisa bernilai ibadah jika diniatkan dengan baik. Sehingga niat menjadi hal yang penting dalam kita memulai dan melakukan segala aktivitas dalam kehidupan kita sehari-hari. Niat menjadi pijakan awal apakah aktivitas yang kita lakukan nanti akan bernilai ibadah atau tidak. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits riwayat Muttafaq alaih:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya setiap amalan pastilah disertai dengan niat. Dan setiap pelaku amalan hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan.”
Jika ibadah-ibadah ini bisa di-istiqamahkan oleh kita semua melalui masjid, maka mudah-mudahan akan berdampak positif bagi diri kita dan orang lain. Rasulullah bersabda:
إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوْا لَهُ بِاْلإِيْمَانِ
Artinya: “Apabila kamu melihat seseorang membiasakan diri (beribadah) di mesjid, maka bersaksilah bahwa ia orang yang beriman." (Riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi)
Baca juga: Khutbah Jumat 17 Juli 2026: Kucing Takut Air Tapi Rezekinya Ikan, Sedetail Itu Allah Jamin Rezekimu
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Demikian khutbah Jumat ini semoga bermanfaat bagi kita semua untuk memaksimalkan potensi masjid sebagai pusat kesejahteraan masyarakat. Semoga kita diberikan kekuatan dan keistiqamahan oleh Allah swt untuk dapat memakmurkan masjid dengan berbagai ibadah di dalamnya. Amin
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah 2
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ