TRIBUNNEWS.COM - Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali melambat hingga hampir berhenti setelah konflik antara AS dan Iran kembali memanas di kawasan Teluk Persia, Kamis (16/7/2026).
Situasi ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dunia, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak dan gas terpenting di dunia yang setiap harinya dilalui sekitar 20 persen distribusi energi global.
Laporan terbaru dari Lloyd's List, publikasi perdagangan maritim internasional, menyebut lalu lintas kapal di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam sejak meningkatnya ketegangan militer antara Washington dan Teheran.
Menurut laporan tersebut, kapal-kapal dagang non-Iran kini hampir tidak terlihat melintasi jalur perairan strategis tersebut karena perusahaan pelayaran dan pemilik kapal memilih menunda perjalanan atau mengalihkan rute demi menghindari risiko terjebak dalam konflik bersenjata di kawasan tersebut.
"Pengiriman barang non-Iran praktis telah lenyap," tulis Lloyd's List dalam laporannya mengenai kondisi terbaru di Selat Hormuz, mengutip dari Al Jazera.
Sementara itu sejumlah kapal yang tetap nekat melintasi Selat Hormuz dilaporkan menggunakan metode yang dikenal sebagai "transit gelap" atau dark transit.
Metode ini dilakukan dengan mematikan transponder atau sistem identifikasi otomatis kapal (AIS) yang biasanya digunakan untuk mengirimkan posisi dan identitas kapal secara real time.
Dengan mematikan sinyal tersebut, kapal menjadi lebih sulit dilacak oleh pihak lain, termasuk potensi ancaman militer di kawasan konflik.
Baca juga: Kesepakatan Damai Batal, AS Umumkan Serangan Udara ke Iran, Hantam Target Militer Dekat Selat Hormuz
Namun, langkah ini juga meningkatkan risiko keselamatan pelayaran karena kapal menjadi tidak terlihat dalam sistem pemantauan lalu lintas laut internasional.
Data perusahaan pelacakan pelayaran global Kpler menunjukkan hanya tujuh kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu (15/7/2026), turun signifikan dibandingkan 13 kapal pada hari sebelumnya.
Sebagian besar kapal yang masih berlayar memilih menggunakan jalur pelayaran di sisi perairan Iran.
Dari tujuh kapal tersebut, empat kapal memasuki kawasan Teluk Persia yang terdiri atas tiga kapal tanker minyak berukuran kecil tanpa muatan dan satu kapal curah yang mengangkut biji-bijian.
Sementara tiga kapal lainnya keluar dari Selat Hormuz dengan membawa muatan berupa gas petroleum cair (LPG), batu bara, dan minyak bakar.
Pada sehari sebelumnya, Kpler juga mencatat sebuah kapal tanker jenis Suezmax yang membawa sekitar satu juta barel minyak mentah Arab Saudi berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan kondisi transponder dimatikan.
Akibatnya, posisi kapal tersebut tidak dapat dipantau melalui sistem identifikasi pelayaran normal. Yang menjadi perhatian pasar adalah tidak adanya kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu.
Selain itu, tidak ada satupun kapal pengangkut gas alam cair (LNG) yang tercatat melintas pada hari yang sama.
Absennya kapal-kapal berkapasitas besar tersebut dinilai menjadi indikator meningkatnya kekhawatiran industri pelayaran terhadap risiko keamanan di kawasan.
Apabila kondisi ini berlangsung lebih lama, gangguan distribusi energi global berpotensi terjadi dan dapat memicu lonjakan harga minyak serta gas dunia.
Meningkatnya ketegangan pelayaran terjadi setelah pemerintah Iran melaporkan adanya baku tembak antara Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan pasukan militer Amerika Serikat di Selat Hormuz pada Rabu dini hari.
Menurut laporan Tasnim News Agency, rentetan ledakan yang terdengar di Bandar Abbas dan sejumlah wilayah pesisir Provinsi Hormozgan berasal dari bentrokan di perairan Selat Hormuz.
Laporan serupa juga disampaikan Mehr News Agency yang menyebut suara ledakan di wilayah timur Sirik berkaitan dengan pertempuran di kawasan Teluk Persia.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan serangkaian serangan tambahan terhadap target-target Iran.
Baca juga: Iran Diduga Lacak Pergerakan Pasukan AS via Ponsel, Ancaman Siber Meningkat di Timur Tengah
Menurut CENTCOM, operasi tersebut dilakukan untuk melemahkan kemampuan Iran yang dinilai digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Tidak lama setelah itu, militer AS juga mengumumkan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap kapal-kapal yang bergerak menuju maupun keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.
CENTCOM menyebut lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut AS serta ratusan pesawat militer kini dikerahkan di berbagai wilayah Timur Tengah.
"Pasukan Amerika tetap waspada, mematikan, dan siap siaga," demikian pernyataan CENTCOM.
Dengan meningkatnya aktivitas militer di kawasan dan semakin berkurangnya kapal yang berani melintas, dunia kini menanti apakah Selat Hormuz akan tetap terbuka atau justru berubah menjadi titik krisis energi terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
(Tribunnews.com/Namira)