Semen di Aceh Tengah Langka, Harga Melonjak Nyaris Rp 100 Ribu per Sak
Budi Fatria July 16, 2026 02:54 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah

TribunGayo.com, TAKENGON – Kelangkaan semen melanda Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, dalam beberapa pekan terakhir mulai menimbulkan dampak serius bagi masyarakat dan penyedia jasa kontruksi.

Kondisi ini tidak hanya menghambat pembangunan infrastruktur, tetapi juga membebani masyarakat yang sedang berjuang dalam pemulihan ekonomi pascabencana hidrometeorologi.

Berdasarkan pantauan TribunGayo.com di sejumlah toko bangunan di Takengon, hingga Kamis (16/7/2026), persediaan semen mengalami penurunan drastis.

Kendala Logistik dan Infrastruktur

Fahrizal, seorang pedagang material bangunan, mengungkapkan bahwa pasokan semen ke wilayah dataran tinggi Gayo telah terhenti selama hampir dua bulan terakhir.

Selain semen BBM juga krisis di Aceh Tengah >>> BBM Langka di Aceh Tengah, Sopir dan Warga “Menjerit” Ekonomi Tersendat

Menurutnya, kendala utama terletak pada faktor infrastruktur jalan.

“Pasokan tidak bisa seperti dulu lagi karena kondisi jalan yang tidak mendukung. Armada angkutan terpaksa membatasi kapasitas muatan agar tidak merusak jalan, sehingga jumlah semen yang sampai ke sini terbatas,” ujar Fahrizal, Rabu (15/7/2026).

Harga Meroket Tajam

Minimnya pasokan memicu penawaran harga eceran yang signifikan.

Semen merek Andalas yang dalam kondisi normal berkisar Rp 65.000 per sak, kini melonjak hingga Rp 90.000 hingga Rp 95.000 per sak.

Harga tersebut bervariasi tergantung pada fluktuasi modal di tingkat pengecer.

Selain masalah distribusi lokal, kenaikan harga ini juga dipicu oleh faktor makroekonomi, seperti nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Hal ini berdampak pada kenaikan biaya bahan baku di tingkat pabrik, yang kemudian mengurangi volume produksi dan kuota pengiriman ke daerah-daerah, termasuk dari Lhokseumawe dan wilayah pantai barat Aceh.

Dampak bagi Masyarakat

Meski harga melambung tinggi, permintaan masyarakat tetap tinggi. Warga yang sedang merehabilitasi rumah pascabencana maupun pelaku konstruksi lokal terpaksa membeli dengan harga tinggi demi melanjutkan pembangunan.

Untuk menyiasati kelangkaan, toko milik Fahrizal kini membatasi penjualan hanya sekitar 20 sak per hari guna pemerataan bagi pelanggan.

Fenomena ini pun memicu kekhawatiran luas, mengingat semen merupakan komponen vital dalam proses pemulihan fisik dan perekonomian Aceh Tengah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.