TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gunung Merapi dilaporkan mengalami 23 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-28 mm dan lama gempa 55.86-186.15 detik.
Selain itu, tercatat pula 25 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2-30 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 18.72-51.77 detik.
Serta 1 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 3 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 16.2 detik.
Hal itu berdasarkan hasil laporan terakhir BPPTKG Yogyakarta sepanjang periode pengamatan hingga siang ini, Kamis (16/7/2026), hingga pukul 12.00 WIB.
Hingga saat ini, Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan Level III (Siaga) untuk gunung berapi aktif di perbatasan DIY dan Jawa Tengah tersebut.
Untuk pengamatan visual, Gunung api tertutup Kabut 0-III.
Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak.
Sementara cuaca teramati berawan hingga mendung, angin lemah ke arah barat.
Suhu udara sekitar 21.9-27.5°C. Kelembaban 46-74.2 persen. Tekanan udara 876.4-919.7 mmHg.
Baca juga: Jalur Pendakian Pasar Bubrah Dinilai Tak Aman Saat Status Merapi Siaga, Ahli: Jangan Naik
Lebih lanjut, BPPTKG Yogyakarta menyampaikan rekomendasi terkait potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Masyarakat juga agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya, dan mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Selain itu, masyarakat juga diimbau agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (*)