Sistem ERIC-SWM di Jombang Berhasil Tekan Volume Residu Sampah ke Landfill
Titis Jati Permata July 16, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id, JOMBANG - Dari sekitar 530 ton sampah yang dihasilkan masyarakat Kabupaten Jombang setiap hari, ternyata hanya sekitar 180 ton yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Banjardowo.

Sisanya telah ditangani lebih dulu melalui berbagai fasilitas pengelolaan sampah di tingkat masyarakat, mulai dari Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) hingga pengelolaan berbasis masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang Miftahul Ulum mengatakan, rata-rata sampah yang masuk ke TPA Banjardowo mencapai sekitar 180 ton per hari dengan frekuensi sekitar 135 rit kendaraan pengangkut.

Baca juga: Kunjungi Gresik, Menteri Jumhur Hidayat Apresiasi Inovasi Pengelolaan Sampah Sekolah

Namun, seluruh sampah tersebut tidak langsung ditimbun.

"Setiap sampah yang masuk diproses melalui tahapan penimbangan, pemilahan, pengomposan, hingga residu yang akhirnya masuk ke landfill. Sistem ini merupakan bagian dari penerapan Program ERIC-SWM," ucapnya kepada SURYA.co.id, Kamis (16/7/2026).

Sampah Ditimbang Terlebih Dahulu

Di TPA Banjardowo, sampah terlebih dahulu ditimbang menggunakan jembatan timbang sebelum dipilah sesuai jenisnya. 

Sampah organik kemudian diolah menjadi kompos, sedangkan sisa yang tidak dapat dimanfaatkan kembali menjadi residu dan ditempatkan di area landfill.

DLH mencatat, unit pemilahan (sorting) di TPA memiliki kapasitas hingga 25 ton sampah per hari. 

Sementara fasilitas pengomposan mampu mengolah sekitar dua ton sampah organik setiap hari.

Dari proses tersebut, tingkat efisiensi pemilahan mencapai sekitar 8,1 persen atau setara 2,275 ton per hari. 

Adapun residu hasil pemilahan yang dikirim ke landfill mencapai sekitar 22,72 ton per hari.

"Secara keseluruhan, volume sampah yang masuk ke area landfill tercatat sekitar 153 ton per hari," ujarnya.

Pembangunan TPA Banjardowo

TPA Banjardowo dibangun melalui dukungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Program Emission Reduction in Cities-Solid Waste Management (ERIC-SWM).

Program ini menerapkan sistem sanitary landfill, yakni metode pengelolaan sampah melalui pengurukan dan pemadatan yang dilengkapi fasilitas untuk mengurangi risiko pencemaran air tanah sekaligus menekan emisi gas metana.

Fasilitas yang berdiri di atas lahan sekitar 39 hektare itu dikelola Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Jombang dengan dukungan 57 tenaga kerja.

Menurut Ulum, keberadaan berbagai fasilitas pengelolaan sampah di luar TPA menjadi salah satu faktor yang mampu menekan volume sampah yang harus dibuang ke TPA.

Saat ini, Jombang memiliki 34 TPS 3R yang tersebar di sejumlah wilayah serta didukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

"Dengan pola tersebut, beban sampah yang masuk ke TPA dapat terus ditekan," pungkasnya.

Alur Pengelolaan Sampah di Jombang

Paparan mengenai sistem tersebut disampaikan saat kunjungan Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat ke TPA Banjardowo pada Rabu (15/7/2026). 

Dalam kesempatan itu, Pemerintah Kabupaten Jombang memperlihatkan alur pengelolaan sampah mulai dari penerimaan, penimbangan, pemilahan, pengomposan hingga pengelolaan residu.

Pengelolaan sampah di TPA Banjardowo pun mendapat apresiasi dari Menteri Lingkungan Hidup.

Menurut Jumhur, sistem yang diterapkan di Jombang menunjukkan perubahan dari pola lama yang hanya mengandalkan kumpul, angkut, dan buang.

Pemilahan sampah telah dilakukan sejak dari sumber, berlanjut selama proses pengangkutan, hingga kembali dilakukan di TPA sehingga volume sampah yang benar-benar ditimbun menjadi jauh lebih sedikit.

"Pengelolaan sampah di Jombang sudah berjalan dengan baik. Sampah dipilah sejak awal sehingga yang masuk ke TPA hanya sebagian dan masih melalui proses pemilahan kembali," ucapnya kepada SURYA.co.id, Rabu (15/7/2026).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.