TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemkot Yogyakarta menggelar prosesi jamasan pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti di Plaza Balai Kota Yogyakarta, Kamis (16/7/2026).
Prosesi pembersihan pusaka pemberian Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini menjadi tradisi tahunan Pemkot Yogyakarta, sebagai simbol pelestarian budaya yang mengandung makna Manunggaling Kawula Gusti.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, yang memimpin langsung prosesi jamasan mengungkapkan gelaran ini merupakan agenda budaya yang rutin dilaksanakan setelah prosesi jamasan pusaka di Kraton.
Tahun inipun menjadi pengalaman pertama baginya memimpin prosesi jamasan, setelah didapuk menggantikan Wali Kota Hasto Wardoyo yang berhalangan hadir karena kegiatan lain bersamaan.
"Tadi saat dijamas, terlihat pamornya sangat luar biasa. Garis-garis pada bilah tombak semakin tampak jelas setelah dibersihkan. Ini menunjukkan kualitas karya para empu zaman dahulu yang memang sangat tinggi," katanya.
Menurut Wawan, nama Wijaya Mukti juga mengandung doa dan harapan supaya Kota Yogyakarta senantiasa berjaya, berkembang, serta membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Sehingga, pihaknya mendorong seluruh aparatur di lingkup Pemkot Yogyakarta, untuk mengilhami prosesi ini sebagai pelecut semangat dalam memacu pembangunan daerah.
"Filosofinya adalah bagaimana kita tetap berjaya dan berkembang untuk kemaslahatan. Nah, yang paling penting masyarakat merasa aman dan nyaman. Itulah tujuan yang ingin kita capai," imbuhnya.
Baca juga: Pemkot Yogyakarta Dorong Kelurahan Optimalkan Nilai Jual Produk Lokal untuk Genjot PAD
Sementara, Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta yang mendampingi prosesi jamasan, Victor Mukhammadenis Hidayatullah, menjelaskan Tombak Kyai Wijaya Mukti adalah pusaka pemberian Kraton pada Pemkot Yogyakarta pada tahun 2000, sebagai simbol amanah kepemimpinan.
Menurutnya, tombak tersebut memiliki dapur Tumenggung Urup dengan pamor Pengkondisen, dan dibuat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VIII.
"Tombak Wijaya Mukti menjadi pengingat bagi wali kota, jajaran pemerintah, dan masyarakat, bahwa untuk mencapai kejayaan yang nyata harus ditempuh melalui kerja keras," jelasnya.
Ia menambahkan, tombak sepanjang sekitar 2,5 meter tersebut kondisinya masih sangat terawat karena konsisten melalui prosesi jamasan rutin setiap tahun.
Dalam proses perawatannya, digunakan bahan-bahan tradisional seperti air jeruk, minyak wangi, sampai larutan khusus yang berfungsi melindungi bilah pusaka dari korosi. (*)