TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal utang pemerintah yang telah menembus Rp 8.000 triliun.
Purbaya meminta publik tidak hanya melihat besarnya nominal utang pemerintah saja tetapi juga membandingkannya dengan ukuran perekonomian nasional.
Menurut Purbaya, indikator yang digunakan untuk menilai kesehatan fiskal suatu negara bukanlah nilai utang semata, melainkan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Saya bolak-balik ngejelasinnya, orang itu dilihat dibanding dengan size ekonominya kan. Jadi kita selalu bandingkan dengan size ekonominya jangan nominalnya saja," kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan standar internasional yang mengacu pada Maastricht Treaty, rasio utang pemerintah Indonesia masih berada jauh di bawah batas aman.
"Jadi kita kalau pakai di fiskal itu kan di bawah 60 persen, harusnya di bawah 60 persen kita masih 40 persen jadi masih jauh dari ininya. Itu ukuran dari kesinambungan utang yang memakai standar yang paling strict di dunia, Maastricht Treaty itu," ujarnya.
Purbaya menambahkan, rasio utang Indonesia juga masih lebih rendah dibandingkan sejumlah negara maju.
"Sedangkan negara-negara lain sudah tidak, sudah melanggar semua sekarang kan. Amerika 100 persen lebih, Singapura 175, Jerman 60-an lebih, Jepang 275, jadi tinggi-tinggi jadi kita masih amat prudent dari sisi itu," katanya.
Baca juga: Akhirnya Anak Menkeu Purbaya Buka Suara Dituding Main Judi Bola, Yudo Ogah Minta Maaf Gara-gara Ini
Ia juga mengaitkan kondisi tersebut dengan keputusan lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) Global Ratings yang baru-baru ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.
"Jadi kalau melihat kondisi keamanan fiskal suatu negara ya harus datang dengan acuan-acuan yang pas. Makanya kemarin S&P bilang kita outlook-nya tetap stabil BBB karena mereka melihat itu juga dan mereka melihat bagaimana kita cara mengelola anggaran. Walaupun di dalam negeri sudah ribut, sebenarnya bagus," ujar Purbaya.
Saat ditanya mengenai kemampuan pemerintah membayar kembali utang, Purbaya menegaskan kondisi fiskal Indonesia masih sangat aman.
Menurut dia, apabila kemampuan pembayaran utang diragukan, lembaga pemeringkat sudah lebih dulu menurunkan outlook maupun peringkat kredit Indonesia.
"Kalau kita dianggap tidak mampu pasti sudah unstable atau negatif atau mungkin sudah downgrade," katanya.
Purbaya juga mencontohkan kondisi kas pemerintah yang menurutnya masih kuat.
Ia menyebut pemerintah bahkan memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang sebagian ditempatkan di perbankan untuk mendukung likuiditas tanpa mengurangi nilai aset negara.
"Jadi Anda mempertanyakan S&P? Secara teoretis ya cukup tidak ada masalah. Saya masih kebanyakan duit kan sampai dibagi-bagi, dari SAL saya pindahkan, dari BI saya pindahkan ke perbankan itu artinya apa? SAL itu tidak dipakai kan? 130-an sampai akhir tahun tidak akan dipakai karena kalau mau pakai harus izin DPR," ujar Purbaya
Sumber: Kompas.com