5 Fakta Kasus Alex Cristo Dokter PPDS Ditemukan Tewas di Semak-Semak, Ada Luka Berbentuk Titik
Weni Wahyuny July 16, 2026 05:32 PM

TRIBUNSUMSEL.COM - Sederet fakta terkait kematian Alex Cristo Loris Situmorang (31), dokter residen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Riau (FK UNRI).

Sebelumnya, warga digegerkan dengan penemuan jasad dr. Alex Cristo di area semak-semak samping RSUD Tengku Rafian, Siak, Riau, pada Selasa (14/7/2026) siang.

Peristiwa tragis ini menyisakan duka yang sangat mendalam bagi sang istri, dr. Yuliati Marbun, yang juga merupakan sesama dokter dan rekan sejawatnya.

Sebelum ditemukan meninggal dunia, korban sempat dilaporkan menghilang secara misterius sejak Senin (13/7/2026) petang.

Baca juga: Sosok dr Yuliati Marbun, Istri Dokter Alex Cristo Menangis Temukan Suami Tewas, Baru 2 Tahun Menikah

Hingga saat ini, pihak kepolisian bersama tim forensik masih terus melakukan penyelidikan intensif guna mengungkap misteri di balik kematian dokter berusia 31 tahun tersebut.

Berikut deretan fakta-fakta dan hasil penyelidikan sementara terkait tewasnya dr. Alex.

1. Baru Bertugas Satu Minggu

Saat ini, Alex tercatat sebagai mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi pada Fakultas Kedokteran Universitas Riau (FK UNRI).

dr. Alex tercatat baru bertugas sekitar satu pekan sejak awal Juli 2026 sebagai dokter residen anestesi di RSUD Tengku Rafian.

Alex pun meninggalkan sang istri, dr. YM (31), yang juga bertugas dan tinggal bersama di asrama RSUD Tengku Rafian Siak.

Pilunya, sang dokter diketahui baru membina rumah tangga bersama sang istri, dr. Yuliati Marbun selama dua tahun setelah menikah pada 6 Juli 2024.

2. Kronologi Hilang

Kasat Reskrim Polres Siak, AKP Raja Kosmos P., mengatakan, korban diketahui menghilang sejak Senin (13/7/2026) petang.

Firasat buruk dr. Yuliati Marbun bermula ketika sang suami tak kunjung kembali ke mes tempat mereka tinggal bersama di lingkungan RSUD Tengku Rafian Siak pada Senin (13/7/2026) petang.

Khawatir karena nomor telepon suaminya tiba-tiba tidak aktif, ia berinisiatif mencari di sekitar area asrama dan menanyakan keberadaan dr. Alex kepada rekan-rekan sejawatnya.

"Berdasarkan rekaman CCTV, korban keluar dari rumah sakit pada pukul 18.06 WIB. Sejak malam itu korban sudah dicari karena handphone-nya tidak aktif," kata Kosmos, dilansir dari Tribunpekanbaru.com.

Baca juga: Sosok Alex Cristo Dokter PPDS Ditemukan Meninggal di Semak-Semak Samping RSUD Tengku Rafian

Melalui pemeriksaan rekaman CCTV rumah sakit, kekhawatiran dr. Yuliati kian terbukti.

Kamera pengawas merekam momen terakhir dr. Alex berjalan seorang diri keluar melalui pintu depan Pos Security II menuju arah luar area rumah sakit pada pukul 18.06 WIB.

Pihak keluarga, petugas keamanan, dan rekan sejawat pun dikerahkan untuk melakukan pencarian semalam suntuk namun tidak membuahkan hasil.

Rekan sesama dokter sempat kompak mencari korban, bahkan sampai menggunakan aplikasi pelacak ponsel Find My di iPhone.

3. Ditemukan Telentang di Semak-Semak

Pencarian berakhir memilukan pada Selasa (14/7/2026) siang sekitar pukul 11.30 WIB.

Petugas keamanan yang menyisir area luar pagar pembatas rumah sakit mendapati tubuh dr. Alex dalam posisi telentang dan sudah tak bernyawa di tengah semak belukar, berjarak sekitar 5 meter dari pagar rumah sakit.

Momen paling menyayat hati pecah ketika dr. Yuliati Marbun tiba di lokasi kejadian.

Sang istri yang tiba di lokasi langsung menangis histeris meratapi raga suaminya yang sudah terbujur kaku.

Sambil menangis histeris di hadapan jasad dr. Alex, ia berulang kali memanggil nama suaminya dengan kalimat pilu, “Sayang… ayo kita pulang.”

Setelah ditemukan, pihak kampus langsung mengurus proses autopsi di RS Bhayangkara Polda Riau hingga membantu mengantarkan jenazah ke rumah duka di Bagan Batu, Rokan Hilir.

Baca juga: Kronologi Alex Cristo Loris, Dokter Anestesi RSUD Tengku Rafian Siak Tewas di Semak, Istri Menjerit

4. Ditemukan Luka Kekerasan Benda Tumpul

Kasubbid Penmas Bidang Humas Polda Riau, AKBP Rudi Samosir mengatakan, pemeriksaan jenazah korban telah dilakukan di Instalasi Kedokteran Forensik dan Pemulasaran Jenazah RS Bhayangkara Pekanbaru.

Pemeriksaan dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Kabid Dokkes Polda Riau, Kasubbid Dokpol Biddokkes Polda Riau, dokter forensik Biddokkes Polda Riau, dokter residen dan dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Riau, serta teknisi forensik.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, pada jenazah korban ditemukan luka berbentuk titik disertai pembengkakan pada punggung tangan kiri. Selain itu, tim dokter juga menemukan memar pada bagian kepala yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul," jelas Rudi, Rabu (15/7/2026).

Dari pemeriksaan, juga ditemukan sejumlah luka pasca-kematian (post-mortem) pada bagian leher, dada, perut, punggung, serta kedua lengan.

Berdasarkan pola dan gambarannya, luka-luka tersebut diduga merupakan bekas gigitan serangga yang terjadi setelah korban meninggal dunia.

Pada organ-organ dalam, tim forensik menemukan pelebaran pembuluh darah dan pembendungan (kongesti).

Namun demikian, temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan penyebab kematian.

"Dari hasil pemeriksaan sementara, penyebab kematian korban belum dapat ditentukan. Tim masih menunggu hasil pemeriksaan histopatologi forensik dan toksikologi forensik sebagai pemeriksaan konfirmasi," ujar Rudi.

Tim dokter memperkirakan, korban meninggal dunia sekitar 12 hingga 24 jam sebelum proses pemeriksaan dilakukan.

5. Polisi Periksa 5 Saksi

Penyelidikan kasus kematian dr. Alex Cristo Loris, dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) anestesi yang ditemukan meninggal di semak belukar di samping RSUD Tengku Rafian Siak, terus bergulir.

Kasat Reskrim Polres Siak AKP Raja Kosmos P mengatakan, hingga saat ini penyidik telah memeriksa sedikitnya lima orang saksi.

Mereka terdiri dari petugas sekuriti, sopir, pegawai RSUD Tengku Rafian yang pertama kali menemukan jasad korban, rekan sejawat korban sesama PPDS anestesi dr. Mayang, serta dr. Benny.

“Dokter Benny merupakan dokter anestesi senior sekaligus pembimbing korban selama bertugas di RSUD Tengku Rafian,” kata Raja Kosmos, Kamis (16/7/2026).

Menurut Raja Kosmos, pemeriksaan terhadap para saksi dilakukan untuk menyusun rangkaian peristiwa.

Terutama sebelum korban ditemukan meninggal dunia di semak belukar yang berada di samping rumah sakit.

Ia menegaskan, proses pemeriksaan belum berhenti.

Penyidik masih terus mendalami keterangan para saksi untuk mengungkap secara utuh penyebab meninggalnya dokter berusia 31 tahun tersebut.

“Sekarang masih diintensifkan dilakukan pemeriksaan saksi. Nanti akan kami update bagaimana perkembangannya,” ujarnya.

Ikuti dan Bergabung di Saluran WhatsApp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.