TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kandidat Ketua Umum PBNU, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam menceritakannya kecintaannya kepada sepak bola dan Argentina.
Masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU periode 2026-2031, Gus Salam mengatakan dirinya sebagai pendukung Tim Nasional Argentina yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Kaus putih bergaris biru langit yang kerap dikenakannya menjadi ciri khas yang kembali ramai diperbincangkan ketika Argentina akhirnya melaju ke final Piala Dunia 2026.
Dari berbagai unggahan di akun media sosialnya, Gus Salam memang dikenal sebagai penggemar berat skuad La Albiceleste.
Kecintaannya terhadap Argentina bahkan disebut sudah dimulai sejak Piala Dunia 1986 ketika Diego Maradona membawa negaranya menjadi juara dunia.
"Dari 1986 sampai sekarang, tetap Argentina. Ini soal istiqomah," canda Gus Salam saat berbincang santai usai nonton bareng di Malang, dikutip Kamis (16/7/2026).
Bagi pengasuh pesantren tersebut, mendukung satu tim selama puluhan tahun bukan sekadar persoalan sepak bola, tetapi juga tentang nilai kesetiaan, konsistensi, dan komitmen.
Menurutnya, karakter itulah yang juga menjadi pegangan dalam mengabdi di lingkungan Nahdlatul Ulama maupun saat mengelola pesantren.
Gus Salam pun tetap optimistis tim kesayangannya juara lagi di Piala Dunia kali ini.
"Argentina. Dalam kesetiaan tidak ada kata berpaling hati. La Albiceleste, si putih-biru langit, skuad Tango pasti juara lagi pada Piala Dunia 2026. Saya kan pakai kaos putih bergaris biru langit, ya optimis menang lah," ujarnya sambil tersenyum.
Di tengah padatnya aktivitas sebagai kiai dan tokoh NU, Gus Salam dikenal tetap meluangkan waktu berolahraga.
Kalimat yang kerap ia sampaikan kepada para santri menjadi alasan mengapa dirinya tidak pernah meninggalkan olahraga.
"Ulumu al-dien (ilmu-ilmu agama) itu penting, tapi kesehatan badan juga penting. Agar sehat dan kuat mengaji, sekaligus kuat mengurus pondok dan NU," kata dia.
Katib PCNU Jombang periode 2017-2022, KH Ahmad Samsul Rijal atau Gus Rijal, mengatakan kecintaan Gus Salam terhadap sepak bola sudah lama dikenal di lingkungan pesantren.
Menurutnya, hampir di setiap agenda luar kota, Gus Salam selalu menyempatkan diri bermain mini soccer atau futsal bersama para kiai muda, santri, maupun masyarakat setempat.
"Beliau hobi, pecinta sepak bola sejati. Kemarin, di tengah Bahtsul Masail FMPP ke-45 se-Jawa-Madura di Malang, Gus Salam masih menyempatkan nonton bareng pertandingan Spanyol melawan Belgia," kata Gus Rijal.
Keesokan harinya, lanjut dia, Gus Salam kembali mengajak para peserta Bahtsul Masail menyaksikan laga Inggris kontra Norwegia.
"Kalau sudah nonton bareng kiai-kiai muda pesantren, ekspresinya heboh. Isi kitab dalam bahtsu kalah fasih dikomentari saat mengekspresikan para bintang sepak bola," ujar Gus Rijal.
Aktivitas olahraga juga disebut menjadi bagian dari cara Gus Salam mempererat silaturahmi.
Saat berkunjung ke Kendari pada 7 Juli lalu, misalnya, ia menutup rangkaian pertemuan dengan PWNU-PCNU Sulawesi Tenggara melalui nonton bareng pertandingan babak 16 besar Argentina melawan Mesir.
Sementara pada Kamis (16/7/2026), Gus Salam dijadwalkan mengikuti pertandingan persahabatan mini soccer di Palembang melawan Asatidz FC dan Jurnalis FC sebelum menyaksikan semifinal Piala Dunia bersama para koleganya.
Menurut Gus Rijal, kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa olahraga bukan sekadar hiburan bagi Gus Salam, tetapi juga menjadi media membangun komunikasi dengan berbagai kalangan.
Bagi Gus Rijal, kesetiaan Gus Salam kepada Argentina selama hampir empat dekade mencerminkan karakter pribadi yang juga terlihat dalam kiprahnya di NU.
Ia menyebut Gus Salam dikenal memiliki kebiasaan yang konsisten, mulai dari rutin menghadiri rapat organisasi hingga menjaga tradisi mengajar di pesantren.
Baca juga: Gambaran Perjuangan Argentina Ada di Penggalan Kata Simeone soal Messi
"Kesetiaan pada hal-hal kecil namun ajeg dan berlangsung lama justru membentuk watak dan karakter Gus Salam. Kepribadiannya itu bisa ditelusuri dari kebiasaannya selama berkhidmah di NU, mengelola pesantren, dan merawat tradisi ngaji hingga para alumni," ujarnya. (*)