TRIBUNNEWS.COM - Di balik kemegahan turnamen Piala Dunia yang rutin menghadirkan berbagai momen ikonik pada setiap edisinya, ternyata ada satu fakta mencengangkan yang masih belum terpecahkan.
Yakni masih belum pecahnya kutukan pelatih asing yang bisa membawa negara yang ia latih sebagai juara di Piala Dunia.
Terbaru, kegagalan Timnas Inggris yang dibesut Thomas Tuchel ke final Piala Dunia 2026, memastikan kutukan tersebut kembali berlanjut.
Dalam sejarah Piala Dunia, hampir keseluruhan tim yang pernah memenangkan gelar Piala Dunia, nyatanya memang punya pola yang sama.
Dan pola tersebut yakni siapapun negara yang berhasil menjadi juara Piala Dunia, hampir keseluruhan dilatih oleh pelatih lokal.
Pola ini jelas menjadi salah satu fakta yang menarik sekaligus mencengangkan, karena ternyata Piala Dunia tidak ramah bagi pelatih asing.
Baca juga: DNA Argentina di Semifinal Piala Dunia, Kalah Bukanlah Pilihan di Buku Sejarah Tim Tango
Sebelumnya, turnamen Piala Dunia 2026 yang baru pertama kali digelar dengan 48 negara, memang menimbulkan berbagai pro kontra.
"Menurut saya, Piala Dunia 2026 menarik karena mempertemukan lebih banyak negara dalam format baru, tetapi kualitas kompetisi tetap akan ditentukan oleh kemampuan tim beradaptasi dengan tekanan turnamen," kata Putri Indah Nazareta, Dosen S1 PJKR FKOR UNS sekaligus Kabid Binpres ESI Surakarta, saat dihubungi Tribunnews.
Sejak diselenggarakan perdana pada 1930, tim yang selalu keluar sebagai juara di akhir turnamen, memang selalu ditangani oleh pelatih dari negara tersebut.
Contohnya pada tahun 1930, saat Uruguay menjadi juara perdana di Piala Dunia.
Kala itu, Uruguay dilatih oleh Alberto Suppici yang merupakan pelatih lokal saat memenangkan turnamen Piala Dunia edisi pertama.
Pada masa berikutnya, ketika Italia mencetak sejarah fenomenal dengan meraih gelar Piala Dunia dalam dua edisi beruntun, masing-masing pada tahun 1934 dan 1938.
Vittorio Pozzo yang merupakan pelatih lokal Italia, diketahui menjadi dalang utama kejayaan Gli Azzurri pada dua edisi Piala Dunia tersebut.
Pola ini terus berlanjut sampai edisi 2022, ketika Argentina dinisbatkan diri sebagai juara pada tahun tersebut.
Lionel Scaloni yang menjadi arsitek Argentina saat meraih kejayaannya di edisi tersebut, diketahui juga merupakan pelatih yang berasal dari negara tersebut.
Hal itu seakan makin mempertegas bahwa jika negara jagoan anda ingin menjadi juara di Piala Dunia, sebaiknya mempercayakan komando kepelatihan kepada pelatih lokal, bukan pelatih asing.
Asa untuk mengakhiri kutukan pelatih asing tidak pernah bisa membawa tim yang ia tangani menjadi juara Piala Dunia, sebenarnya sempat ada ketika Inggris melaju ke babak semifinal Piala Dunia.
Sayangnya, langkah Inggris terhenti saat dipecundangi secara menyakitkan oleh Argentina di semifinal, Kamis (16/7/2026) dinihari tadi.
Kekalahan comeback dengan skor 2-1 melawan Argentina, seketika membuyarkan harapan Inggris untuk mengakhiri paceklik gelar Piala Dunia yang mereka rasakan hampir 60 tahun lamanya.
Kini, Inggris hanya bisa memiliki kesempatan untuk memperebutkan gelar juara ketiga Piala Dunia 2026, melawan Prancis pada Minggu (19/7/2026) mendatang.
Tersingkirnya Inggris di babak semifinal, juga menyisakan duka bagi Thomas Tuchel selaku pelatih.
Ya, Tuchel harus menerima pukulan telak karena kesempatan dirinya untuk mengakhiri kutukan pelatih asing di Piala Dunia terhenti.
Padahal, jika Tuchel bisa membawa Inggris lolos ke final, ia punya kesempatan untuk mencetak sejarah fenomenal dengan menjadi pelatih asing pertama yang bisa membawa negara lain berjaya di Piala Dunia.
Sayangnya, hal itu dipastikan sudah sirna, setelah Inggris kalah melawan Argentina di semifinal, dinihari tadi.
Adapun gelaran Piala Dunia edisi kali, dipastikan masih akan meneruskan pola lama bahwa tim yang juara merupakan tim yang dilatih oleh pelatih lokal.
Antara Luis De La Fuente (Spanyol) dan Lionel Scaloni (Argentina), salah satu dari sosok dua pelatih inilah yang bakal menjadi tokoh utamanya di final Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung pada Senin (20/7/2026) jam 02.00 WIB.
1930: Alberto Suppici (Uruguay)
1934: Vittorio Pozzo (Italia)
1938: Vittorio Pozzo (Italia)
1950: Juan López (Uruguay)
1954: Sepp Herberger (Jerman Barat)
1958: Vicente Feola (Brasil)
1962: Aymoré Moreira (Brasil)
1966: Alf Ramsey (Inggris)
1970: Mário Zagallo (Brasil)
1974: Helmut Schön (Jerman Barat)
1978: César Luis Menotti (Argentina)
1982: Enzo Bearzot (Italia)
1986: Carlos Bilardo (Argentina)
1990: Franz Beckenbauer (Jerman Barat)
1994: Carlos Alberto Parreira (Brasil)
1998: Aimé Jacquet (Prancis)2002: Luiz Felipe Scolari (Brasil)
2006: Marcello Lippi (Italia)
2010: Vicente del Bosque (Spanyol)
2014: Joachim Löw (Jerman)
2018: Didier Deschamps (Prancis)
2022: Lionel Scaloni (Argentina)
(Tribunnews.com/Dwi Setiawan)