Gedung Merdeka dan Perubahan Fungsinya Sejak Dibangun pada 1895
Alfa Pratomo July 16, 2026 06:35 PM

Gedung Merdeka yang menjadi salah satu ikon pariwisata Kota Bandung pernah berkali-kali berubah fungsi. Dari tempat pesta hingga konferensi bersejarah.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com - Sejarah Indonesia mencatat, Kota Bandung berdiri pada 1810, pada awal masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Awalnya, pusat pemerintahan Kabupaten Bandung berada di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot). Mengingat lokasinya yang kurang strategis karena sering dilanda banjir dan letaknya cukup jauh dari proyek jalan yang sedang dibangun oleh Belanda--benar, yang kita maksud adalah proyek Jalan Raya Pos, maka pusat pemerintahan itu kemudian dipindahkan.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, Herman Willem Daendels, membangun De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos yang membentang di utara Krapyak. Daendels memerintahkan Bupati R.A. Wiranatakusumah II memindahkan ibu kota kabupaten ke area yang dekat dengan jalan raya tersebut.

RA Wiranatakusumah II punmemilih lokasi baru di dekat Sumur Bandung (wilayah Alun-alun saat ini). Pemindahan ini diresmikan melalui surat keputusan (besluit) Daendels pada 25 September 1810. Tanggal itu kini ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung.

Karena kondisi topigrafis dan iklimnya, Bandung kemudian dapat julukan Rarijs van Java, yang secara harfiah berarti "Paris dari Jawa". Julukan ini muncul konon karena dulu tata kotanya rapi, udara yang sejuk, serta tren mode yang selalu berkiblat ke Prancis.

Pada 1 April 1906, Bandung resmi berstatus sebagai Gemeente (Kotamadya) terpisah dari kabupaten. Wilayah ini kemudian berkembang sangat pesat berkat perkebunan teh dan kopi di sekitarnya.

Orang-orang Eropa mulai membangun fasilitas mewah seperti hotel (Hotel Preanger dan Savoy Homann), kafe, butik, hingga gedung pertemuan (Sociëteit Concordia) yang kemudian bersulih rupa menjadi Gedung Merdeka.

Gedung Merdeka adalah salah satu bangunan bersejarah di Kota Bandung, letaknya Jalan Asia Afrika No. 65. Gedung ini pertama kali dibangun pada 1895 dengan nama Sociëteit Concordia dan digunakan sebagai tempat berkumpulnya kaum elite Belanda di Bandung.

Gedung Merdeka pernah mengalami renovasi menjadi bergaya Art Deco. Pada 1921, gedung ini dirombak total oleh arsitek terkenal C.P. Wolff Schoemaker menjadi gedung pertemuan yang sangat mewah dan modern dengan gaya arsitektur Art Deco yang megah. Setelah itu pada 1940, arsitek A.F. Aalbers melakukan pembenahan kembali pada sayap kiri bangunan agar tampilannya kian menarik.

Gedung Merdeka mengalami perubahan fungsi dari masa ke masa

Menurut beberapa sumber, Gedung Merdeka telah melewati beberapa pergantian fungsi seiring dengan perubahan peta politik di Indonesia.

Sebagaimana disebut di atas, pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, gedung ini berfungsi sebagaisuper clubatau tempat rekreasi, hiburan, dansa, dan sosialisasi eksklusif bagi para pengusaha, pejabat, dan warga keturunan Eropa di Bandung. Sementara ketika Jepang datang, gedung ini diubah namanya menjadiDai Toa Kaikan, dan fungsinya juga berubah menjadi pusat kebudayaan dan tempat pertemuan para pejabat Jepang.

Setelah Indonesia merdeka,gedung ini sempat menjadi markas pemuda Indonesia yang ketika itu gigih mempertahankan kemerdekaan, dan kemudian digunakan untuk pertemuan umum pemerintahan.

Menjelang 1955, pemerintah Indonesia menetapkan Bandung sebagai tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA). Bung Karno kemudian mengubah nama gedung ini menjadi Gedung Merdeka, sebagaimana kita kenal saat ini.

Di gedung inilah para pemimpin dari berbagai negara Asia dan Afrika berkumpul untuk merumuskan Dasasila Bandung.

Setelah Pemilu 1955, gedung ini sempat dijadikan tempat sidang bagi anggota Konstituante RI sebelum fungsi legislatif tersebut dipindahkan ke Jakarta pada tahun 1971.

Gedung Merdeka masih kokoh berdiri hingga saat ini.Pada Maret 1980, dalam rangka memperingati 25 tahun KAA, Presiden Soeharto meresmikan bagian dalam gedung ini sebagai Museum Konferensi Asia Afrika.

Saat ini, Gedung Merdeka berfungsi penuh sebagai museum sejarah, pusat edukasi, dan situs cagar budaya nasional. Pengunjung dapat masuk ke dalam untuk melihat ruang sidang utama yang bersejarah, foto-foto dokumentasi KAA, diorama, serta perpustakaan yang menyimpan dokumen-dokumen penting terkait diplomasi dunia. Gedung Merdeka jugamenjadi salah satu landmark paling ikonik dan lokasi berfoto dengan rnuansa kolonial (vintage) favorit para wisatawan yang berkunjung ke kawasan Jalan Asia Afrika di kota berjuluk Kota Kembang itu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.