AS Setujui Penjualan Sistem Rudal Presisi Rp 31 T ke Arab Saudi yang Hadapi Ancaman Langsung Iran
Hasiolan Eko P Gultom July 16, 2026 06:38 PM

AS Setujui Penjualan Sistem Rudal Presisi Rp 31 T ke Arab Saudi yang Hadapi Ancaman Langsung Iran

 

TRIBUNNEWS.COM - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dilaporkan menyetujui potensi penjualan sistem rudal berpemandu presisi beserta peralatan pendukung kepada Arab Saudi dengan nilai sekitar US$1,96 miliar atau sekitar Rp31 triliun (kurs Rp16.000 per dolar AS).

Dalam pernyataannya, Departemen Luar Negeri AS menyebut Arab Saudi mengajukan permintaan untuk membeli hingga 10.000 unit sistem panduan udara-ke-udara dan 10.000 unit sistem panduan udara-ke-darat Advanced Precision Kill Weapon System II (APKWS-II).

Baca juga: Yordania Kutuk Serangan Rudal Houthi ke Arab Saudi: Berawal Sengketa Pesawat Iran

Paket penjualan tersebut juga mencakup berbagai perlengkapan pendukung, antara lain:

  • Peluncur rudal udara-ke-udara LAU-131
  • Hulu ledak berdaya ledak tinggi Mk-152
  • Nesin roket MK66
  • Sumbu jarak dekat
  • Hulu ledak latihan WTU-1/B
  • Mesin roket inert MK66
  • Peralatan pengujian
  • Peralatan peluncuran dan pengoperasian, suku cadang, komponen perbaikan, serta dukungan logistik dan program lainnya.

Menurut Departemen Luar Negeri AS, rencana penjualan ini sejalan dengan kebijakan luar negeri dan kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat karena memperkuat kemampuan pertahanan salah satu sekutu utama non-NATO di kawasan Teluk.

Washington menilai peningkatan kemampuan pertahanan Arab Saudi akan membantu negara tersebut menghadapi ancaman saat ini maupun di masa depan, sekaligus meningkatkan interoperabilitas atau kemampuan operasi bersama dengan militer AS.

Pemerintah AS juga menegaskan bahwa penjualan tersebut tidak akan mengubah keseimbangan militer dasar di kawasan dan tidak akan berdampak pada kesiapan pertahanan Amerika Serikat.

Kontraktor utama dalam rencana penjualan ini adalah BAE Systems yang berbasis di Nashua, New Hampshire.

Meningkatnya Ancaman Langsung dari Iran

Persetujuan penjualan sistem rudal presisi ini dapat dipandang sebagai bagian dari strategi AS memperkuat pertahanan negara-negara Teluk di tengah meningkatnya ancaman dari Iran.

Namun, efektivitasnya terhadap konflik saat ini masih bergantung pada proses realisasi penjualan, waktu pengiriman, serta perkembangan situasi keamanan di kawasan.

Dalam eskalasi terbaru, Iran mengklaim melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara yang menjadi mitra keamanan AS di kawasan, termasuk Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Riyadh juga meningkatkan kesiagaan pertahanan udaranya untuk mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan.

Di tengah situasi tersebut, persetujuan penjualan APKWS-II dapat dipandang sebagai bagian dari upaya Washington memperkuat kemampuan pertahanan sekutunya di Teluk.

Berbiaya Rendah

Sistem Advanced Precision Kill Weapon System II (APKWS-II) merupakan kit pemandu yang mengubah roket 70 mm menjadi amunisi berpemandu presisi.

Sistem ini banyak digunakan untuk:

  • mencegat drone,
  • menyerang kendaraan ringan,
  • menghancurkan posisi peluncur rudal,
  • memberikan dukungan udara presisi dengan biaya lebih rendah dibanding rudal berpemandu konvensional.

Dalam konflik Iran-AS dan sekutunya, ancaman berupa drone kamikaze dan rudal jarak pendek menjadi salah satu tantangan utama, sehingga sistem seperti APKWS-II dinilai relevan untuk memperkuat pertahanan.

Sinyal Dukungan AS buat Arab Saudi

Selain aspek militer, persetujuan penjualan senilai hampir US$2 miliar juga mengirimkan pesan politik kalau AS tetap berkomitmen mendukung keamanan Arab Saudi di tengah memburuknya situasi kawasan.

Meski demikian, Departemen Luar Negeri AS menegaskan penjualan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengubah keseimbangan kekuatan militer di Timur Tengah, melainkan meningkatkan kemampuan pertahanan Arab Saudi dan interoperabilitas dengan militer AS.

Jika ketegangan Iran dengan negara-negara Teluk terus meningkat, penguatan persenjataan negara-negara mitra AS berpotensi memicu respons dari Teheran dan mempercepat perlombaan senjata di kawasan.

Di sisi lain, Washington berargumen bahwa peningkatan kapasitas pertahanan sekutunya diperlukan untuk menjaga keamanan jalur energi dan pelayaran di Teluk, terutama setelah eskalasi di sekitar Selat Hormuz.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.