DENTING palu memecah pagi di sebuah bengkel sederhana di Jalan Trem, Kota Pangkalpinang.
Irama logam yang saling beradu seolah menolak diam, menyuarakan kisah tentang sebuah tradisi yang masih bertahan di tengah derasnya arus teknologi.
Di sudut bengkel yang dinding dan atapnya dihitamkan jelaga, bara api terus menari di dalam tungku, seakan enggan membiarkan warisan puluhan tahun itu padam.
Di tempat itulah Munzal (55) menjaga napas usaha pandai besi yang telah diwariskan keluarganya sejak 1970.
Sesekali percikan api melompat dari besi yang membara ketika palu menghantam permukaannya.
Di balik suara yang menggema itu, Munzal duduk mengawasi anak dan keponakannya yang sedang menempa sebilah pisau.
Tangannya tak sekuat dulu, tetapi matanya masih tajam memastikan setiap bilah besi lahir dengan kualitas terbaik.
Usaha itu bukan sekadar tempat mencari nafkah. Bengkel sederhana tersebut telah menjadi saksi perjalanan hidup Munzal sejak muda.
Setelah lulus dari SMK jurusan Teknik Mesin, ia memilih tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Keputusan itu diambil bukan karena kehilangan mimpi, melainkan karena ingin menjaga mimpi yang telah lebih dulu dibangun kedua orang tuanya.
“Setelah lulus sekolah saya memang tidak ada keinginan untuk kuliah. Orang tua juga sudah tua, jadi saya memilih membantu mereka meneruskan usaha ini,” kata Munzal di tempat usahanya di Jalan Trem, Kecamatan Pasir Putih, Kota Pangkalpinang, Kamis (16/7).
Sejak saat itu, suara palu menjadi bagian dari kesehariannya.
Setiap hari, bersama anak dan keponakannya, Munzal membuat berbagai peralatan pertanian, mulai dari parang, pisau, cangkul, kedik, dodos, hingga alat penyadap getah karet.
Bengkel kecil itu mampu melahirkan sekitar 10 produk setiap hari, tergantung banyaknya pesanan yang datang.
“Sehari rata-rata bisa produksi 10 produk, kalau ada orang mesan kami akan mendahulukan pesanan,” ucapnya.
Di balik setiap bilah parang yang tajam, terdapat proses panjang yang sepenuhnya mengandalkan keterampilan tangan. Besi bekas yang dibeli dari pemulung dan pemasok langganan dipilih dengan cermat.
Tidak semua logam layak ditempa. Material yang mengandung baja, seperti rangka bangunan atau bagian kendaraan, menjadi pilihan utama agar hasilnya tetap kuat dan tahan lama.
Setelah dipanaskan di dalam tungku berbahan bakar arang hingga berpijar kemerahan, besi ditempa berulang kali mengikuti bentuk yang diinginkan.
Bara api seolah memeluk logam dingin hingga lunak, sementara palu berbicara lewat setiap hentakannya.
Setelah dibentuk, besi disepuh, kemudian diasah menggunakan gerinda hingga siap digunakan.
Untuk menghasilkan satu bilah parang atau pisau, Munzal membutuhkan waktu sekitar satu jam.
Meski sejumlah peralatan modern telah membantu pekerjaan, keterampilan menempa tetap tidak bisa digantikan mesin.
Dulu, seluruh proses pengasahan dilakukan menggunakan kikir, sedangkan pembakaran hanya mengandalkan hembusan manual. Kini gerinda mempercepat proses mengasah, sementara blower menjaga bara tetap menyala.
Namun, tangan manusia tetap menjadi penentu lahirnya kualitas.
Usaha yang telah bertahan lebih dari lima dekade itu justru nyaris tak tersentuh dunia digital. Munzal tidak pernah mempromosikan produknya melalui media sosial.
Pelanggan datang karena kepercayaan yang diwariskan dari satu orang kepada orang lainnya.
Kepercayaan itulah yang selama puluhan tahun menjadi iklan paling ampuh bagi bengkel pandai besi di Jalan Trem. Namun mempertahankan usaha tradisional bukan perkara mudah.
Ketersediaan bahan baku berkualitas menjadi tantangan yang terus menghampiri. Tidak semua besi dapat digunakan, sementara arang untuk tungku pembakaran harus didatangkan dari Jambi karena kualitas arang lokal dinilai kurang baik dan pasokannya sering tidak mencukupi.
“Kadang arangnya habis, jadi pembuatan produk tertunda,” ucap Munzal sambil tertawa kecil.
Perubahan ekonomi juga ikut menentukan ramai atau sepinya pesanan. Sebagian besar pelanggan Munzal merupakan petani.
Ketika harga karet dan sawit membaik, aktivitas pertanian kembali bergairah, begitu pula permintaan terhadap alat-alat pertanian hasil tempaan tangannya.
“Kalo karet mahal, sawit mahal, kan orang-orang pasti banyak yang kembali bertani dan membeli alat-alat pertanian,” ungkapnya.
Dalam sehari, bengkel itu rata-rata menghasilkan pendapatan sekitar Rp500 ribu. Namun angka tersebut bisa turun drastis ketika pembeli sepi atau bahan baku sulit diperoleh.
Meski zaman terus bergerak dan alat-alat modern perlahan mengambil alih pekerjaan manusia, Munzal tetap setia menjaga nyala tungku warisan keluarganya.
Baginya, setiap denting palu bukan hanya bunyi besi yang ditempa, melainkan suara yang mengingatkan bahwa sebuah tradisi masih hidup.
“Harapan saya semoga usaha ini tetap bertahan dan bisa terus meningkatkan ekonomi di tengah kondisi ekonomi yang naik turun,” tuturnya. (Sumanti/Salsabila Hadi Rahmadani)