SURYAMALANG.COM, NGANJUK - Anak angkat dan kekasihnya tega menghabisi nyawa ayah di Kabupaten Nganjuk.
Korban adalah Gatot Tri Wahyu Widodo (53), dihabisi nyawanya oleh DM (19) yang merupakan anak angkat dari korban.
Wakapolres Nganjuk, Kompol Didid Wahyu Agustyawan mengatakan, dalam pemeriksaan, DM mengaku mendapat pola asuh keras, baik secara fisik dan verbal dari sang ayah.
Emosi makin memuncak tatkala DM mengetahui jika dirinya merupakan anak angkat.
"Kondisi itu diduga menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi perbuatan tersangka DM," katanya kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (16/7/2026).
Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP Sukaca melanjutkan, tersangka NJS (28) warga Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, kekasih DM, ikut terlibat dalam kasus ini.
Baca juga: Cinta Segitiga Rebutan Janda di Lumajang, Samurai Melayang Memicu Pertumpahan Darah
Hal yang mendasari NJS turut serta karena hubungannya dengan DM tak direstui.
Alasannya, perbedaan kasta finansial. Keluarga DM menilai ekonomi NJS kurang mampu.
Selain itu, NJS dijanjikan DM mendapatkan sejumlah uang setelah melakukan tindak kejahatan tersebut.
"Iming-iming itu diterima NJS. Sebab NJS sedang menghadapi tekanan ekonomi akibat keluarganya terlilit utang," sebutnya.
DM dan NJS diamankan Satreskrim Polres Nganjuk di Jalan Jenderal S. Parman, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Kamis (16/7/2026) pukul 01.00 WIB.
DM dan NJS sempat melarikan diri ke sejumlah tempat, termasuk Pasuruan, pasca membunuh Gatot.
DM dan NJS begitu sadis menghabisi nyawa Gatot Tri Wahyu Widodo (53) warga Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.
Gatot menghadapi serangan bertubi dari DM dengan menggunakan benda tumpul serta senjata tajam.
Bukan hanya itu, kedua tersangka mengubur jasad korban di pekarangan samping rumahnya.
DM merupakan anak angkat korban. Sedangkan NJS warga Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, kekasih DM.
Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP Sukaca mengatakan, tersangka memiliki peran masing-masing saat melancarkan aksi keji tersebut.
DM berperan membekap mulut korban dari belakang dalam posisi berdiri.
Kemudian, NJS berdiri di hadapan korban sembari menjegalnya.
Tubuh korban pun terhempas ke lantai.
"Tatkala terjatuh, korban sempat memberikan perlawanan ke NJS," katanya.
Karena menderita penyakit paru-paru, korban kalah kekuatan.
Tubuh korban lemas dengan posisi telentang.
"Saat kondisi telentang kaki korban ipegang NJS. DM menyiapkan alat bantu palu," jelasnya.
Setelahnya, DM menghujamkan palu tersebut ke arah kepala Gatot sebanyak tiga kali.
Tak berhenti di situ, DM kembali mengambil sebilah pisau.
"DM menikam bagian perut korban sebanyak sekali. DM meneruskan serangan. Dia langsung menggorok leher korban," ucapnya.
Peristiwa pembunuhan ini berlangsung Senin (13/7/2026) sekira pukul 15.00 WIB.
Menurut keterangan warga yang mengecek rumah korban, mereka melihat bercak darah di ruang belakang dekat kamar mandi.
Penghabisan nyawa Gatot ditengarai dilakukan di lokasi itu.
Berselang waktu, pukul 19.00 WIB, tersangka mengubur korban di pekarangan samping rumah.
Tersangka NJS mengeduk tanah menggunakan sebuah cangkul.
Tersangka menggali tanah tak terlalu dalam, perkiraannya kurang dari 1,5 meter-2 meter. Sehingga bau menyengat terhirup tetangga sekitar.
Di atas gundukan kuburan, tertata rapi genting dan batang pohon pisang.
"Kematian disebabkan urat nadi yang terputus di leher. Luka fatalnya di leher," ujarnya.
Baca juga: Musala di Desa Baron Nganjuk Dilalap Api, Diduga Gegara Aktivitas Bakar-bakar Sampah