TRIBUNNEWS.COM - Pihak TNI AD menyampaikan perkembangan terbaru terkait ledakan di Gudang Pusat Amunisi (Gupusmu) TNI di wilayah Madiun, Jawa Timur, Kamis (16/7/2026).
Gudang Pusat Munisi tersebut, terletak di Jalan Raya Madiun-Surabaya, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun.
Lokasi kejadian di area Saradan dengan pusat kota di Madiun berjarak 27 Kilometer atau 42 menit jika menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor.
Pada Kamis pagi tadi, telah terjadi ledakan di Gupusmu TNI Madiun yang mengakibatkan satu personel TNI meninggal dunia dan enam lainnya luka.
Dari total korban luka, empat di antaranya mengalami luka berat dan dua orang luka ringan.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (AD), Brigjen TNI Donny Pramono, menjelaskan awal mula insiden terjadi.
"Insiden terjadi saat personil sedang melaksanakan prosedur pemeriksaan dan perawatan materil munisi di salah satu gudang penyimpanan," ucapnya dalam keterangan pers di hadapan awak media, Kamis petang.
"Dalam insiden tersebut, satu orang personil dinyatakan meninggal dunia. Kemudian empat orang mengalami luka berat dan dua orang lainnya mengalami luka ringan," imbuhnya.
Setelah kejadian, kata Donny, para korban dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Caruban, Kecamatan Mejayan, Madiun. Tak jauh dari lokasi ledakan, kurang lebih 8,5 kilometer atau sekitar 15 menit dari Saradan.
Pantauan Tribunnews Solo dari tayangan video di kanal YouTube Tribunnews pada Kamis ini, terlihat sejumlah personel TNI aktif berlalu lalang di sekitar RSUD Caruban.
Mereka berjaga di sekitar ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Baca juga: TNI AD Kirim Tim Investigasi dari Jakarta Ke Gudang Munisi yang Meledak di Madiun
Saat ini, pihak TNI AD telah mengambil langkah-langkah penanganan awal dengan memberikan perhatian dan pendampingan penuh terhadap korban.
TNI AD telah berkoordinasi dengan rumah sakit, serta memberikan dan membentuk tim tim investigasi.
Tim Investigasi dibentuk untuk melakukan pendalaman dan investigasi secara menyeluruh.
"Guna mengetahui secara pasti kronologis maupun penyebab insiden tersebut," jelas Donny.
Ia memastikan, proses investigasi akan dilakukan secara profesional, objektif dan menyeluruh agar setiap fakta yang diperoleh nantinya dapat dipertanggungjawabkan.
"Tim investigasi sudah dibentuk dan sore hari ini juga sudah berangkat menuju ke tempat kejadian," jelas Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat tersebut,
Terkait kronologi lengkap dan penyebab detailnya, Donny meminta awak media untuk menunggu perkembangan selanjutnya.
Selain di Madiun, ledakan amunisi pernah terjadi pada tahun 2025.
Saat itu, ledakan amunisi kadaluwarsa terjadi sekitar di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada Senin (12/5/2025) pagi.
Sebanyak empat prajurit TNI AD dan 9 warga sipil tewas dalam insiden pemusnahan bahan peledak afkir.
Keempat prajurit yang tewas dalam insiden tersebut, adalah Kepala Gudang Pusat Amunisi III Pusat Peralatan TNI AD Kolonel Cpl Antonius Hirmawan, Kepala Seksi Administrasi Pergudangan Gudang Pusat Amunisi III Pusat Peralatan TNI AD Mayor Cpl Anda Rohanda, dan dua orang anggota Gudang Pusat Amunisi III Pusat Peralatan TNI AD yaitu Kopda Eri Priambodo dan Pratu Apriu Seriawan.
Kemudian, sembilan warga sipil yang tewas masing-masing atas nama Agus, Ipan, Anwar, Iyus, Iyusrizal, Toto, Rusdiawan, Dadang, dan Endang.
Berdasarkan hasil penyelidikan, TNI menemukan fakta yang didapatkan tim investigasi TNI AD, yakni adanya serpihan ponsel di sekitar lokasi ledakan.
"Ditemukan juga serpihan-serpihan handphone (ponsel)," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana, pada Senin (26/5/2025), dilansir TribunJabar.id.
Ia menjelaskan, temuan tersebut juga menjadi bahan analisa oleh laboratorium.
Gelombang elektromagnetik yang disebabkan oleh ponsel diduga menyebabkan arus listrik yang menjadi pemicu ledakan.
Baca juga: Dampak Ledakan Gudang Amunisi TNI di Madiun, Satu Prajurit Gugur, 6 Luka-luka
Kemudian, faktor lain diduga menyebabkan ledakan yang menewaskan empat prajurit TNI AD dan sembilan warga sipil itu.
Selain itu, insiden lainnya juga pernah terjadi Gudang Munisi Daerah Paldam (Gudang Amunisi Daerah Peralatan TNI Angkatan Darat Kodam) Jaya, Ciangsana, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/3/2024).
Saat itu, sebanyak 65 ton amunisi hangus dalam kebakaran akibat ledakan yang terjadi di Gudang Munisi Daerah Paldam, Bogor.
Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, mengatakan amunisi yang meledak dalam kebakaran berjenis MKK (munisi kaliber kecil) dan MKB (munisi kaliber besar).
"Sebanyak 65 ton amunisi itu sebelumnya berasal dari satuan-satuan di bawah Kodam Jaya," kata Agus.
Sesuai prosedur, amunisi yang sudah tak terpakai harus disimpan sementara ke dalam gudang untuk nantinya akan dilakukan disposal.
(Tribunnews.com/Suci Bangun DS, TribunJabar.id)