Oleh: Iman Ahmadi SPd I *)
Tidak banyak negara memperoleh kesempatan untuk menikmati bonus demografi. Indonesia termasuk salah satunya.
Pada periode ini, jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan usia nonproduktif.
Kondisi tersebut menghadirkan peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat daya saing bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, bonus demografi bukanlah jaminan keberhasilan. Ia hanya menyediakan peluang.
Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan negara dan pemerintah daerah dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sehat, berpendidikan, terampil, berkarakter, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Tanpa investasi pada manusia, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban berupa pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, hingga meningkatnya kesenjangan sosial.
Di sinilah pembangunan desa menemukan relevansinya.
Selama ini pembangunan sering dipusatkan pada kota, padahal sebagian besar potensi Indonesia berada di desa.
Desa memiliki sumber daya alam, modal sosial, budaya gotong royong, dan generasi muda yang apabila dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan besar bagi pembangunan nasional.
Pembangunan desa pada era bonus demografi tidak lagi cukup berorientasi pada pembangunan fisik.
Jalan, jembatan, dan gedung memang penting, tetapi pembangunan manusia jauh lebih menentukan.
Pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan yang baik, pencegahan stunting, literasi digital, pengembangan keterampilan kerja, serta penguatan karakter generasi muda harus menjadi prioritas utama.
Generasi muda desa juga harus dipersiapkan menjadi pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja.
Pertanian modern, ekonomi kreatif, pariwisata berbasis masyarakat, digitalisasi UMKM, dan ekonomi sirkular merupakan sektor-sektor yang mampu membuka peluang usaha baru.
Pemerintah desa perlu menjadi fasilitator yang mempertemukan masyarakat dengan dunia pendidikan, dunia usaha, dan teknologi.
Sebagai Reje Kampung Keramat Mupakat, saya meyakini bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Penguatan ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, digitalisasi pelayanan publik, pemberdayaan pemuda, serta pengembangan ekonomi lokal merupakan ikhtiar nyata untuk menyiapkan masyarakat menghadapi bonus demografi.
Desa harus menjadi ruang tumbuhnya inovasi, bukan sekadar penerima program pembangunan.
Bonus demografi juga membutuhkan kepemimpinan yang mampu membangun kolaborasi. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri.
Perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, komunitas pemuda, dan seluruh elemen masyarakat harus berjalan dalam satu visi.
Kolaborasi menjadi kunci agar setiap potensi dapat berkembang secara optimal.
Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang kualitas manusia Indonesia.
Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu menciptakan generasi yang sehat, cerdas, berintegritas, produktif, dan peduli terhadap lingkungan.
Karena itu, investasi terbesar yang harus dilakukan hari ini adalah investasi pada manusia.
Bonus demografi adalah kesempatan yang tidak datang dua kali. Jika mampu memanfaatkannya, Indonesia akan menjadi negara maju dengan daya saing global.
Namun, jika kesempatan ini terlewat, kita akan mewariskan persoalan yang jauh lebih besar kepada generasi berikutnya.
Sudah saatnya pembangunan Indonesia dimulai dari desa.
Ketika desa maju, masyarakat sejahtera, dan generasi mudanya unggul.
Maka cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah keniscayaan yang dapat diwujudkan bersama.
*) Penulis adalah Reje Kampung Keramat Mupakat, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Baca juga: Pemerintah Kampung Keramat Mupakat Resmi Bentuk Tim 11 Penyusun RKPK 2027
Baca juga: Kampung Keramat Mupakat Perkuat Pengamanan lingkungan, Cegah Pelanggaran Syariat